Peralatan Tangkap Ikan dari Bambu Masih Banyak Peminat

Editor: Koko Triarko

382

LAMPUNG — Berada di dekat area persawahan, rawa dan sungai, membuat kebutuhan akan alat tangkap ikan tradisonal cukup tinggi. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Warsito (88), warga Desa Sumberagung, Kecamatan Sragi, Lampung Tengah, untuk membuat sejumlah alat tangkap ikan dari bambu.

Sejak masih bujang, Warsito sudah bisa bisa membuat peralatan tangkap ikan dari bambu. Namun, kala itu itu ia memilih pekerjaan sebagai tukang bangunan membuat kusen  pintu, jendela sebagai pekerjaan utama. Saat memasuki usia senja, ia mulai menekuni usaha pembuatan peralatan dari bambu tali dominan alat tangkap ikan air tawar dan ikan laut. Meski terlihat sederhana, namun pekerjaan tersebut membutuhkan kesabaran dan ketelaten.

“Awalnya, sejumlah peralatan dari bambu saya pergunakan sendiri untuk mencari ikan dan mulai banyak warga yang memesan untuk dipergunakan sebagai alat tangkap dan sebagian untuk dijual kembali,” terang Warsito, yang ditemui Cendana News tengah menyelesaikan pesanan sebuah bubu bambu dari salah satu warga di beranda rumahnya, Selasa (27/2/2018).

Berbekal keahlian menukang dan potensi bambu tali, Warsito menekuni pembuatan peralatan dari bambu sejak lima tahun silam. Beberapa alat yang dibuat di antaranya jenis wuwu atau bubu ikan tawar dan ikan laut, gentul untuk menangkap kepiting, kumbu untuk wadah ikan, seser, serok, sosong, kempis, semuanya untuk mencari ikan.

Peralatan lain dari bambu berupa rigen untuk jemur kerupuk, kurungan ayam, kurungan burung, topi atau caping bambu juga dibuatnya.

Warsito juga pernah membuat perabotan kursi dan meja dari bambu, namun tenaga yang sudah tak perkasa membuatnya memilih mengerjakan sejumlah kerajinan tangan yang ringan. Sebagian peralatan dari bambu dipajang di depan gardu rumah, sekaligus menjadi penanda keberadaan usaha yang dibuat olehnya. Sebagian warga sudah mengenal Warsito sebagai pembuat peralatan dari bambu.

Warsito menjual berbagai peralatan buatannya mulai dari harga Rp3.000, Rp7.000 hingga kini sudah mencapai Rp30.000, bahkan maksimal seharga Rp50.000. Perkembangan penggunaan perabotan selain bambu disebutnya membuat permintaan perabotan bambu menurun, meski sejumlah peralatan dari bambu tetap dibuat oleh Warsito.

Laki-laki asal Trenggalek, Jawa Timur, tersebut mengaku merantau ke Lampung sejak 1978, dan awalnya bekerja sebagai petani dan tukang bangunan. Meski tidak mengenyam bangku sekolah, Warsito bisa membuat berbagai jenis perabotan dari kayu sebagai sumber penghasilan.

Kini, dengan tenaga terbatas, ia masih bisa membuat peralatan dari bambu dan hasilnya untuk membeli beras dan kebutuhan hidup sehari hari.

Alat dari bambu yang dibuat dengan tangan tersebut biasanya dibuat dalam waktu sehari, maksimal hingga lima hari. Pesanan dalam jumlah banyak kerap diperoleh dari pedagang keliling dan pencari ikan yang membutuhkan, terutama para pemilik tambak di wilayah tersebut.

Dalam sepekan, ia mengaku bisa memperoleh hasil penjualan alat sebanyak Rp50.000 hingga Rp100.000. Dalam kondisi musim penghujan saat ini, banyak warga yang mencari ikan membuat pesanan seser, wuwu dan kumbu meningkat. Ia kerap mendapat pesanan hingga puluhan bubu ikan yang dijual seharga Rp35.000 per buah untuk menangkap ikan.

Meski tidak memiliki lahan kebun bambu tali, ia masih bisa membuat peralatan dari bambu yang dipesan oleh masyarakat. Memiliki usaha kerajinan bambu dominan alat tangkap ikan laut dan tawar, menjadi penopang keluarga bersama istrinya, Tumpidah (55), yang bekerja sebagai buruh tanam padi.

Laki-laki dengan 5 anak, 14 cucu, dan 2 buyut tersebut mengaku saat ini masih menekuni usaha kerajinan bambu sekaligus menjadi kesibukan sehari hari.

“Saat ini saya sudah tidak bisa bekerja keras, bahkan ke sawah sehingga pekerjaan ini menjadi satu-satunya sumber mata pencaharian,” beber Warsito.

Sebagai salah satu warga yang menerima program beras sejahtera (Rastra), dirinya mengaku masih mendapatkan jatah 3 kilogram beras. Meski demikian, ia masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan membuat kerajinan dari bambu.

Permintaan yang masih tinggi membuatnya ia masih tetap bekerja membuat kerajinan perabotan dari bambu tali tersebut dalam kesederhanaan dan tinggal di rumahnya yang masih terbuat dari geribik bambu.

Baca Juga
Lihat juga...