Pandai Besi di Solo Hadapi Kendala Regenerasi

Editor: Irvan Syafari

462

SOLO — Bagi sebagian pelaku kerajinan, modal usaha maupun ketersediaan bahan baku menjadi kendala utama. Namun hal ini sepertinya tidak berlaku bagi usaha pandai besi yang ada di Pasar Gawok, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah.

Sebut saja Karjo, perajin pandai besi yang satu ini mengaku usaha yang dijalankannya tidak memerlukan modal besar. Sebab, selama ini usaha yang dibangun sejak 25 tahun itu tidak memerlukan modal besar. Demikian juga bahan baku yang digunakan untuk membuat berbagai kerajinan kebutuhan rumah tangga yang berbahan besi.

“Kalau modal tidak masalah, begitu juga bahan bakunya karena melimpah. Yang penting telaten sudah bisa jalan,” kata Karjo kepada Cendana News, Selasa (27/2/2018).

Warga Koripan, Delanggu, Klaten itu mengungkapkan, persoalan regenarasi yang justru menjadi masalah utama. Sebab, sejauh ini sulit menemukan penerus yang mau bekerja sebagai pandai besi.

Selain termasuk pekerjaan berat, pandai besi juga tergolong pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga. “Setiap hari harus angkat palu untuk memipih atau membentuk kerajinan yang ingin dibuat. Jadi harus berkeringat, dan kotor,” lanjut dia.

Berbagai kerajinan pandai besi yang kerab diproduksi seperti pusai, linggir, sabit serta cangkul. Pria 45 tahun itu pun tak khawatir adanya produk impor yang masuk di Indonesia. Menurut dia, produk pandai besi lokal memiliki kualitas yang jauh lebih baik dengan produk impor. Baik dari segi ketajaman maupun kualitas bahannya.

“Kualitas produk lokal jelas lebih baik. Barangnya juga lebih awet. Dari sisi harga juga bisa bersaing,” tekannya.

Hal senada diungkapkan Kusno, pengrajin pandai besi lain yang ada di Pasar Gawok. Adanya produk impor seperti cangkul maupun pisau tak mempengaruhi pasar produk lokal. Sebab, produk pandi besi lokal telah memiliki langganan tersendiri.

“Kalau kualitas dan ketajaman jelas bisa diadu, karena bahan bakunya juga baik,” imbuhnya.

Selama puluhan tahun, Kusno mengaku telah banyak merasakan manis getirnya selama menggeluti pekerjaannya sebagai pandai besi.

Dirinya juga merasa sulitnya mencari generasi penerus untuk melanjutkan usaha yang sudah digelutinya. “Tenaga baru sudah tidak ada, karena anak-anak tidak mau. Di pandai besi ini belajar saja diberi upah. Beda pekerjaan lainnya, baru belajar malah disuruh membayar,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...