Nini Thowok, Misteri Lenyapnya Seorang Anak

Editor: Satmoko

1.012
Salah satu adegan film Nini Thowok (Foto: Istimewa/PH TBS Films)

JAKARTA – Apa yang kita lakukan jika kehilangan seorang anak semata wayang yang begitu sangat disayang?

Tentu kita akan melakukan apa saja agar anak bisa kembali. Bahkan ada yang nekad melakukan ritual mistis pemanggilan roh anaknya agar tahu keberadaan anaknya dengan Nini Thowok (jelangkung perempuan). Kemudian, jika ada yang mengusik boneka Nini Thowok, apalagi membakarnya, tentu membuat marah besar.

Demikian yang mengemuka dari film Nini Thowok yang mengungkap misteri lenyapnya seorang anak.

Film ini dibuka dengan adegan yang sangat mencekam dan menegangkan tentang kematian Eyang Marni (Jajang C Noer) pada sebuah kamar di losmen Mekar Jiwo Solo. Sebuah kematian yang tak wajar dan tentu menimbulkan tanda tanya besar.

Setelah Eyang Marni meninggal, losmen tersebut sesuai surat warisan losmen Mekar Jiwo Solo diwariskan pada Nadine (Natasha Wilona) dan adiknya, Naya (Nicole Rossi). Mendapat warisan itu, Nadine terpaksa pindah ke Solo untuk mengelola losmen tersebut karena Eyang Marni dalam surat wasiatnya berpesan agar losmen itu tidak ditutup atau dijual.

Orang tua Nadine sudah meninggal beberapa tahun lalu akibat kecelakaan mobil ketika datang menemui Eyang Marni. Nadine mengerti kematian orang tuanya membuat Eyang Marni merasa begitu sangat bersalah sepanjang hidupnya.

Sebagai orang yang hidup di zaman modern, yang sekarang tren dengan istilah anak zaman now, Nadine berpikir logis dan tak percaya dengan hal-hal mistis. Ia berkeyakinan bahwa Eyang Marni meninggal secara wajar dalam keadaan tenang. Ia menolak dan protes keras ketika Mbok Girah (Ingrid Widjanarko), pegawai kepercayaan eyangnya, melakukan ritual mistis kematian sang eyang dengan membakar kemenyan.

Mengelola losmen yang sudah lama sepi tentu tak mudah bagi Nadine. Untuk itu, ia minta bantuan Ben (Amec Aris), pacarnya, untuk menjaga Naya, adiknya, juga membantu untuk mengelola losmen.

Adegan film Nini Thowok. Foto: Istimewa/PH TBS Films.

Nadine menanyakan tentang kamar dalam losmennya pada Pak Rahmat (Slamet Ambari), pegawai kepercayaan eyangnya, dan ternyata ada satu kamar kosong yang tidak boleh dibuka. Bahkan tidak ada yang tahu dimana kuncinya disimpan.

Nadine tentu saja tak terima satu kamar tidak boleh dibuka dengan alasan yang tidak jelas. Nadine memaksa Pak Rahmat untuk membuka kamar itu secara paksa meskipun Mbok Girah dan Pak Rahmat melarangnya. Nadine ingin losmen yang kini dikelolanya menghasilkan, jadi semua kamar harus dibuka.

Ketika kamar terlarang itu dibuka, Nadine begitu berani langsung masuk. Mbok Girah dan Pak Rahmat terpaksa mengikutinya. Di dalam kamar itu ditemukan lukisan perempuan keturunan Cina dan boneka Nini Thowok. Nadine tak suka boneka yang dianggapnya jelek itu ada di losmen dan langsung menyeretnya keluar hingga membakar. Saat boneka Nini Thowok dibakar tampak adegan-adegan yang aneh dengan memperlihatkan pintu kamar terlarang terbuka sendiri dan dedaunan yang tersibak, seperti ada sosok makhluk misterius yang lewat.

Sejak kamar terlarang itu dibuka, Nadine mengalami berbagai kejadian aneh. Seperti di antaranya ia makan bubur sambil video call dengan Ben, tampak terlihat ia makan kembang. Nadine tentu saja kaget dan kemudian langsung marah-marah pada Mbok Girah yang memberinya kembang. Tapi Mbok Girah dan seorang pelayan tak melihat kalau di mangkuk ada kembang. Nadine juga kemudian melihat di mangkuk tak lagi ada kembang, melainkan bubur makanan kesukaannya.

Nadine yakin bahwa kejadian aneh yang menimpanya pasti ada hubungannya dengan kamar terlarang. Ia minta bantuan Ben untuk mencari tahu tentang losmen yang kini dikelolanya. Lewat teman Ben yang mengerti banyak tentang sejarah, diketahui bahwa pemilik pertama losmen Mekar Jiwo itu adalah Nyonya Oey (Gesata Stella), perempuan di dalam lukisan.

Hari demi hari, teror mistis terus-menerus berlangsung. Kemudian, Naya hilang secara misterius entah ke mana. Nadine mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana puluhan tahun silam. Nadine akhirnya menemukan titik cerah, bahwa ada urusan yang belum terselesaikan semasa Nyonya Oey masih hidup. Nadine yang begitu sangat penasaran itu pun mencari-cari jawaban, mengapa Nyonya Oey menutup satu kamar di losmennya? Mengapa Naya hilang secara misterius entah ke mana? Rahasia apa yang ditutupi Mbok Girah dan Pak Rahmat, orang-orang kepercayaan eyangnya?

Film ini cukup tegang nan mencekam. Sutradara Erwin Arnada cukup mampu menjaga ketegangan dan ketercekaman adegan dari awal sampai akhir. Ceritanya mengalir lancar, meski agak lamban, yang tampaknya disengaja untuk membuat penonton penasaran, dan terus semakin lebih penasaran lagi.

Penulisan skenario yang digarap penulis skenario handal Alim Sudio dan Erwin Arnada juga cukup kuat dengan cerita-cerita yang tak biasa mengenai Nini Thowok ini. Hanya saja ada alpa dalam film ini mengenai kehadiran tokoh agama. Mestinya ada, untuk menyeimbangkan antara hal mistis dengan hal agamis, yang bisa lebih meyakinkan pada masyarakat kita yang sebagian besar agamis.

Film ini hanya menyertakan orang yang mengerti sejarah yang lebih bercerita pada hal-hal logis yang tentu bertolak belakang dengan film bergenre horor yang lebih banyak mengungkap hal-hal mistis.

Akting Natasha Wilona sebagai pemeran utama cukup bagus, meski kadang masih tampak kedodoran. Ia tampak masih canggung dan masih belum sepenuhnya masuk pada karakter Nadine yang dilakoninya. Sosok Nadine yang keras kepala dan kuat prinsip hidupnya menjadi lembut dan lemah oleh akting Natasha.

Sedangkan para pemeran pendukungnya justru kuat-kuat karakter dan matang aktingnya, seperti di antaranya Slamet Ambari (terkenal dengan karakter kuat sebagai Jadag dalam film Turah) sebagai Pak Rahmat, Jajang C Noer sebagai Eyang Marni dan Ingrid Widjanarko sebagai Mbok Girah. Akting ketiga aktor-aktris watak itu menyelamatkan film ini menjadi film yang kuat.

Menyaksikan film produksi TBS Films ini, kita diingatkan tentang Nini Thowok, yang tak hanya sebagai boneka pemanggilan arwah tapi juga jadi kekayaan budaya masyarakat.

Banyak mitos yang lahir dan tumbuh berkembang di tengah masyarakat kita yang membuat kita tetap menghargai leluhur yang begitu dekat dunia mistis. Termasuk Nini Thowok, yang terlepas dari hal-hal mistis tentu bisa sebagai kekayaan khazanah budaya masyarakat, menjadi bagian kearifan lokal bangsa yang tentu patut dijaga.

Baca Juga
Lihat juga...