Perpusnas: Minat Baca Masyarakat Indonesia Level 4

Editor: Koko Triarko

668

MALANG – Melihat hasil survey dari berbagai lembaga survey, data kondisi minat baca masyarakat Indonesia masih kurang menggembirakan. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pernah mengungkapkan, bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen, artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca. 

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Direktorat Deposit Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Dra. Lucia Damayanti, M.Hum., mengatakan, bahwa untuk dapat menilai tingkat kegemaran baca masyarakat tentu tidak dapat dilihat hanya dari satu aspek saja, tapi juga dari berbagai aspek, baik dari aspek sosial, kultural, maupun ekonomi. Sehingga perlu dicermati kembali apa memang benar kondisi minat baca masyarakat Indonesia rendah, karena kondisi minat baca tersebut ternyata hasilnya bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan yang menunjukkan, bahwa minat baca masyarakat Indonesia cukup tinggi.

Kepala Direktorat Deposit Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Dra. Lucia Damayanti, M.Hum. -Foto: Agus Nurchaliq

“Kita tidak menganggap itu terendah, karena berdasarkan hasil kajian kami yang terakhir, skala minat baca di Indonesia itu berada pada level 4, jadi tidak seperti yang disampaikan oleh UNESCO,” jelasnya dalam gelaran Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Gemar Membaca di Provinsi dan Kabupaten Kota Tahun 2018 di Gedung Kesenian Gajayana, Selasa (27/2/2018).

Selain itu, menurut Lucia, indeks literasi juga berkorelasi atau berhubungan dengan indeks menulis. Terbukti dari data Perpusnas pada 2017, tercatat ada 67 ribu judul buku yang diajukan untuk mendapatkan International Standard Book Number (ISBN).

“Jadi, kami optimis bahwa minat baca dan minat menulis di Indonesia bisa terus meningkat,” ucapnya.

Lucia menjelaskan, bahwa minat baca masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya fakta, bahwa masyarakat Indonesia pada dasarnya merupakan masyarakat berbudaya tutur, di mana bentuk pertukaran informasi masih dilakukan secara lisan. Faktor lainnya adalah keterbatasan bahan bacaan baik yang disediakan oleh perpustakaan maupun yang tersebar di masyarakat.

“Pada saat ini, perbandingan ketersediaan buku  dengan pembaca di Indonesia adalah 1:15.000. Artinya, satu buku untuk 15 ribu orang. Padahal, menurut UNESCO idealnya adalah dua buku untuk satu orang,” ungkapnya.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, baik secara online maupun offline.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Perpusnas Indonesia telah melakukan beberapa program yang mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya dari Komisi X DPR. Program tersebut di antaranya pemberian stimulan kepada berbagai jenis perpustakaan. Kemudian program perpustakaan digital yang menyediakan berbagai konten positif  melalui iPusnas yang dapat di-download melalui smartphone.

“Dengan men-download iPusnas, masyarakat bisa mengakses buku elektronik dan artikel elektronik yang jumlahnya cukup banyak dari berbagai subjek ilmu pengetahuan,” terangnya.

Lucia juga menyampaikan, dalam gelaran safari gerakan gemar membaca mengusung tema ‘Implementasi Revolusi Mental Melalui Mobilisasi Pengetahuan Dalam Rangka Meningkatkan Indeks Literasi Masyarakat’, sengaja diplilih karena pihaknya memandang perlu untuk memobilisasi pengetahuan yang ada di perpustakaan dalam rangka meningkatkan indeks kegemaran membaca masyarakat dan mendukung implementasi revolusi mental. Di mana peran perpustakaan adalah untuk menghubungkan sumber pengetahuan kepada pengguna pengetahuan.

Untuk itu, agar bisa memobilisasi pengetahuan dibutuhkan tindakan nyata, yaitu dengan mendorong semua jenis perpustakaan menjadi garda terdepan dalam menggerakkan pengetahuan, sehingga dapat dimanfaatkan secara aktif dan luas oleh masyarakat untuk mendukung transformasi pengetahuan.

“Mari kita semua bersinergi untuk terus meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia, “pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...