Maryoto, Perajin Batu Ukir Beromzet Rp60 juta per Bulan

Editor: Koko Triarko

403

YOGYAKARTA – Setiap capaian memang tidak bisa didapatkan secara instan. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk bisa meraihnya. Hal itulah yang dirasakan dan dialami Maryoto (44) seorang pelaku usaha kerajinan ukir batu di desa Jogotirto, Brebah, Sleman.

Berawal dari bekerja sebagai buruh ukir batu di perajin besar, ia akhirnya bisa membuka usaha kerajinan ukir secara mandiri dalam waktu singkat, yakni tak lebih dari tiga tahun. Ia bahkan bisa mengembangkan usahanya hingga mampu bersaing dengan perajin lain yang telah lebih dulu berjalan.

Kepada Cendana News, Maryoto menceritakan perjalanan usahanya itu. Ia menyebut salah satu alasannya memilih usaha kerajinan ukir batu seperti membuat patung, relief, ornamen atau kaligrafi ialah karena kecintaan. Sejak kecil, Maryoto memang menyukai seni ukir. Ia bahkan sengaja masuk sekolah kejuruan jurusan kriya kayu di SMK Negeri di Yogyakarta.

“Mengukir kayu dan batu itu tidak jauh beda. Sangat mirip, hanya saja memang mengukir batu lebih mudah. Karena itu, saya lebih memilih menggeluti usaha kerajinan ukir batu,” katanya.

Untuk mempelajari dan mendapatkan ilmu dalam bidang kerajinan ukir batu, Maryoto sengaja ikut bekerja sebagai buruh ukir di sebuah perajin besar. Ia rela menerima upah minim, yang awalnya hanya sebesar Rp4.000 per hari demi mendapatkan pengalaman yang tidak diajarkan di bangku sekolah formal.

Baca: Perajin Ukir Batu di Sleman Kesulitan Bahan Baku

“Pada 1994, saya ikut orang. Karena tujuannya untuk mencari ilmu dan pengalaman, dibayar berapa pun saat itu saya tidak masalah. Saat awal itu saya bahkan hanya dibayar Rp4.000 per hari,” kenangnya.

Selama sekitar empat tahun menimba ilmu, pada sekitar tahun 2000, Maryoto memberanikan diri memulai usaha kerajinan ukir batu sendiri. Ia membuat sampel patung batu singa dan kuda untuk kemudian dijual dan hasilnya digunakan untuk membeli bahan baku.

Ia mendatangkan bahan baku batu putih dari daerah Gunungkidul untuk dibuat patung atau relief hiasan taman. Awalnya, ia mengerjakan setiap pesanan di rumahnya. Namun, setelah berkembang ia pun mulai menyewa tempat di pinggir jalan raya, agar usahanya semakin dikenal.

“Dibanding batu breksi, batu putih memiliki kualitas lebih bagus untuk patung atau relief taman. Kalau breksi itu ada pasir dan seratnya, sehingga ketahanan atau keawetanya kurang. Beda dengan batu putih, dari warna juga lebih kelihatan,” katanya.

Sebagai seorang otodidak, kemampuan Maryoto mengukir batu boleh dibilang cukup mumpuni. Untuk jenis ukiran yang tidak terlalu rumit, ia biasa menggerjakannya langsung tanpa sketsa atau pola terlebih dahulu.

Dari bahan berupa batu lempengan, ia biasa membuat relief bergambar tokoh atau ornamen ukuran 120 x 160 cm dalam waktu satu minggu. Sedangkan untuk patung kecil, ia bisa menyelesaikan dari berupa batu balok hanya dalam waktu satu hari.

“Untuk pola yang tingkat kerumitannya tinggi, biasanya dibuat pola terlebih dahulu, lalu ditatah atau diukir, baru finishing. Untuk waktu tergantung kesulitan. Paling sulit itu buat patung manusia. Karena harus simetris dan proporsional. Untuk ukuran orang dewasa saya bisa selesaikan dalam waktu dua minggu. Cukup lama, karena saya kerjakan sendiri dan seluruhnya secara manual,” katanya.

Dari sekian banyak kerajian ukir batu, relief taman merupakan jenis yang paling laris dipesan. Untuk harganya ia mematok Rp800 ribu-1,5juta per meter persegi tergantung kerumitan. Sedangkan untuk patung bervariasi mulai dari paling murah, Rp150 ribu hingga Rp7 juta per buah.

Dengan pelanggan dari berbagai daerah seperti Maluku hingga Medan, Maryoto mengaku bisa mengantongi pemasukan mencapai Rp60 juta per bulan, saat pesanan sedang ramai. Namun saat sepi, minimal Rp2-5 juta.

“Untuk pemasaran, saya hanya dari mulut ke mulut. Untuk online belum. Paling hanya ikut pameran yang diadakan pemerintah kabupaten setiap satu tahun sekali,” katanya.

Murni menjalankan usaha secara swadaya, Maryoto mengaku selama ini belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Namun, ia tetap berharap ada perhatian dari pemerintah, yakni untuk mendampingi pelaku usaha kecil seperti dirinya.

“Ya, kalau bisa didampingi, sehingga bisa diarahkan dan dibantu kesulitannya. Seperti soal izin HO, pemasaran atau permodalan. Kadang kita tidak sampai berpikir ke situ, karena fokus pada produksi,” pungkasnya.

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.