Alat Buatan Mahasiswa FTP UB, Perpanjang Umur Simpan Buah

Editor: Koko Triarko

175

MALANG – Kurangnya perhatian para pelaku industri pertanian pada aspek mutu dan keamanan pangan, mengakibatkan terkendalanya pemasaran produk hasil pertanian, terutama buah komoditas ekspor Indonesia.

Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), menciptakan alat ‘Oozter’ yang berfungsi untuk memperpanjang umur simpan buah.

Kelima mahasiswa tersebut, yakni Dimas Triardianto, Singgih Mahardika, Bagus Wiznu, Casilda Aulia dan Faidiatul Andika.

Ketua kelompok, Dimas, mengatakan, bahwa dari data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang diperoleh, ternyata banyak buah-buah di Indonesia yang sebetulnya bermutu baik, namun punya daya simpan yang pendek sehingga mudah busuk.

Selain itu, penggunaan sanitizer kimia yang tidak terkontrol dapat menyisakan residu pada buah yang pada akhirnya akan berdampak tidak baik bagi manusia. “Tapi, dengan alat Oozter ini, masa simpan buah bisa lebih lama sekaligus mampu membersihkan residu pestisida dan membunuh bakteri yang berbahaya, “jelasnya.

Anggota lainnya, Faidiatul, menyampaiakan, bahwa alat Ooster  dikerjakan mulai November 2017 hingga akhir bulan Januari 2018, dengan total biaya sebesar Rp3 juta.

Faidiatul juga menambahkan, bahwa sebenarnya Ooster bisa juga digunakan untuk sayur dan daging. Hanya saja saat ini kelompoknya lebih memfokuskan untuk menguji daya simpan buah tomat dan strawbery.

“Dari hasil pengujian Ooster menggunakan buah tomat dan strawbery, ternyata dua jenis buah tersebut masih bertahan kesegarannya hingga hari ke-20 di suhu ruang, “sebutnya.

Lebih lanjut, Faidiatul mengatakan, cara kerja Ooster sebenarnya cukup sederhana dan cukup singkat. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memasukkan buah ke dalam ruang pencucian yang sebelumnya sudah diisi air selama 10 menit. Kemudian nyalakan mesin Ooster untuk mengalirkan ozon dari alat tersebut ke ruang pencucian.

“Dalam proses ini, buah akan tercuci dengan air ozon, di mana pemaparan ozon ini berfungsi untuk sterilisasi buah dari bakteri-bakteri yang tidak baik serta membersihkan sisa residu pestisida,” ungkapnya.

Setelah buah disterilisasi, kemudian buah dimasukkan ke dalam coating room untuk melapisi buah dengan menggunakan polisakarida, yakni kitosan yang terbuat dari pati yang telah dilarutkan dengan aquades. Tujuan pelapisan ini agar mikroba tidak masuk lagi ke dalam buah dan laju respirasinya juga bisa dihambat, karena oksigennya terhambat oleh lapisan coating, sehingga memungkinkan buah bisa bertahan lebih lama.

“Kami berharap, dengan adanya Ooster mampu membantu masyarakat, industri buah dan juga pemerintah untuk dapat menghasilkan buah dengan kualitas mutu yang terjaga dan tahan lama,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.