banner lebaran

Yusuf Susilo: ASaTI Berjuang untuk Hidupkan Tari Indonesia

129

JAKARTA — ASaTI (Asosiasi Seniman Tari Indonesia) terbentuk dari kegelisahan para penari yang melihat belum ada asosiasi yang khusus untuk tari. Kehadirannya sangat diperlukan, mengingat DNA Indonesia itu seni budaya, tapi tidak menjadi prioritas yang penting dalam pemerintahannya.

“UNESCO pada November lalu sudah menyatakan Indonesia super power kebudayaan dunia. Jokowi pun mengatakan bahwa DNA Indonesia itu seni budaya, tapi seni budaya itu tidak menjadi prioritas yang penting dalam pemerintahannya. Sungguh itu kontradiksi sekali, “ kata wartawan dan budayawan Yusuf Susilo Hartono mengawali pemaparannya sebagai pembicara dalam acara perkenalan ASaTI dan diskusi ‘Tari Indonesia Menyongsong Dunia’ di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/1/2018).

Menurut lelaki kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 18 Maret 1958, ASaTI hadir untuk merawat, mengembangkan, memanfaatkan dan melindungi daya kreatif individu dan kelompok.

“Daya kreatif menjadi salah satu kunci,” ungkapnya.

Yusuf menggunakan sudut pandang, bahwa kebudayaan itu adalah perjumpaan pertempuran antara kehendak dan tantangan terus-menerus yang memunculkan jawaban-jawaban baru untuk menjawab tantangan yang ada.

“Seperti yang kita tahu belakangan ini bahwa sumber daya alam krisis. Maka dari itu Inggris mempelopori industri kreatif atau ekonomi kreatif. Jadi hari ini yang menajadi panglima itu adalah imajinasi yang menjadi ladang sumber karya yang akan bisa terus-menerus digali dan bisa terbarukan. Kalau sumber daya alam tak terbarukan, sedangkan imajinasi itu terbarukan. Itulah PR dari ASaTI sehingga merawat dan memberdayakan daya kreatif imajinasi itu suatu hal yang pokok, “ paparnya.

Foto bersama pembicara dan peserta diskusi Tari Indonesia Menyongsong Dunia (Foto Akhmad Sekhu)

Yusuf mengharapkan ASaTI dapat merawat dan mengembangkan eksistem dunia tari, tidak saja pencipta tari atau penarinya, tapi juga hal-hal lain yang menjadi ekosistem dunia tari itu sendiri.

“Tidak mungkin kita berkembang kalau ekosistemnya rusak, HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) menjadi salah satu bagian dari ekosistem itu. Sehingga dengan hal itu maka daya kreatif harus di-suport dengan ekosistem dunia tari yang kondusif, Itulah PR yang harus dikerjakan ASaTI, “ bebernya.

“Warisan kebudayaan kita sangat kaya. Tapi definisinya selalu mengambil sesuatu dari luar, bukan dari dalam kita sendiri. Semua referensinya dari luar,” tambahnya.

Jejak kreatif sesungguhnya menjadi masalah dalam dunia tari. Kalau penyair itu jejak kreatifnya puisi. Kemudian, pelukis jejak kreatifnya lukisan. Tapi kalau penari jejak kreatifnya adalah apa yang di panggung, tapi begitu panggung selesai dokumentasinya yang jalan.

“Seniman kita lemah dalam dokumentasi, yang tidak hanya lemah dalam dokumentasi karya, tapi juga pemikiran dan proses kreatif. Maka dari itu perlu adanya museum tari atau museum seni pertunjukan, “ tegasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.