Pengalaman Presiden Soeharto Menyamar, Tinjau Langsung Korban Banjir

Editor: Satmoko

2.137
Pak Harto meninjau korban banjir di Lumajang (Foto: Istimewa)
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Setiap musim hujan tiba selalu terjadi bencana banjir dimana-mana. Para pejabat, mulai dari Kepala Negara hingga kepala daerah seperti gubernur, bupati, camat hingga lurah, biasanya secara seremonial meninjau korban banjir.

Lain halnya, sebagaimana yang dimuat dalam Buku ‘Incognito Pak Harto: Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya, yang ditulis Mahpudi dan diterbitkan Yayasan Harapan Kita, 2013, bahwa Presiden Soeharto menyamar menjadi rakyat biasa berkeliling ke pelosok negeri untuk mengetahui secara langsung kondisi rakyatnya.

Perjalanan menyamar atau istilahnya incognito, ini dilakukan pada tanggal 17-21 November 1976 ke beberapa daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Perjalanan menggunakan jeep melewati jalan darat tanpa diiringi para pejabat pemerintah, hanya sekelompok kecil pengawal dan staf, yaitu hanya didampingi Dan Satgas Pomad Kol. Munawar, ajudan Presiden Kol. Tri Sutrisno, dokter Kol. Mardjono dan Kepala Dokumentasi dan Mass Media Drs. Dwipojono.

Dalam penyamaran sampai ujung ke Jawa Timur, Pak Harto menyinggahi tempat penampungan pengungsi korban banjir di kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Tak sungkan-sungkan Pak Harto menengok dapur umum dan merasakan masakan yang akan dikirim kepada para korban.

Pak Harto memberikan pidato sejenak untuk membesarkan hati para korban banjir yang sedang kesusahan. Presiden juga menganjurkan kepada para korban untuk bertransmigrasi ke luar Jawa, karena dengan bertransmigrasi akan lebih menyejahterakan para petani sebab lahan pertanian lebih luas daripada di pulau Jawa.

Seusai melaksanakan serangkaian perjalanan penyamaran ini, rombongan menuju lapangan terbang Abdurachman Saleh, Malang untuk kembali ke Jakarta.

 

Tanggulangi Banjir

Sebelumnya, pada tanggal 14 Februari 1976, sebagaimana dilansir dalam http://soeharto.co mengutip buku“Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, yang diterbitkan Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2008, bahwa Presiden Soeharto menyatakan, pemerintah menanggulangi banjir di Jakarta secara bertahap dan dibuat rencana penanggulangannya baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Masalah banjir yang terjadi beberapa waktu yang lalu di daerah Jawa telah mendapat perhatian serius dari pemerintah ketika Presiden Soeharto di Bina Graha mengadakan pertemuan dengan para gubernur se-Jawa.

Khusus ketika menyinggung masalah banjir di DKI, menurut Menteri Sekretaris Negara Sudharmono, terutama adalah untuk menormalisir tempat-tempat yang baik ditinjau masyarakat umum maupun kepentingan penghuninya, perlu adanya tindakan untuk mengatasi seperti daerah-daerah sepanjang banjir kanal dan sungai-sungai lainnya.

“Daerah-daerah tersebut sebetulnya bukanlah merupakan daerah tempat tinggal penduduk,“ ungkapnya.

Presiden Soeharto, telah memberikan perhatian khusus untuk mengatasi biaya banjir di Jakarta. Untuk pembiayaannya diolah antara pihak pemerintah DKI dengan Departemen PUTL.

Dalam pertemuan itu Presiden Soeharto menyatakan akan mengadakan pengecekan akibat banjir terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya dalam hal pengaruhnya dengan produksi pangan terutama beras.

 

Kurangi Akibat Banjir

Adapun pada tanggal 18 Februari 1986, Presiden Soeharto minta kepada Menteri Pekerjaan Umum Suyono Sosrodarsono agar berusaha semaksimal mungkin mengurangi akibat negatif dari bencana banjir yang telah melanda sejumlah daerah di Indonesia.

Kepada wartawan di Cendana, Jakarta, Menteri PU tidak menjelaskan berapa kerugian dari rusaknya jalan, jembatan dan tanggul­-tanggul akibat bencana banjir baru-baru ini. “Kerugian itu sulit dinilai dengan uang, namun yang penting penanggulangannya agar masyarakat yang terkena musibah tidak terlalu menderita,” kata menteri.

Lebih lanjut, sang menteri menerangkan, kita tidak bisa mencegah bencana banjir secara keseluruhan. “Di negara-negara yang sudah maju pun masih ada banjir, karena itu memang bencana alam,” terangnya.

Menurut Suyono, daerah di luar Jawa yang paling parah terlanda banjir, antara lain Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. “Pulau Bangka yang selama ini tak pernah banjir, kini terlanda juga, akibat curah hujan yang luar biasa,” ungkapnya.

Suyono menyampaikan, terhadap jembatan-jembatan yang rusak akibat banjir sudah dilakukan penanggulangan secara darurat sehingga sejauh mungkin dapat dihindari putusnya hubungan lalu-lintas biasa.

“Dibanding dengan kebutuhan, dana yang tersedia untuk penanggulangan akibat bencana tidak mencukupi. Karena itu terpaksa di sana­-sini perbaikan secara darurat,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan, banjir hanya merupakan akibat dari curah hujan yang tinggi serta keadaan permukaan tanah khususnya di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).

“Oleh karena itu, penanggulangan masalah itu tidak cukup hanya berupa perbaikan prasarana yang rusak melainkan harus pula meliputi perbaikan konservasi tanah, air, dan hutan, antara lain melalui program reboisasi dan terasering,“ tandasnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Lihat juga...