Dalang itu Harus Netral dan Merdeka

Editor: Mahadeva WS

234

JAKARTA – Sebagai dalang kondang, Ki Manteb Soedharsono memiliki pengalaman yang cukup banyak dengan Partai Politik (Parpol). Cukup banyak parpol yang mengundangnya untuk agenda pagelaran wayang kulit.  

Hubungan dengan banyak partai politik menjadikan seorang dalang harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan para tokoh parpol yang mengundang. Salah satu kunci yang dipegang oleh Dalang Manteb adalah jangan sampai menjelekkan yang lain.

Kiat lain yang dilakukan adalah mencari tahu visi dan misi dari parpol yang mengundang pentas. Ki Manteb selalu menanyakan visi misi parpol tersebut. “Kiat saya mengajak mereka tampil. Karena yang punya visi misi kan mereka. Saya ini hanya mengumpulkan orang nonton,” ujarnya saat ditemui CendanaNews di Gedung Pewayangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Selasa (26/2/2018) sore.

Kehadiran tokoh parpol di atas panggung pagelaran dimanfaatkan untuk memaparkan secara langsung visi dan misi yang diusung. Termasuk diminta untuk membeberkan rencana kerja ketika partai tersebut berhasil mendapatkan mandat sebagai wakil rakyat.

“Jadi nggak usah dalangnya yang ngomong macam-macam. Bukan dalang tidak tahu politik. Dalang harus tahu politik tapi jangan politik praktis. Jangan satu warna pasti hancur,” tukas Dia.

Dalang menjadi sebuah profesi yang harus dijalani selama-lamanya. Sementara politik napas warnanya cuma lima tahunan. Kondisi tersebutlah yang menjadikan dalang harus pandai-pandai membawa diri dan jangan berpihak. “Tahun politik ya karepmu, saya nggak khawatir karena punya kiat sendiri. Saya ditanggap siapapun monggo, tapi saya tetap netral dan merdeka,” tegasnya.

Selain mengajak tokoh yang menanggap untuk memaparkan visi dan misi ke atas panggung. Kiat lain yang diterapkan adalah, meminta masyarakat penonton menyampaikan usulan secara langsung baik kepada parpol atau tokoh yang mengundang.

“Saya tinggal garis bawahin saja. Kalau di pewayangan ada perkataan latih pakarti nyawiji. Ucapannya, batinnya, dan langkahnya itu sama, Nak iyo-iyo, nak ora-ora. Itu hati-hati menjadi catatan,” tukasnya.

Ki Mantab berharap dalang-dalang muda jangan sampai terpengaruh di tahun politik. Karena ketika terpengaruh kondisi biduk rumah bisa tidak rukun karena keberpihakan dan pembelaan kepada parpol. “Partai itu bukan jaminan untuk bisa menghidupi seniman dalang,” imbuhnya.

Selama hidup Ki Manteb menyebut, perjuangannya menjadi dalang dilakukan sendiri tanpa

Ketua Umum PEPADI, Kondang Sutrisno di Teater Kuantaman Gedung Pewayangan TMII, Jakarta, Selasa (27/2/2018) – Foto : Sri Sugiarti.

bantuan pihak lain. Beruntung ada Persatuan Pewayangan Indonesia (PEPADI) dan Sekertariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI) yang menjadi rumahnya para seniman pedalangan.

Ketua Umum PEPADI Kondang Sutrisno menambahkan, seniman dalang sebisa mungkin harus netral. “Soal ditanggap partai manapun bebas. Kalau tidak netral justru akan merugi karena dipegang satu partai,” ujarnya.

Di tahun politik ini seniman dalang dipastikan panen manggung. Sehingga para dalang sebenarnya memiliki peranan penting dalam upaya meredam suasana politik. Seperti yang terjadi saat Kampanye Indonesia Damai. Menurut Kondang saat itu para dalang tampil di beberapa titik. “Terbukti bisa meredam suasana. Dalang itu harus menyampaikan pesan moral yang menyejukan masyarakat,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...