Wajik Ketan Gula Merah Camilan Tradisional Nan Merekatkan

190

LAMPUNG — Wajik ketan, makanan tradisional yang terbuat dari bahan baku beras ketan kerap disajikan oleh masyarakat suku Jawa dalam acara-acara istimewa. Selain itu juga sering disajikan dalam acara arisan kaum ibu yang dipadukan dengan menu camilan lain.

Suyatinah (59) warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan yang biasa membuat wajik ketan menyebutkan, camilan tradisional tersebut selain memiliki bentuk yang unik juga memiliki cita rasa khas.

“Wajik ketan gula merah kerap selalu disajikan saat acara hajatan pernikahan atau acara khusus karena bahan bahan pembuatannya mudah diperoleh tanpa harus membeli di pasar terutama di wilayah pedesaan yang masih kerap menanam padi ketan,” ungkap Suyatinah saat melakukan proses pembuatan kue tradisional wajik ketan gula merah, Sabtu sore (13/1/2018).

Ia menyebut filosofi pembuatan makanan berbahan ketan dalam tradisi masyarakat Jawa, ketan yang memiliki sifat lengket, “raketan” atau mempererat menyimbolkan semangat memperat persaudaraan sehingga kue-kue berbahan ketan kerap dibuat dalam hajatan atau acara tradisional suku jawa meski sudah merantau atau pindah ke daerah lain.

Proses pembuatan wajik ketan gula merah cukup sederhana, yakni bahan beras ketan sebanyak satu kilogram. Sebelum dibuat, beras ketan dibersihkan dengan air bersih mengalir dan direndam selama semalaman. Bahan bahan lain yang diperlukan di antaranya berupa santan kelapa, garam, daun pandan.

Beras ketan putih yang sudah direndam selanjutnya ditiriskan dan dikukus dalam dandang. Proses pengukusan ketan tersebut juga disertai dengan penyiraman air panas agar ketan lebih cepat “tanak” atau matang. Proses pengukusan terus dilakukan hingga ketan matang sembari menyiapkan bahan campuran yang dimasak dalam wadah tersendiri.

Proses penyiapan bahan campuran disebutnya berupa santan, garam, pandan, jahe yang dimemarkan hingga mendidih dan wangi. Setelah matang semua bahan tersebut disaring dan dimasak hingga menjadi cairan kental.

Setelah semua bahan siap ketan putih yang sudah matang diampurkan dalam cairan kental dengan dominan warna gula merah yang terserap dalam ketan dan beraroma wangi daun pandan.

“Setelah tercampur dengan warna ketan putih sudah berubah menjadi merah proses pengukusan kembali dilakukan hingga ketan berubah menjadi merah gula,” jelasnya.

Wajik yang selesai dikukus selanjutnya dipotong membentuk jajaran genjang siap disajikan [Foto: Henk Widi]
Setelah matang, ketan yang sudah berubah warna dituangkan dalam cetakan khusus mempergunakan nampan dengan diberi alas plastik. Alas plastik berfungsi sebagai cetakan agar mudah dibentuk dan proses pencetakan dilakukan dengan ditekan hingga padat.

“Wajik akan terasa nikmat setelah dicetak kecil kecil dan disajikan dalam kondisi hangat terutama dengan adanya jahe akan menambah sensasi hangat saat disantap,” terang Suyatinah.

Wajik ketan gula merah yang merupakan makanan tradisional tersebut akan semakin mantap disajikan dalam piring beralaskan daun pisang muda.

Santi, salah satu keluarga yang mencicip wajik ketan gula merah dalam kondisi hangat menyebut dominasi rasa gula dan rasa hangat jahe terasa kental di lidah.

Selain itu dengan adanya aroma daun pandan membuat kue tradisional tersebut memiliki sensasi wangi yang menggugah selera.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.