Budidaya Bambu Warga Lereng Gunung Rajabasa, Jaga Lingkungan

Editor: Satmoko

286

LAMPUNG – Kawasan kaki dan lereng Gunung Rajabasa menjadi wilayah yang sebagian dihuni oleh masyarakat terutama di wilayah luar hutan lindung Rajabasa.

Menurut Satim, selaku Kepala Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa, wilayah tersebut selain dipergunakan sebagai pemukiman juga sebagai tempat budidaya tanaman kayu dan bambu. Tanaman bambu yang tumbuh secara alami sebagian dibudidayakan bahkan memiliki nilai ekonomis dengan kebutuhan masyarakat pesisir yang tinggi.

Kebutuhan akan bambu bagi masyarakat pesisir terutama bagi nelayan, diakui Satim, di antaranya untuk pembuatan bagan congkel, bagan apung, katir perahu, semoko atau penjemuran ikan asin hingga pagar tambak. Keberadaan bambu ikut mendukung program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dengan penggunaan bambu sebagai bahan pembuatan cor septik tank.

“Di kebun-kebun warga yang berada di lereng kaki Gunung Rajabasa bambu melimpah dan dipertahankan warga untuk menahan longsor terutama adanya batu-batu besar bisa tertahan karena adanya tanaman bambu dan kayu,” terang Satim, selaku Kepala Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (14/2/2018).

Satim, Kepala Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa dengan latar belakang tanaman bambu di kaki Gunung Rajabasa [Foto: Henk Widi]
Ia menyebut, meski berada jauh dari kawasan hutan lindung, namun masyarakat di wilayah tersebut dengan jumlah kepala keluarga mencapai 244 KK, masih mempertahankan lahan untuk konservasi. Lahan konservasi yang ditanami bambu disebutnya bisa dipanen secara tebang pilih, menyesuaikan usia tanaman dan keperluan pemesan. Nilai konservasi disebutnya telah membantu area jalan masuk desa yang kerap mengalami longsor ditambah dengan adanya talud penahan tanah.

Keberadaan tanaman bambu disebutnya memberi manfaat bagi lingkungan pencegah polusi di sepanjang jalan lingkar pesisir. Selain itu warga bisa memperoleh keuntungan karena bambu tidak memerlukan perawatan khusus bahkan tumbuh secara liar.

Satu batang bambu hitam dalam kondisi tua disebutnya dijual dengan harga Rp15.000, bambu ori untuk bahan bagan dijual Rp30.000 per batang dan jenis bambu apus dijual Rp10.000 per batang.

“Kami dorong masyarakat yang masih memiliki lahan terutama di area yang miring agar ditanami bambu penahan longsor sekaligus bernilai jual,” terang Satim.

Tanaman bambu yang sebagian dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, pembuatan jamban sehat, diakuinya ikut menghemat pengeluaran warga. Proses pembuatan jamban sehat yang dilakukan warga memanfaatkan bambu hanya mengeluarkan biaya Rp350.000 karena mengurangi penggunaan besi.

Selain bambu, sebagian warga di wilayah Kerinjing, disebut Satim memiliki kepedulian dalam menghijaukan lahan. Jenis tanaman penghijauan sekaligus investasi dan konservasi di antaranya akasia daun lebar dan sengon. Kedua jenis tanaman tersebut bisa dipanen saat usia enam hingga tujuh tahun. Selain menjaga lingkungan dan menjadi hutan kemasyarakatan, warga bisa memperoleh hasil dari kayu dengan nilai jual Rp800 ribu hingga Rp1 juta per kubik.

“Menanam dalam jumlah banyak selalu dianjurkan agar proses penebangan sistem tebang pilih lahan tidak gundul, apalagi desa kami berada di lahan miring rawan longsor,” beber Satim.

Jenis tanaman bambu dan kayu selain digunakan oleh warga, sebagian dijual keluar wilayah desa tersebut. Jenis kayu sengon dan akasia daun lebar sebagai bahan palet bahkan dikirim keluar Pulau Sumatera. Sementara jenis bambu masih banyak dipesan oleh perajin perabotan bambu lokal Lampung.

Agustono (60) pemilik galeri perabotan bambu di Desa Kelawi menyebut, dalam satu bulan ia membutuhkan sekitar 150 batang bambu. Bambu hitam berusia tua dengan ukuran 15 meter dibeli dengan harga Rp12 ribu per batang didatangkan dari Desa Kerinjing, Desa Totoharjo dan Kelawi. Ia menyebut, upaya memaksimalkan tanaman bambu bisa dilakukan dengan membuat perabotan bambu di antaranya meja, kursi dan gazebo.

Tanaman akasia daun lebar ditanam warga di lereng kaki Gunung Rajabasa sebagai penahan longsor [Foto: Henk Widi]
Keberadaan bambu yang masih melimpah di wilayah Rajabasa dan Bakauheni, selain memiliki manfaat lingkungan disebutnya bisa memberi penghasilan. Satu set perabotan dengan nilai Rp250 ribu hingga Rp1 juta disebutnya memberi penghasilan minimal hingga Rp3,5 juta per bulan. Bahan baku bambu yang tidak harus didatangkan dari jauh memberinya keuntungan dengan adanya warga yang masih mempertahankan bambu.

“Selain saya ada perajin lain yang khusus membuat jemuran ikan asin berbahan bambu,” bebernya.

Selain bambu kayu akasia daun lebar sebagai pengisi kolom bambu juga disebutnya dipergunakan memperkuat furnitur bambu. Fungsi yang beragam dari bambu diakuinya membuat ia menganjurkan kepada pemilik tanaman bambu tidak memusnahkan tanaman bambu untuk diubah menjadi lahan tanaman lain. Harga yang menjanjikan dan keperluan yang banyak sekaligus bisa menjadi investasi jangka panjang.

Baca Juga
Lihat juga...