Nelayan Muara Piluk Datangkan Damar dari Lampung Barat

Editor: Irvan Syafari

228

LAMPUNG — Kebutuhan akan kayu damar untuk konstruksi perahu nelayan membuat kayu mengandung getah tersebut semakin banyak ditebang terutama di Lampung Selatan.

Menurut Maulana (40), salah satu pembuat perahu jenis kasko kayu damar memiliki keunggulan tahan air terutama untuk lunas perahu tradisional. Selain itu jenis damar hitam kerap dipergunakan untuk menambal perahu meski jumlahnya makin berkurang.

Jenis kayu damar yang semula banyak dipergunakan untuk pembuatan perahu tersebut diakui didatangkan dari wilayah perkebunan di Lampung Selatan di antaranya Kecamatan Katibung, Penengahan, Rajabasa dan Kalianda.

Meski demikian ia menyebut, kayu damar mulai sulit diperoleh karena pemilik kebun damar sebagian sudah ditebang untuk kebutuhan bahan bangunan.

Kayu damar diakuinya banyak dipergunakan untuk proses pembuatan perahu baru dan perbaikan saat docking pada beberapa bagian perahu.

“Awalnya banyak kebun kayu damar yang ada di Lampung Selatan dipergunakan untuk diambil getahnya dan sebagai bahan bangunan. Namun lama kelamaan semakin sulit dicari karena jarang ditanam orang,“ terang Maulana, Jumat (23/2/2018)

Kalau tidak ada kayu damar pembuat perahu menggantinya dengan kayu nangkan, kayu mentru, kayu tabu, kayu langit sebagai pelengkap bagian bagian perahu berupa dinding dan dek perahu.

Kayu damar harus dipesan terlebih dahulu dari pemilik kebun damar sebelum digunakan. Harga yang cukup mahal dipengaruhi faktor kelangkaan kayu tersebut di sejumlah tempat pengetaman kayu.

Selain langka akibat semakin sedikit petani membudidayakan pohon damar,proses pembibitan pohon damar yang lama membuat petani enggan membudidayakan pohon damar.

Sebagian petani disebut Maulana lebih memilih membudidayakan kayu jenis lain yang lebih singkat masa panennya seperti jenis kayu sengon dan jati ambon. Sementara kayu damar yang masih dipertahankan petani merupakan pohon yang tumbuh secara alami berusia puluhan tahun.

“Harga kayu damar relatif mahal karena banyak didatangkan dari wilayah lain, bahkan kini harus mendatangkan dari Lampung Barat karena di wilayah Lampung Selatan sudah langka,” beber Maulana.

Perahu yang diperbaiki Maulana merupakan jenis perahu kasko dengan panjang 11 meter dan panjang sekitar 2 meter. Perahu tersebut menjalani perbaikan setelah usia tiga tahun pada bagian peneduh dan papan dinding kapal.

Selain dilapisi dengan damar cair dari getah damar beberapa sambungan kayu kapal harus didempul dan diberi lapisan karung goni agar tidak bocor dengan bahan khusus sebelum dicat.

Sulitnya memperoleh kayu damar untuk kebutuhan pembuatan perahu diakui juga oleh Asror (32) nelayan Muara Piluk. Ia menyebut kayu damar mulai sulit dicari karena sebagian masih kerap disadap untuk bahan baku pelapis kertas dan vernis.

Sebagian pohon damar yang dijual disebutnya merupakan kayu yang sudah tidak produktif, sehingga bisa ditebang untuk bahan bangunan dan pembuatan perahu.

“Saya memperoleh kayu damar milik petani di Lampung Barat yang roboh karena sudah tua dan ditawarkan kepada saya untuk perbaikan perahu,”beber Asror.

Setelah ditebang kayu damar diolah menjadi bahan papan sesuai kebutuhan perbaikan perahu. Saat ini per kubik papan damar dibeli dengan sistem lembaran berisi sebanyak 29 lembar dengan ketebalan 3 sentimeter, lebar 25 sentimeter, panjang 460 sentimeter dengan harga per keping Rp115.000 atau sekitar Rp4 juta.

Kayu damar tersebut dikeringkan terlebih dahulu melalui proses penjemuran sebelum dipergunakan untuk perbaikan perahu. Asror menyebut sebagian perahu nelayan di Muara Piluk Bakauheni terutama jenis perahu kasko masih banyak mempergunakan kayu damar.

Kelangkaan tersebut sebagian diganti dengan jenis kayu lain yang lebih murah dan memiliki daya tahan tinggi terhadap air laut.

Kayu yang dipilih sengaja diambil dari jenis kayu yang bisa bertahan selama beberapa tahun meminimalisir pengeluaran biaya operasional untuk perbaikan.

Baca Juga
Lihat juga...