PERGUNU Bali Sikapi Isu Kekerasan pada Guru

Editor: Koko Triarko

336
Lewa Karma, Ketua PERGUNU Bali -Foto: Sultan Anshori. 

DENPASAR– Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Bali, sangat mendukung langkah yang dilakukan Dewan PERGUNU pusat beberapa waktu yang lalu di Lampung, dalam menyikapi maraknya kekerasan oleh siswa terhadap gurunya.

Lewa Karma, Ketua PERGUNU Bali menyampaikan, hal tersebut memang harus cepat disikapi dengan serius, karena bisa berimbas buruk terhadap keberlanjutan dunia pendidikan ke depan.

“Kami selaku dewan guru NU di Bali sangat mendukung penuh langkah itu. Menurut saya, kejadian tersebut terjadi lantaran merosotnya karakter mulia siswa terhadap guru, sehingga penghormatan serta kompetensi guru yang diragukan”, ucap Lewa saat ditemui di sebuah acara di Denpasar, Kamis (15/2/2018).

Sebab itu, ke depan menurut pria asli Lombok ini, harus ada upaya sinergi antara steakholder  pendidikan maupun unsur lain dalam mengatasi persoalan kekerasan kepada guru oleh siswa. Jangan sampai para pemangku kebijakan, penyelenggara, pelaksana, serta pengawas pendidikan justru saling mengunggulkan tupoksi lembaga masing-masing. Sehingga tidak bisa melihat, menganalisis, dan menilai persoalan secara obyektif dan menyeluruh permasalahan yang sebenarnya terjadi.

Lebih lanjut, Lewa mengatakan, bahwa kerap kali dalam kasus kekerasan dalam dunia pendidikan, guru menjadi tersudutkan dengan dalih guru harus lebih memahami hak anak, harus bisa mengontrol emosi, masa perkembangan anak harus dipahami, dan lain sebagainya.

Ironisnya, yang memojokkan guru justru lembaga formal yang dibentuk pemerintah. Mestinya lembaga ini harus juga memperhatikan beban dan tanggung jawab guru dalam penyelenggaraan pendidikan.

 

“Bisa kita perhatikan bersama, lembaga seperti KPAI, misalnya, beberapa kasus kekerasan kepada guru oleh peserta didik cenderung menuduh guru tidak memahami anak, guru emosional, guru harus paham psikologi anak, guru tidak boleh menghukum. Padahal, tidak ada satu pun guru tanpa sebab atau tanpa tujuan menghukum siswa”, terang Lewa.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, Aris Adi Leksono, Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) dalam Halaqah Pendidikan yang diadakan oleh Pengurus Wilayah PERGUNU Lampung, Jum’at, (9/2/) lalu, menyampaikan penyesalan yang mendalam terhadap beberapa insiden yang menimpa guru di sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga menegaskan pentingnya membentuk komisi atau  Badan Perlindungan Guru, sehingga informasi dan tindakan dapat berjalan seimbang dan adil.

Hadir dalam halaqoh tersebut, kepala sekolah dan madrasah se-Kabupaten Pringsewu, Pengurus Ma’arif, Anggota DPRD, SKPD, dan sejumlah guru.

Aris dalam kesempatan itu, menyesalkan sikap Lembaga KPAI yang terkadang menyudutkan para dewan guru saat terjadi insiden kecil di sekolah, dengan seolah-olah guru tidak memiliki rasa adil, rasa mengayomi terhadap siswa, padahal menurutnya, tidak.

Selain itu, guru juga mempunyai tanggung jawab yang besar, yaitu tanggung jawab menanamkan karakter mulia, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga perlakuan yang dilakukan oleh guru kepada siswa semata-mata didasari ingin mewujudkan pribadi siswa yang unggul, tangguh, dan berakhlak, bukan semata-mata ingin melakukan kekerasan kepada siswa.

Baca Juga
Lihat juga...