Haru Birunya Pesan Film ‘Kasih Ibu Sepanjang Masa’

Editor: Koko Triarko

379

JAKARTA – Memang benar, kasih ibu sepanjang masa menjadi peribahasa bijak yang abadi. Seorang ibu begitu tulus dalam mencurahkan cinta dan kasih sayang pada anak-anaknya tanpa mengharap apa-apa. Demikian yang mengemuka dari film ‘Kasih Ibu Sepanjang Masa’, yang berkisah tentang keharuan pada seorang ibu yang selalu tulus. 

Film ini diawali dengan siluet pemandangan langit Jakarta yang tampak gedung-gedung pencakar langit. Kemudian perlahan berganti dengan pemandangan Jakarta di pagi hari yang penuh kesibukan dengan banyak kendaraan yang lalu lalang. Sebuah adegan awal yang memberi gambaran Jakarta memang begitu sibuk dengan berbagai aktivitas warganya.

Kemudian, adegan Ibu Adri yang diperankan Endah Mulyani bersama kedua anaknya, yaitu Adri (Fausta P Sanjaya) dan Aisyah (Rr Ausyah Ramadhani) yang tampak memungut sampah-sampah botol plastik. Mereka keluarga pemulung yang memang hidup dari sampah yang bagi orang lain tak berguna, tapi bagi mereka sangat berarti sebagai pendapatannya.

Kakak beradik tampak begitu kompak mengumpulkan barang-barang bekas yang tak terpakai. Anak-anak yang sebenarnya tidak harus ikut kerja, tapi begitulah mereka yang sudah yatim ditinggal ayahnya, sehingga mereka berdua memang harus ikut membantu meringankan beban pekerjaan ibunya.

Tiba-tiba, petir menggelegar dan tak lama langsung turun hujan yang membuat ibu dengan kedua anaknya itu serta-merta berteduh pada sebuah bangunan yang mewah. Mereka sungguh sangat terpaksa berteduh, karena rumah mewah itu yang paling dekat sebagai tempat untuk berteduh.

Begitu berteduh, Ibu memberikan dua roti kepada kedua anaknya yang lapar. Sebagai anak-anak pada umumnya, Adri usil dan langsung merebut roti dari Aisyah, adiknya. Sang ibu tentu menasehati, agar Adri tidak tamak, karena sudah mendapat bagian. Bahkan, sang ibu menasehati Adri untuk saling berbagi, karena siapa yang akan meyayangi Aisyah kalau bukan ibu dan Adri.

Tak lama, Alvin (Roby Bo) dan Istri Alvin (Rency Milano), penghuni rumah mewah itu keluar rumah dan begitu melihat ibu dan kedua anaknya itu langsung marah-marah dan mengusirnya begitu sangat kasar. Istri Alvin menaruh kecurigaan, jangan-jangan barangnya yang hilang di rumahnya, ibu dan kedua anaknya yang mengambil.

Nando (Aldo) anaknya menyindir ibu dan kedua anaknya itu bau comboran dan kemudian turut mendukung kedua orang tuanya untuk mengusirnya. Pandangannya begitu sinis dengan menutup hidung sebagai tanda ia benar-benar tidak suka. Mereka kemudian menyuruh satpam untuk segera mengusir ibu dan kedua anaknya.

Ibu dan kedua anaknya menurut pergi dari rumah mewah. Pada saat yang begitu sangat menyedihkan itu, Aisyah mempertanyakan kenapa ayahnya pergi meninggalkannya, bahwa kalau Tuhan baik, mengapa membiarkan ayahnya pergi.

Sang ibu dengan sangat bijak menasehati, bahwa ayahnya sudah berada di tempat yang indah dan terbaik untuk ayahnya di Surga. Anak-anak yang begitu polos dan lugu itu pun kemudian tahu, kalau orang baik akan mendapatkan Surga.

Lalu, bagaimana kisah kedua anaknya itu selanjutnya? Apakah tetap menjadi pemulung? Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kalau orang itu tidak mau mengubah nasibnya. Dunia berputar, kadang ada yang di bawah, tapi suatu waktu nanti akan berganti di atas.

Film pendek berdurasi 12 menit ini mengharu-biru. Naskah skenario ditulis dan sekaligus disutradarai sendiri oleh Irfan Wijaya, sineas muda. Sebagai film pendek memang cukup efektif untuk memberi pesan tentang kasih ibu sepanjang masa, sabagaimana judul film yang disandangnya. Juga pesan lainnya, untuk saling toleransi dan menghormati orang miskin.

Tampak istimewa sekali film ini tata musiknya dikerjakan Tya Subiakto yang sudah sangat berpengalaman berpuluh tahun menjadi penata musik. Bahkan Tya meraih banyak penghargaan, di antaranya Pemenang Festival Film Bandung ke-21 tahun 2008, Indonesia kategori Penata Musik Terpuji untuk film “Ayat-Ayat Cinta”, dan Pemenang pada Festival Film Bandung ke-24 tahun 2011, Indonesia kategori penata musik terpuji untuk film “Sang Pencerah”.

Dalam film ini, Tya juga berkolaborasi dengan Irfan, menggarap soundtrack filmnya. Liriknya sangat puitik tentang kasih sayang ibu yang tak lekang oleh waktu. Iramanya mendayu-dayu. Sebuah lagu yang begitu menyentuh.

Menyaksikan film Pafindo Production ini kita diingatkan untuk selalu menghormati jasa ibu dan membalas kebaikannya, serta menuruti kata-kata ibu. Pesannya begitu sangat kuat, singkat-padat dan gamblang.

Baca Juga
Lihat juga...