BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kalsel Tembus 5 Persen

Editor: Koko Triarko

264
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalsel, Harymurthy Gunawan saat memberikan keterangan pers kepada awak media. -Foto: Arief Rahman

BANJARMASIN – Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan pada 2018 ini dapat mencapai 5,3 – 5,7 persen.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel, Harymurthy Gunawan, prediksi pertumbuhan ekonomi Kalsel pada 2018 ini memang diproyeksikan jauh lebih tinggi dibanding realisasi tahun 2017 lalu yang hanya mencapai 5,29 persen.

“Prediksi meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Kalsel ini cukup beralasan, karena akan didukung oleh faktor eksternal, yakni meningkatnya ekspor, sehingga dapat berimbas positif pada konsumsi rumah tangga dan investasi,” jelasnya di sela kegiatan Temu Wartawan Bulanan, Kamis (15/2/2018).

Menurutnya, komoditas ekspor yang akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Kalsel tetap sama seperti pada 2017 lalu, yakni komoditas batu bara dan CPO dengan tujuan ekspor terbesar ke negara Tiongkok dan India.

“Namun, kemungkinan besar tahun ini akan lebih banyak ke India, khususnya untuk komoditas batu bara. Hal itu mengingat kini India sedang gencar mendorong industrinya berproduksi lebih besar, utamanya komoditas baja dan semen,” ungkapnya.

Selain dipengaruhi oleh faktor eksternal, faktor internal juga dipandang bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kalsel, salah satunya momentum politik, yakni Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilu Legislatif dan Presiden.

“Biasanya, saat momen politik itu perputaran uang cukup besar untuk biaya kampanye. Nah, ini saya rasa akan sangat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi pada beberapa bisnis yang terkait politik, ujungnya tentu dapat membuat pendapatan masyarakat bisa meningkat,” tambahnya.

Walau diprediksi tumbuh, namun sejumlah tantangan tetap harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah supaya prediksi pertumbuhan ekonomi Kalsel bisa sesuai harapan, bahkan lebih.

Salah satunya terkait prediksi turunnya harga batu bara di pasar global yang di 2018 hanya berkisar 70 US Dollar per metrik ton, jauh lebih rendah dari harga di 2017 lalu yang tembus hingga 80 US Dollar per metrik ton.

“Ini perlu diantisipasi dengan berbagai kebijakan strategis, agar Kalsel geliat ekonominya tidak tergantung dengan komoditas batu bara saja. Salah satunya bisa dengan memaksimalkan sektor alternatif di bidang perkebunan, pertanian, perdagangan hingga pariwisata,” jelasnya.

Sebelumnya, Owner Ekspedisi Lintas Jawa Group Sauth, Nathan Samosir, mengakui prospek bisnis di Kalsel pada 2018 ini bisa jauh lebih menjanjikan dibanding tahun 2017 lalu.

Khusus di bisnis jasa ekspedisi, misalnya, sudah mulai terlihat sejak awal tahun ini. Biasanya jika awal tahun, barang yang diangkut dari pulau Jawa ke Banjarmasin hanya 1-2 truk fuso saja, kini meningkat menjadi 3-4 truk fuso.

“Kebanyakan pengiriman barangnya didominasi oleh jenis konveksi. Nanti kemungkinan mulai pertengahan bulan nanti akan banyak alat peraga kampanye dan bahan baku advertising, mengingat sudah memasuki tahun momentum pemilu,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.