Main Barongsai Kini tak Harus Bisa Kungfu

Editor: Koko Triarko

422

JAKARTA – Tak mudah membina grup kesenian barongsai. Perlu kesabaran, ketekunan dan mau mengikuti perkembangan zaman. Demikian pengalaman Solikhin, pembina Barongsai Yayasan Sejahtera Bahagia, Jakarta Utara.

Zaman now yang serba instan, demikian juga barongsai juga instan, karena tidak lagi berpatokan pada barongsai zaman dulu yang harus punya beladiri, tapi barongsai yang sekarang hanya untuk hiburan saja.

Pemilik nama asli Akhin ini menerangkan, barongsai yang dibinanya berdiri sejak 2000-an. “Anggotanya sekitar 25-30an, karena anak sekarang masih ada yang sekolah, masih ada yang kerja, jadi kalau ada yang berhalangan bisa saling bergantian, sehingga kita tetap bisa tampil di mana-mana,“ terangnya.

Solikhin (bertopi), pembina Barongsai Yayasan Sejahtera Bahagia. –Foto: Akhmad Sekhu

Menurut Solihin, awal berdiri barongsai yang dibinanya karena ada sumbangan barongsai dan sekaligus peralatan musik yang didatangkan langsung dari Cina.

“Pelatihnya saya dan kawan-kawan. Saya bersyukur masih ada orang yang melatih barongsai. Mereka orang-orang lama yang masih menguasai seperti latihan-latihan fisik barongsai, tapi untuk zaman sekarang kebanyakan instan,“ ungkapnya.

Kalau zaman dulu pada 1970-an, barongsai identik dengan beladiri. “Kalau zaman dulu bilangnya kungfu, kemudian berkembang menjadi wushu. Wushu itu seperti seni beladiri tarian,“ bebernya.

Saat itu, barongsai betul-betul butuh kekuatan fisik. Sedangkan, sekarang hanya instan, seperti jurus-jurus, langkah-langkah barongsai, yang belakang bagaimana dan yang depan bagaimana,“ paparnya.

Pada pertunjukan barongsai sekarang, tambur mengiringi tarian gerak barongsai. “Jadi bukan barongsai mengikuti musik, tapi kita yang mengikuti barongsai. Banyak orang tidak paham hal ini,“ katanya.

Menurutnya, cara hormat, masuk pintu, menyeberangi jembatan ada aturannya seperti masuk vihara, harus hormat dahulu, tidak langsung masuk saja.

Solikin memang sudah lama berkecimpung dalam kesenian barongsai sejak zaman dulu kala. “Saya sekarang sudah tuir begini (tua -red), jadi saya sekarang hanya menjadi pembina dan sekaligus pelatihnya,“ ujarnya.

Tantangan Solikhin dalam membina grup kesenian barongai adalah mencari orang yang benar-benar mau ikut bergabung dengan barongsai yang dibinanya.

“Kita cari anak yang benar-benar berbakat, bandel, berani, bukan sekedar hobi, tapi juga tidak takut sakit. Pengalaman kita kalau hobi sesuatu kita kejar, kita capai, kita sakit tidak takut. Apa pun kalau barongsai lebih dari itu,“ ucapnya penuh harap.

Solikhin terbuka pada siapa saja, bahkan ada juga yang muslim ikut masuk main barongsai. “Kalau ada yang mau, hobi, suka, tidak takut capai, tidak takut sakit, silakan bergabung. Kita sendiri tidak ada hubungan dengan vihara, kita hanya barongsai, saja berkesenian saja,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...