Fayakhun Tersangka Baru Kasus Dugaan Suap di Bakamla

Editor: Koko Triarko

188
Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat jumpa pers di Gedung KPK. –Foto: Eko Sulestyono

JAKARTA – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menetapkan tersangka baru dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) proyek pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia.

Tersangka baru tersebut adalah FA (Fayakhun Andriadi), yang hingga saat ini masih menjabat sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia. Ia diduga telah menerima sejumlah hadiah atau janji terkait persetujuan penganggaran sejumlah proyek di Bakamla yang disahkan oleh DPR.

Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, menjelaskan, penetapan status tersangka baru tersebut dilakukan setelah dilakukan penyelidikan, salah satunya berdasarkan keterangan sejumlah saksi maupun tersangka lainnya.

“Tersangka FA diduga meminta sejumlah imbalan atau fee yang diperkirakan mencapai satu persen dari keseluruhan anggaran proyek pengadaan satelit monitoring di Bakamla yang mencapai Rp1,2 triliun”, kata Alexander Marwata di Gedung KPK Jakarta, Rabu (14/2/2018).

Dengan demikian, katanya, FA mendapatkan jatah atau bagian sebesar Rp1,2 miliar, dan FA diduga telah menerima sejumlah uang lainnya senilai 300.000 Dolar Amerika.

Kasus dugaan korupsi tersebut terungkap, pada saat petugas KPK menggelar operasi tangkap tangan (OTT) di Kantor Bakamla, Jalan Dr. Soetomo, Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada pertengahan Desember 2016.

Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan sejumlah orang serta menyita pecahan mata uang asing dalam bentuk dolar Amerika (USD) dan dolar Singapura (SGD).

Hingga saat ini, KPK telah menetapkan 6 orang sebagai tersangka dalam kasus suap di Bakamla. Masing-masing  Fahmi Darmawansyah, Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi, Hardy Stevanus, Adami Okta, Eko Susilo Hadi dan Fayakhun Andriadi.

Meskipun telah berstatus sebagai tersangka, namun KPK belum melakukan penahanan terhadap FA.

Sementara, seorang tersangka yaitu Ali Fahmi atau Fahmi Habsyi, hingga detik ini masih dinyatakan buron, dan masih dalam pencarian aparat penegak hukum karena melarikan diri.

KPK menduga, Ali Fahmi merupakan otak dari kasus korupsi di Bakamla. Ia diduga merupakan orang yang pertama kali menawari proses lelang tender proyek pengadaan satelit monitoring di Bakamla kepada PT. Melati Technofo Indonesia (MTI)

“Tersangka FA (Fayakhun Andriadi) disangkakan telah melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang bersangkutan terkibat dalam kasus penerimaan suap terkait sejumlah proyek di Bakamla” pungkas Alexander Marwata.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.