hut

Perajin Miniatur Pinisi Bulukumba Rela Beromzet Kecil demi Budaya

Editor: Irvan Syafari

BULUKUMBA — Dari sederet rumah di Jalan Datu Ditiro, Kelurahan Kulumeme, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, rumah Zainal Abidin tampak berbeda dari yang lain. Di dalam rumah itu terdapat puluhan miniatur kapal pinisi beragam ukuran, menghiasi ruang depan rumahnya. Zainal merupakan satu-satunya pengerajin miniatur di daerah itu.

Zainal memanfaatkan bagian dari rumahnya sebagai tempat usaha. Di sisi samping rumah Zainal terdapat ruangan ukuran 3×5 meter. Di ruangan itu Zainal sering menghabiskan waktu untuk membuat puluhan miniatur pinisi.

Zainal mengungkapkan bahwa sejak kecil, dirinya sudah sering membantu almarhum ayahnya yang juga seorang perajin.

“Semejak ayah saya meninggal pada 2015, saya mulai aktif mengerjakannya sendiri dari tahap pembuatan sampai pemasaran”. ungkapanya pada Cendana News, Selasa (07/02/2018).

Menariknya bodi miniatur pinisi karya Zainal terbuat dari limbah kayu jati merah dan putih. Karena, tidak membeli kayu, Zainal hanya membeli cat, lem dan benang nilon. Keseluruhan Zainal mengeluarkan modal Rp229.000.

Setiap bulan Zainal mampu mendapat omzet Rp1.000.000-Rp5.000.000, tergantung jumlah pesanan. Beberapa instansi pemerintahan Bulukumba juga menjadi langganan Zainal. Untuk harga jual Zainal mematok harga Rp150.000-Rp500.000, bergantung dari model serta ukuran.

Dalam pembuatan pinisi Zainal menggunakan dua metode, yaitu, dengan cara modern dan tradisional.

“Untuk membuat bodi saya memakai cara tradisional dan untuk menghaluskan saya mengunakan alat. Agar menghemat waktu saya membuat 10 miniatur pinisi dengan satu ukuran”. Jelasnya.

Di sisi lain Zainal mengalami kegundahan. Hal ini di sebabkan perajin miniatur pinisi telah berkurang. Dia menyebut saat ini jumlah perajin miniatur pinisi yang masih bertahan hanya dua orang. Keduanya berada di Desa Bontobahari.

“Tidak adanya minat menjadi faktor utaman, selain itu anak muda Bulukumba lebih memilih kerja kantoran,” keluh pemuda kelahiran 11 Oktober 1993.

Padahal pinisi sendiri merupakan alat transportasi laut khas Sulawesi Selatan. Dengan menjadi pengerajin miniatur pinisi, itu dia berharap mempertahankan warisan budaya, sekaligus kearifan lokal.

Jika perajin miniatur pinisi lenyap, maka generasi berikutnya tidak akan ada yang tahu alat tranportasi khas Sulawesi Selatan tersebut.

Zainal sangat berkeinginan medokumentasikan cara pembuatan pinisi akan tetapi terkendala alat. Dokumentasi tersebut agar mengedukasi masyarakat tentang cara pembuatan pinisi. Selain itu dirinya berkeinginan memotivasi orang lain menjadi pengerajin miniatur pinisi.

“Saya sangat mengiginkan pegawai sendiri. Tapi lebih dari itu saya mau mengajak teman-teman lain mempertahankan budaya kita”. tuturnya.

Lihat juga...