Lima Pengungsi Tewas Dalam Protes di Kamp Rwanda

Ilustrasi Bendera Rwanda - Foto: Dokumentasi CDN

KIGALI – Sedikitnya lima pengungsi tewas dan 20 orang terluka dalam aksi protes pemotongan jatah makan di sebuah kamp di Rwanda. Aksi protes berubah menjadi aksi kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Akibat aksi kekerasan tersebut, tercatat tujuh polisi juga mengalami luka.

Sekitar 3.000 pengungsi telah berkemah di luar kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di kamp tersebut sejak Selasa (20/2/2018). Pada Kamis (22/2/2018), polisi mencoba untuk membubarkan mereka menggunakan gas air mata.

“Kami menggunakan terpaksa kekerasan kemarin siang setelah memperingatkan bahwa pasukan keamanan akan dikerahkan. Mereka mulai melempari batu, pecahan logam dan 20 orang pengungsi terluka serta tujuh petugas polisi tewas. Lima dari pengungsi meninggal,” ujar Juru Bicara Polisi setempat Theos Badege.

Lima belas pengungsi ditangkap dari aksi tersebut. Polisi setempat menyebut, ada sekitar 500 pengungsi yang ikut menggela aksi protes. Sementara UNHCR menyebut ada sekira 700 orang yang mengikuti aksi protes.

Para pengungsi dari Republik Demokratik Kongo telah meninggalkan kamp mereka di Kiziba. Para pengungsi berjalan sepanjang 15 kilomter ke Karongi, di Rwanda barat, untuk memprotes pemotongan 25 persen jatah makanan yang diberikan oleh badan pengungsi PBB (UNHCR).

Pemotongan jatag makan tersebut  diketahui mulai diterapkan bulan lalu. Kamp tersebut menampung 17.000 warga Kongo. “Kami menyesalkan bahwa permohonan kami yang terus berlanjut untuk menjaga ketenangan dan pengendalian situasi tidak diindahkan. Tragedi ini seharusnya dihindari, dan penggunaan kekerasan yang tidak seimbang terhadap pengungsi yang putus asa tidak dapat diterima,” tandas Juru Bicara UNHCR Cecile Pouilly.

Karena kejadian tersebut Poully menyebut, UNHCR meminta pihak berwenang tidak lagi menggunakan kekerasan dan meminta dilakukan penyelidikan terhadap kejadian tragis tersebut.

Rwanda menampung sekitar 174 ribu pengungsi, termasuk 57.000 orang dari negara tetangga Burundi yang melarikan diri dari kekerasan pada 2015. Sebagian besar sisanya melarikan diri dari Republik Demokratik Kongo selama ketidakstabilan situasi di negara tersebut dalam 20 tahun terakhir.

Pada Januari, UNHCR mengatakan bahwa pihaknya memotong jatah makanan karena kekurangan dana. Pada Kamis (22/2/2018) UNHCR menyebut, permohonan pendanaan untuk Rwanda di 2018 yang sebesar 98,8 juta dolar Amerika Serikat hanya didanai dua persennya. (Ant)

Lihat juga...