Anjungan Sumatera Barat TMII Pelepas Rindu pada Kampung Halaman

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

743

JAKARTA — Anjungan Sumatera Barat terletak di Selatan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Posisinya sangat strategis, menghadap danau miniatur arsipel Indonesia.

Bangunan utama anjungan ini adalah Rumah Gadang, merupakan reflika dari Rumah Gadang Koto Piliang atau Garudo Tabang. Atau dari Lunak Tanah Datar yang dinamakan Gajah Mataram. Bangunan ini dibuat menghadap ke Selatan.

“Rumah Gadang adalah simbol dari ikatan kekerabatan dalam kaum Minangkabau. Rumah ini juga berfungsi untuk kegiatan sosial. Nah hadirnya di TMII, untuk promosi seni budaya Sumatera Barat,” kata Staf Promosi Anjungan Sumatera Barat TMII, Leni Febriani kepada Cendana News, ditemui pada Minggu (4/2/2018).

Lebih lanjut Leni menjelaskan, bangunan Rumah Gadang ini sejatinya berdiri di atas tiang kayu setinggi 6 hingga 7 meter diatas permukaan tanah. Tiangnya dibuat seolah-olah melengkung ke luar sehingga terlihat ramping.

Namun, jelas dia, kehadiran Rumah Gadang di TMII, kolong bawahnya diubah menjadi ruangan perkantoran pengelolaan anjungan. Sedangkan ruangan di lantai atas dipakai untuk memperkenalkan berbagai pameran aspek tradisi seni dan budaya Sumatera Barat.

Seperti halnya sebut Leni, tampilan ragam busana adat, kain songket silungkang, pelaminan pengantin Padang Pariaman, peralatan musik tradisional Telempong, miniatur rumah adat sikek (sisir) pengolah sawah, ragam asesoris kerajinan perunggu, dan lainnya.

Di lantai ini juga tersaji struktur pemerintahan Kerajaan Pagaruyung, zaman dahulu yang dikenal dengan nama Rajo Tigo Selo dan Basa Ampek Balai.

“Raja Tigo Selo menjelaskan tiga fungsi raja, yakni raja alam, raja adat, dan ibadat. Nah, kalau Basa Ampek Balai adalah para pembantu raja,” ujar Leni.

Para pembantu raja itu sebut dia, antara lain Tuan Kadi atau menteri agama, Andomo atau menteri keuangan, dan Jabatan Tuan Gadang atau menteri pertahanan.

Menariknya lagi, lanjutnya, cerminan demokrasi terlihat adanya jabatan wakil rakyat. Yakni yang disebut Datuak Bandaro Kuniang, yang bertempat di Limo Kaum.

Di ruangan ini keunikan terlihat nyata, karena para pejabat tampil dalam bentuk boneka-boneka berpakaian tradisional. Busana tradisional yang dikenakan dominan berwarna kuning, putih, hitam, dan merah.

Di arean anjungan Sumatera Barat TMII, juga terdapat sebuah bangunan Balairung. Rumah ini aslinya, kata Leni, dihuni oleh keluarga besar yang dikepalai oleh seorang Ninik Mamak yang bergelar Datuak.

“Balairung ini merupakan tempat musyawarah para Ninik Mamak. Tapi di TMII, Balairung digunakan untuk memamerkan seni budaya dan aktivitas kesenian Sumatera Barat,” jelas Leni.

Menurutnya, Balairung ini tidak pernah sepi dari aktivitas kesenian adat Sumatera Barat. Tampilan seni budaya Minang tak hanya disukai warga aslinya, tapi juga dari daerah lain. Terbukti kata Leni, sepanjang 2017 program kesenian sukses ditampilkan di anjungan ini. Seperti, lomba lagu minang, peragaan upacara adat, parade tari Minang, mahoyak tabuik, hingga pameran UMKM dan kuliner.

Leni juga berharap sinergi dengan managemen TMII dalam ragam event seni budaya lebih ditingkatkan lagi di tahun 2018 ini. Apa pun program kesenian TMII, anjungan Sumatera Barat siap mendukung.

Dia menjelaskan lagi, di area anjungan ini juga terdapat panggung untuk gelaran seni budaya Sumatera Barat, tepat di sebelah kanan Rumah Gadang. Sedangkan sebelah kirinya ada mushola untuk menunaikan shalat lima waktu. Di belakang Rumah Gadang juga tampil sebuah kafetaria yang menyajikan aneka masakan Padang.

Di belakang Rumah Gadang agak ke sebelah barat terdapat sebuah bangunan bergonjong berukuran 5 x 10 meter. “Bangunan ini ruang tunggu VIP, yakni tempat para pejabat daerah dan tamu resmi yang berkunjung ke anjungan Sumatera Barat TMII,” kata Leni.

Staf Promosi Anjungan Sumatera Barat TMII, Leni Febriani. Foto: Sri Sugiarti.

Terkait surau. Dia mengatakan, bahwa pemuda Minang sejak kecil telah terbiasa hidup di surau. Ini tempat perantauannya yang pertama sebelum mereka melangkah ke tempat yang lebih jauh. Namun dimanapun mereka berada, selalu rindu kampungnya.

Mereka kerap bertandang bersama keluarganya ke anjungan Sumatera Barat TMII, hanya sekedar untuk melepas kangen dengan menyaksikan gelaran seni budaya. Di anjungan ini pula mereka bisa bertemu dengan masyarakat Minang lainnya dan saling bersenda gurau.

Anjungan ini lanjut dia, tak pernah sepi pengunjung baik domestik maupun mancanegara. Kalau hari biasa tercatat sekitar 300-an setiap harinya. Tapi dominan turis dari negara Malaysia, Jepang, Thailand, India, Thaiwan, China, Rusia, Ceko, Denmark, Rumania, dan negara Eropa.

Para turis tertarik pada keunikan bangunan Rumah Gadang dan Balairung yang berfilosofi budayanya tergambar dari warna yang dipakai dalam menghidupkan ukiran bangunan tersebut. Yaitu warna merah dan coklat yang divariasikan warna lain di setiap ukiran.

Adapun motif dasar ukiran adalah berbentuk binatang, tumbuhan, dan alam dengan variasi warna merah, coklat serta lainnya menampakkan seperti benda sebenarnya.

“Saking kagumnya mereka bilang beautiful amazing Sumatera Barat,” kata Leni menirukan ucapan para turis.

Disampaikan Leni, dari catatan dalam sebulan pengunjung domestik kisaran 10 ribu. Mereka tak hanya masyarakat Minang, tapi juga dari daerah lain. Bahkan rombongan anak sekolah kerap berkunjung ke anjungan ini dalam tugas sekolah. Begitu juga mahasiswa dari berbagai universitas berkunjung mempelajari seni budaya Sumatera Barat.

Miniatur para Datuak Bandaro Kuniang, di Rumah Gadang Anjungan Sumatera Barat TMII. Foto : Sri Sugiarti.

Sedangkan, lanjut dia, untuk pengunjung wancanegara tercatat sekitar 5000 lebih dalam sebulannya. Mereka para turis juga belajar budaya Sumatera Barat. Bahkan tak jarang setelah ke anjungan, mereka datang ke Sumatera Barat untuk melihat langsung adat istiadat dan area wisata di Ranah Minang.

“Kami bersyukur hadirnya anjungan Sumatera Barat di TMII bisa mempromosikan wahana rekresi yang ada di sana. Turis banyak tertarik untuk datang ke Sumatera Barat,” ujarnya.

Leni berharap di tahun 2018 ini jumlah pengunjung lebih meningkat baik domestik maupun manacanegara.

Baca Juga
Lihat juga...