Monyet dan Kekasihnya

CERPEN ARIS KURNIAWAN

619

DUA ratus tahun kemudian kami akan dipertemukan lagi sebagai sepasang kekasih dalam wujud yang sempurna: dia lelaki tampan dan aku perempuan jelita. Dua ratus tahun bukan waktu sebentar terutama dalam hal kesiapan mental menghadapi beratnya godaan untuk berpaling dari janji setia.

Setiap hari aku memandangi matanya memejam dalam tidur panjang yang menggelisahkan. Dia terbaring di dalam peti kayu jati tua yang kulapisi kain berenda di tepiannya. Dia seorang prajurit yang hebat dan gagah berani.

“Aku mencintaimu, Samba.”

Kalimat itu selalu mengiang di telingaku. Aku tahu dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Karena itu aku tak pernah meragukannya. Meskipun ini menjadi beban berat bagi kami setelahnya.

Bersama rombongan pasukannya, dia singgah di desa kami. Mereka akan menghadang dan menumpas pasukan pemberontak Pangeran Kejaksan yang memihak penjajah.

“Mereka para pengkhianat, Sultan,” bisiknya menahan geram, suatu malam. Rahangnya berbentuk persegi, alis matanya tebal, bentuk hidungnya besar dan dahinya yang lebih maju membuatnya terlihat begitu jantan dan mengesankan berangasan.

Tapi sorot mata agak sayu dan bibirnya yang pipih tak mampu menyamarkan ketampanannya. Aku tak bisa menyangkal bahwa aku menyukainya sejak detik pertama melihatnya. Perasaan yang membuatku gelisah jika memikirkannya.

Mereka membawa persenjataan lengkap. Mereka tidak hanya singgah, melainkan beberapa pekan tinggal di desa kami. Karena pasukan pemberontak yang mereka tunggu tak kunjung muncul. Mereka menginap di rumah-rumah penduduk dan hidup menyatu dengan kami. Aku membantu ibuku yang membuka warung nasi dan melayani rombongan prajurit makan. Aku bersemangat membantu ibu di warung saban rombongan prajurit itu datang. Aku berharap selalu ada di antara mereka.

Kedatangan rombongan prajurit itu membuat warung nasi kami harus memasak nasi dan lauk lebih banyak dari biasanya dan buka sampai jauh malam. Kami melakukannya dengan perasaan senang. Bukan karena keuntungan yang kami dapat jadi berlipat, melainkan ibuku menganggap apa yang kami lakukan sebagai dukungan kepada junjungan kami melawan musuh guna melindungi kehidupan kami yang tenteram. Malam-malam mereka memesan kopi dan menghisap tembakau.

“Kopi racikanmu enak, Samba!” katanya menatapku. Aku melihat lidahnya menjilat bibirnya.

“Ibuku yang membuat,” kataku.

“Kamu juga pasti bisa membuat kopi seenak ini.”

“Kapan kira-kira prajurit Pangeran Kejaksan datang menyerbu?”

“Kami belum bisa memastikan. Tapi kami harus selalu siaga!”

Kehadiran mereka membuat suasana terasa tegang namun membuat desa kami lebih hidup dan semarak. Selama menunggu kemunculan musuh, mereka mengumpulkan para pemuda desa kami. Melatih kami ilmu keprajuritan, dan berbagai keterampilan kanuragan untuk membela diri serta siasat mempecundangi musuh. Mereka juga membantu warga desa membuat parit dan pematang sawah.

Dalam rombongan pasukan berjumlah 100-an orang itu, dia salah satu pemimpin. Aku selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh caranya memegang dan menggunakan senjata saat melatih kami. Sangat lihai dan mengagumkan. Dadanya bidang berkilat-kilat oleh keringat. Kami menirukan setiap gerakannya. Lalu satu persatu kami dimintanya menyerang dia menggunakan pedang.

Dia memanggilku ketika latihan selesai dan para pemuda desa pulang ke rumah masing-masing.

“Kamu masih mau berlatih?” tanyanya. Aku mengangguk. Aku tak pernah sanggup menolak apa yang diinginkannya. Dia seperti tahu apa yang bergerak di dalam hatiku.

Selesai berlatih berdua saja kami duduk bersisian melihat bintang-bintang, dia bercerita tentang keadaan kesultanan yang sedang gawat. Bangsa asing datang memecah-belah. Kesultanan Cirebon di bawah pimpinan Pangeran Panjunan sebagai pewaris sah, digerogoti oleh Pangeran Kejaksaan, sepupu sultan sendiri. Mereka menyusun kekuatan untuk memberontak.

“Bangsa asing datang dan memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan mereka sendiri!” ujarnya. Aku hanya manggut-manggut seolah mengerti.

Setelah mengakhiri obrolan dan aku hendak pulang, dia memeluk dan mencium keningku. Ini peristiwa yang membekas begitu dalam di benakku dan membuatnya hangat saban mengenang kala malam menjelang tidur setelah dia dan rombongannya kembali ke kesultanan beberapa hari setelahnya. Itu adalah hari-hari yang panjang dan menyedihkan bagiku.

“Semoga kita akan bertemu lagi dalam situasi yang lebih baik,” janjinya kepadaku setelah berpamitan kepada warga desa kami.

Tapi tak ada situasi yang lebih baik selain perjumpaan yang sebentar itu. Warga desa kami bersedih melepas rombongan pasukan kesultanan. Tapi kesedihanku jauh berlipat-lipat dari kesedihan mereka.

Telik sandi yang dikirim pasukan kesultanan ke wilayah musuh datang mengabarkan bahwa pasukan pemberontak pimpinan Pangeran Kejaksan membatalkan penyerbuan. Tetapi rupanya pasukan pemberontak telah mengecoh telik sandi sultan.

Sehari setelah rombongan pasukan kesultanan kembali ke istana, pasukan pemberontak datang menyerbu bersama bala bantuan pasukan asing dari arah yang lain sebelum fajar menyingsing. Pertempuran segera pecah di sekeliling keraton kesultanan. Prajurit kesultanan yang baru terjaga kocar-kacir tak mampu mempertahankan diri.

Pasukan pemberontak yang dilengkapi peralatan perang berupa pelontar api buatan bangsa asing menjadi kekuatan yang sulit dihalau oleh pasukan kesultanan sekalipun jumlah mereka lebih besar. Pasukan pemberontak mengepung dan menjebol benteng pertahanan keraton kesultanan, kemudian mendudukinya.

Situasi begitu buruk dan tak terselamatkan bagi Kesultanan Cirebon yang sah. Melihat gelagat yang sangat gawat, sebagian prajurit segera membawa Pangeran Panjunan ke hutan di lereng gunung Ciremai untuk diselamatkan. Sebagian yang lain menahan gempuran pasukan pemberontak yang dibantu tentara penjajah yang berupaya mengejar dan menangkap Pangeran Panjunan. Keadaan sungguh kacau balau.

Kekasihku adalah salah satu prajurit yang melarikan Pangeran Panjunan ke dalam hutan di lereng Gunung Ciremai. Dia memimpin pasukan di baris depan melindungi Pangeran Panjunan. Mereka masuk jauh ke dalam hutan. Beberapa pemuda desa seperti diriku turut membantu membuka jalan ke hutan yang paling tersembunyi.

Berbulan-bulan Pangeran Panjunan bersama puluhan prajurit setianya menjadi pelarian di dalam hutan. Kami menangkap kijang, ayam hutan, dan memetik buah-buahan untuk makan supaya dapat bertahan. Para warga desa yang setia memasok bahan makanan untuk mereka. Tetapi itu tidak lama.

Pasukan Pangeran Kejaksan menutup semua jalan menuju hutan. Mereka menempatkan prajuritnya di tepi hutan untuk menggeledah penduduk yang hendak masuk hutan. Bila ada kedapatan penduduk yang membawa bahan makanan ke dalam hutan, mereka akan merampasnya, bahkan membunuhnya. Ayah dan ibuku di antara yang mereka bunuh.

Dalam pelarian ke dalam hutan itu kawanan prajurit yang tersisa berjumlah 200 orang termasuk para pemuda desa. Berhari-hari kemudian mereka terpecah jadi dua golongan. Sebagian besar berkeinginan keluar dari hutan dan menyerah kepada pasukan pemberontak, sisanya tetap bertahan. Kekasihku adalah termasuk yang ingin menyerah dan. Dia berniat menjadi warga biasa dan menjalani hidup wajar sebagai rakyat jelata.

“Aku ingin kita akan tinggal bersama sebagai petani,” ucapnya kepadaku.

Pangeran Panjunan yang kondisinya sudah letih dan menyedihkan tetap mengobarkan semangat kepada prajuritnya untuk tetap bertahan di hutan. Namun lama kelamaan ketika kelaparan mendera mereka sementara hewan dan buah-buahan makin sukar didapat, hanya lima orang yang tetap setia kepada Pangeran Panjunan. Sisanya diam-diam keluar dari hutan dan menyerah. Mereka mengabaikan sumpah setia kepada sang sultan dan siap dikutuk menjadi monyet apabila menyerah kepada kaum pemberontak.

Ketika para prajurit yang menyerah itu keluar dari hutan, tanpa mereka sadari kulit sekujur tubuh mereka ditumbuhi bulu-bulu berwarna kelabu yang lebat. Ketika mereka berteriak lantaran terkejut yang keluar dari mulut mereka adalah suara menguik yang menyayat. Hanya aku yang tidak turut menjelma menjadi monyet. Menyadari ampuhnya kutukan itu, kekasihku yang telah menjadi monyet namun tetap kucintai itu mengajakku kembali ke dalam hutan untuk meminta ampun dan mengucap sumpah setia kepada Pangeran Panjunan. Namun celaka, Sang Sultan dan sisa prajuritnya tidak pernah dapat ditemukan. Mereka moksa.

Kekasihku menangis menyesali semuanya.

“Meskipun sekarang kamu seekor monyet, aku tetap mencintaimu dan tak akan meninggalkanmu,” ujarku. Berahun-tahun aku tinggal di rumah panggung tepi hutan lereng Gunung Ciremai bersama seekor monyet sampai dia menghembuskan napasnya yang terakhir oleh kesedihan dan penyesalan.

Aku hendak menguburkan jasadnya di belakang rumah panggung kami, ketika tiba-tiba muncul seorang nenek berambut panjang seputih kapas dan berikat kepala. Tubuhnya bagai melayang dari ranting ke ranting sebelum berdiri di depan rumah panggung kami. Dia mencegah niatku menguburkannya. Lalu kudengaar dia bersabda: “Dia tidak mati. Hanya tidur panjang. Kelak, setelah dua ratus tahun dia akan bangun dalam wujud semula sebagai prajurit yang tampan. Masukkan saja jasadnya ke dalam peti, dan berbaringlah di sisinya kalau kamu tidur. Kelak kalian akan terjaga sebagai sepasang kekasih yang sempurna.”

Begitulah ceritanya. Kalian boleh mempercayainya atau tidak, sesuai keperluan kalian masing-masing tentunya. ***

Gondangdia, Februari 2018

Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, puisi, resensi, esai untuk sejumlah penerbitan. Buku cerpen dan puisinya yang telah terbit: Lagu Cinta untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2005) dan Lari dari Persembunyian (Kumpulan Puisi, Komunitas Kampung Djiwa, 2007).

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Karya orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak dan juga buku. Kirim naskah ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...