Debu Proyek JTTS Rugikan Masyarakat, Penyiraman Setiap Hari

Editor: Satmoko

417

LAMPUNG – Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar paket I Bakauheni-Sidomulyo sebagian sudah diresmikan dan dioperasikan sementara sebagian masih dikerjakan.

Sebagian akses jalan bebas hambatan yang sudah dioperasikan di antaranya di segmen pelabuhan Bakauheni simpang susun Bakauheni sepanjang 8,9 kilometer di wilayah Kecamatan Bakauheni. Sebagian yang masih terus dikerjakan yaitu oleh pelaksana proyek JTTS, PT. Pembangunan Perumahan (PP).

Pengerjaan JTTS dengan proses pembersihan lahan (land clearing) sekaligus pengangkutan material tanah menimbulkan polusi debu mengakibatkan gangguan pernapasan bagi warga yang melintas.

Ahmad (30) salah satu warga Desa Klaten menyebut, setiap hari dirinya yang tinggal di dekat box culvert atau box perlintasan JTTS STA 17 +100 mengaku harus rela terimbas debu proyek tol tersebut. Bersama keluarganya ia harus mengenakan masker setiap hari menghindari infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akibat paparan debu selama berbulan-bulan.

Wiyono selaku pengatur lalu lintas kendaraan pengangkut material JTTS di STA 17+100 Desa Klaten [Foto: Henk Widi]
“Jika dihitung paparan debu proyek jalan tol trans Sumatera sudah hampir setahun kami alami dengan intensitas sedang hingga besar. Rumah kami penuh debu setiap hari dari lalu lalang kendaraan pengangkut material tanah serta batu terutama saat musim kemarau,” beber Ahmad, salah satu warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Rabu (14/2/2018).

Paparan debu tersebut akan berkurang saat hujan turun meski disebutnya dalam beberapa bulan terakhir hujan belum turun. Imbasnya, masyarakat masih harus terpapar debu dan kebisingan akibat pembangunan JTTS di STA 17 hingga STA 18 yang ada di wilayah Desa Pasuruan dan Desa Klaten.

Pada akses jalan penghubung Desa Klaten dan Desa Pasuruan kendaraan pengangkut material penimbun berupa tanah merah bahkan masih terus beroperasi menyelesaikan penimbunan box jalan.

Ahmad menyebut, akibat paparan debu tersebut masyarakat tidak mendapatkan kompensasi berupa gangguan kebisingan sekaligus paparan debu. Meski mengharapkan adanya bantuan masker, ia menyebut belum mendapatkan realisasi dari pelaksana proyek. Solusi keluhan paparan debu dilakukan dengan proses penyiraman menggunakan air memakai mobil tangki.

Wiyono (40) selaku flag man atau pengatur lalu lintas kendaraan proyek PT PP menyebut, keluhan masyarakat terkait debu sudah dilakukan dengan penyiraman. Setiap hari satu unit kendaraan dengan air sekitar 5000 liter melakukan proses penyiraman pada akses jalan yang dilintasi masyarakat, berdekatan dengan proyek JTTS STA 17+100 tersebut.

“Proses penyiraman dilakukan menyesuaikan kondisi saat cuaca panas bisa dua kali sehari bahkan tiga kali, sementara saat hujan turun tidak dilakukan penyiraman,” terang Wiyono.

Kondisi jalan yang berdebu akibat lalu lalang kendaraan pengangkut material tanah merah diprediksi akan berhenti dua pekan lagi. Selain penimbunan box di STA 17 +100 hampir selesai, kendaraan proyek tol dipastikan sudah tidak akan melintas di jalan penghubung antar-desa tersebut. Meski demikian, paparan debu masih belum akan hilang selama proyek JTTS di titik tersebut belum selesai.

Perlintasan box Jalan Tol Trans Sumatera STA 17+100 Desa Klaten Kecamatan Penengahan Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Akibat paparan debu proyek JTTS menyebabkan masyarakat yang melintas mudah terserang ISPA. Selain itu sebagian warga yang rumahnya berada di dekat proyek pembangunan JTTS terpaksa menutup pintu dan jendela menghindari debu masuk ke dalam rumah warga.

Warga yang memiliki anak kecil di dekat proyek JTTS tersebut juga kerap melarang anaknya keluar rumah menghindari debu. Warga berharap proyek pembersihan lahan untuk mengangkut material tanah bisa dipercepat sehingga imbas debu bisa diminimalisir.

Baca Juga
Lihat juga...