Adik Pak Harto, Saksi Kejamnya Belanda di Kemusuk

Editor: Koko Triarko

1.515

YOGYAKARTA – Peristiwa serangan membabi-buta yang dilancarkan tentara Belanda ke dusun kelahiran Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto (Pak Harto),  Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, pada masa Agresi Militer Belanda II, menyisakan cerita getir bagi Ny. Soeharjo Soebardi yang bernama kecil Noek Bressinah.

Saudara seayah seibu dari Probosutedjo, sekaligus saudara seibu dari Presiden Soeharto, ini masih ingat betul bagaimana peristiwa berdarah itu terjadi hingga membuatnya menjadi anak yatim-piatu.

“Saat itu, saya masih umur sekitar 5-6 tahun. Saya hanya ingat dipamiti oleh Bapak (alm. Atmoprawiro) kalau mau pergi. Dan, dia lalu pergi. Tapi, ternyata tahu-tahu orang-orang di rumah pada nangis. Waktu itu, saya tidak tahu kenapa,” katanya.

Ny. Soeharjo baru tahu belakangan, kalau ternyata sang ayah ditembak oleh tentara Belanda. “Dari jarak 10 meter di kepala hingga meninggal”, lanjutnya sambil meneteskan air mata.

Baca: TNI-POLRI dan Warga Gelar Upacara di Makam Somenggalan-Kemusuk

Alm. Atmoprawiro yang merupakan ayah dari Ny. Soeharjo, sekaligus ayah dari Probosutedjo, merupakan satu dari ratusan warga dusun Kemusuk yang gugur dalam upaya melindungi Komandan Pasukan Wehrkreise III Yogyakarta, Letkol Soeharto, yang tak lain adalah Presiden Soeharto, dari incaran tentara Belanda.

Para warga dusun Kemusuk dieksekusi dan puluhan rumahnya dibakar, karena tentara Belanda marah, setelah mereka tidak memberitahukan keberadaan Letkol Soeharto, pimpinan tentara pejuang RI yang tak henti melancarkan serangan pada Belanda.

“Waktu itu, saya belum benar-benar paham, karena masih umur 5-6 tahun. Tapi, saya diberi tahu kalau katanya, (dieksekusi) karena menutupi keberadaan Pak Harto saat diinterogasi tentara Belanda,” kata Ny. Soeharjo.

Akibat gugurnya Atmoprawiro, Ny. Soeharjo menjadi anak yatim-piatu di umur masih sangat kecil, yakni 6 tahun. Hal itu terjadi karena ia telah ditinggal pergi oleh sang ibu, yang juga merupakan ibu dari Pak Harto, yakni Soekirah, sejak umur 2 tahun.

“Sejak saat itu, saya lalu diambil (diasuh) sendiri oleh Pak Harto dan Ibu Tien. Dijemput langsung ke Kemusuk. Karena dia merupakan satu-satunya kakak yang sudah mentas (mandiri). Saya ikut (Pak Harto) sampai saya menikah tahun 1966,” katanya.

Meski telah ditinggal kedua orang tuanya sejak umur 6 tahun, Ny. Soeharjo mengaku senang bisa hidup bersama kakaknya, Soeharto. Ia bahkan mengaku mendapatkan banyak pelajaran berkat didikan Pak Harto yang berkarier di militer.

“Ya, senang, karena ikut kakak sendiri. Apalagi, mendapatkan didikan sedemikian rupa. Didikan tentara tahu sendiri seperti apa. Tapi, alhamdulillah, saya bersyukur, kalau tidak ikut dan dididik (Pak Harto) saya tidak tahu akan jadi apa,” katanya.

Pada momen peringatan Serangan Umum 1 Maret ini, pun Ny Soeharjo berharap setiap generasi muda dapat meneruskan perjuangan para pejuang di masa itu. Karena perjuangan saat itu benar-benar dilakukan dengan penuh pengorbanan.

“Saya berharap, generasi muda dapat meneruskan perjuangan. Dengan cara mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif. Yakni, untuk menjaga NKRI seutuh-utuhnya,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...