Momen Istimewa Presiden Soeharto Saat Panen Raya

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.176

Panen raya menjadi momen istimewa bagi Presiden Soeharto. Hal tersebut semakin mengukuhkan Indonesia mampu mempertahankan swasembada pangan. Sebagai bangsa yang berdaulat penuh dapat memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, hingga berlebih, bahkan mengekspor 100.000 ton beras ke Vietnam.

Adapun panen rayanya terjadi pada tanggal 24 Februari, tepatnya 24 Februari 1990, sebagaimana dilansir dalam http://soeharto.co mengutip buku “Jejak Langkah Pak Harto 21 Maret 1988 – 11 Maret 1993”, yang ditulis oleh Tim Dokumentasi Presiden RI, Editor: Nazaruddin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003, bahwa Presiden Soeharto dan Ibu Tien mengadakan kunjungan kerja ke Sumatera Selatan untuk menghadiri Panen Raya Supra Insus Musim Tanam 1989/1990.

Dalam acara panen raya itu, Presiden Soeharto mengadakan dialog dengan para petani setempat dan mengajak masyarakat untuk berani mengajukan rasa keberatan dan saran-saran jika mengetahui ada hal-hal yang kurang benar.

“Dalam alam demokrasi, kalau ada hal-hal yang kurang benar, masyarakat jangan diam saja, melainkan mengajukan keberatan dan saran,“ demikian Presiden Soeharto menegaskan.

Menurut Presiden, mengajukan keberatan dan saran akan lebih baik daripada mengungkapkan hal-hal yang kurang benar itu kepada orang luar.

Banyak lagi panen raya di zaman Orde Baru, dimana Presiden Soeharto menyambut baik dan menghadiri momen-momen istimewa tersebut, seperti di antaranya, panen raya “Makmue Nanggro” di Aceh Barat, pada tanggal 26 Maret 1986, tepatnya di desa Baro, Kecamatan Seunagan, Aceh Barat.

Dalam kunjungan itu, Presiden Soeharto bersama rombongan yang tiba di lapangan terbang Cut Nyak Dhien, Meulaboh, disambut secara adat yang meriah oleh para pejabat setempat dan massa rakyat dengan tarian Peusijuk (tepung tawar).

Momen Istimewa Presiden Soeharto Saat Panen Raya
Presiden Soeharto pidato panen raya di Merauke Papua (Foto Istimewa Soeharto.co)

Dalam upacara di desa Baro itu, selain menyaksikan panen raya, Kepala Negara juga berdialog langsung dengan para petani, anggota koperasi, pengrajin, anggota PKK dan para transmigran setempat.

Menyambut panen raya itu, Presiden Soeharto dalam amanatnya mengatakan “bahwa harapan kita terhadap Operasi Khusus Makmue Nanggro ini ternyata memang tidak sia-sia. Dalam waktu yang relatif singkat dan dengan bantuan dari dana Kepresidenan yang tidak terlalu besar, para petani di daerah ini telah berhasil meningkatkan kemakmurannya. Hal ini, misalnya terlihat pada pertambahan luas areal tanaman padi dan palawija, berhasilnya pembibitan pohon coklat dan berhasilnya intensifikasi kolam-kolam ikan air tawar.”

Untuk meningkatkan produksi pertanian di daerah Aceh, pada kesempatan itu Presiden memberikan beberapa petunjuk. Pertama, usahakan terus agar Satuan Pembina/Pelaksana Bimas menjalankan fungsi sebaik mungkin; yaitu mulai dari gubemur, bupati, camat, dan kepala desa sebagai unsur penggerak utama dalam Sistem Bimbingan Massal.

Kemudian, kedua, agar semua unsur dalam Sistem Bimas bekerja dengan segiat-giatnya dan terpadu satu dengan yang lainnya.

Ketiga, agar para Kontak Tani yang merupakan pasangan kerja Penyuluh Pertanian dapat bekerja bersama secara erat dan bahu membahu dalam meningkatkan produksi maupun dalam mengembangkan pemasarannya melalui KUD.

Keempat, para petani yang telah bersatu dalam Kelompok Tani hendaknya terus berusaha untuk meningkatkan keterampilan dan persatuan, sehingga menjadi Kelompok Tani yang benar-benar tangguh dan tahan uji.

Kelima, para pemimpin di pedesaan, terntama sekali para alim ulama dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya, dapat membantu menyukseskan “Makmue Nanggro” ini.

Panen raya Operasi Lappo Ase, di Kabupaten Tingkat II Bone, Watampone, Sulsel, pada 27 Agustus 1981, Presiden Soeharto menyatakan kebanggaan dan terima kasihnya kepada para petani dengan terus meningkatkan produksi beras yang benar-benar ditandai dengan angka yang benar-benar mengesankan. Peningkatan produksi beras tidak lain tujuannya adalah untuk kaum tani yang merupakan lapisan terbesar masyarakat kita.

Ada lagi. panen raya hasil “Operasi Karya Makmur” di Sumatera Selatan, pada tanggal 20 Maret 1982, Presiden Soeharto menyerahkan hadiah secara simbolis kepada kelompok tani terbaik, sedang Ibu Tien menyerahkan hadiah kepada Kelompok Wanita Tani Terbaik dari 5 Kabupaten. Disusul acara temu wicara antara Presiden dengan para petani.

Momen Istimewa Presiden Soeharto Saat Panen Raya
Presiden Soeharto pidato panen raya di Merauke Papua (Foto Istimewa Soeharto.co)

Panen raya di Merauke, Papua, pada tanggal 5 Mei 1994, yang membuat Presiden Soeharto begitu sangat terharu karena momen istimewa panen raya bertepatan 31 tahun Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi, yang mengukuhkan utuhnya wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Masih banyak lagi, panen raya – panen raya lainnya di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, yang mengukuhkan bahwa pada zaman Orde Baru Indonesia memang mampu mempertahankan swasembada pangan sebagai bangsa yang berdaulat penuh dapat memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Baca Juga
Lihat juga...