Filipina Alihkan Rencana Pembelian Helikopter

225
Ilustrasi Bendera Filipina - Foto: Dokumentasi CDN

MANILA – Filipina kemungkinan mengalihkan rencana pembelian helikopter-nya ke produsen non barat. Menteri Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana memunculkan opsi untuk menjajagi produsen di kawasan Asia seperti China maupun Rusia.

Opsi tersebut muncul setelah adanya pembatalan kesepakatan pembelian 16 unit helikopter senilai sekitar Rp3 triliun dengan Kanada. Pembatalan tersebut dipicu oleh permintaan Menteri Perdagangan Kanada Francois-Philippe Champagne yang memerintahkan peninjauan ulang atas rencana pembelian tersebut karena adanya kekhawatiran tentang tujuan penggunaan helikopter tersebut.

“Kami melihat Korea, Rusia, China, Turki dan negara-negara lain untuk pengadaan helikopter angkut menengah sebagai pengganti Bell 412EPI dari Kanada. Kami kembali ke titik awal dalam proses pengadaan ini,” kata Lorenzana, Senin (12/2/2018).

Lorenza menyebut, butuh waktu sekitar dua tahun untuk menegosiasikan kesepakatan tersebut rencana pembelian helikopter tersebut. Kontrak untuk 16 helikopter tempur tersebut merupakan pemesanan ulang. Sebelumnya Kanada mengirimkan delapan helikopter Bell 412 senilai sekitar Rp1,2 triliun pada 2014 lalu.

Lorenzana menandatangani kesepakatan helikopter dengan Kanada pada Minggu lalu di Singapore Air Show. Namun Kanada memerintahkan sebuah peninjauan ulang setelah mengetahui bahwa alutsista tersebut akan digunakan dalam operasi anti-pemberontak. “Saya pikir ada kedengkian yang sedang dinaikkan,” tambah Lorenzana.

Menurutnya, alutsista yang diberli bukan helikopter serang. Namun helikopter angkut kelas menengah, yang berarti memiliki tujuan untuk mengangkut personil dan persediaan. “Kami tidak meminta ini secara gratis tapi kami membelinya, kami tidak perlu membenarkan bagaimana kami akan menggunakan peralatan ini,” katanya menegaskan.

Presiden Rodrigo Duterte membatalkan kesepakatan pada Jumat (9/2/2018) malam karena kondisi yang diberlakukan oleh Kanada. Duterte memerintahkan kepada jenderalnya untuk tidak membeli dari Amerika Serikat dan Kanada karena kondisi yang dipaksakan pada penjualan senjata. (baca: https://www.cendananews.com/2018/02/filipina-batalkan-pembelian-helikopter-dari-kanada.html).

Pejabat Angkatan Udara mengatakan bahwa helikopter Kamov buatan Rusia dan Seri Z dari China adalah tipe yang sebanding dengan heli angkut menengah Bell 412. Heli Surion buatan Korea Selatan juga bisa menjadi pilihan.

Sebelumnya, Kepala perencanaan militer Filipina Mayor Jenderal Restituto Padilla, Selasa (6/2/2018), mengatakan bahwa helikopter tersebut akan digunakan untuk gerakan keamanan dalam negeri. Serta dapat ditempatkan dalam pencarian, penyelamatan dan bantuan bencana.

Helikopter Bell 412EPI dijadwalkan akan dikirim awal tahun depan karena militer Filipina bersiap untuk meningkatkan operasi melawan pemberontak Islam dan komunis. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...