Pertahankan Mangrove, Masyarakat Pesisir Peroleh Manfaat Ekonomi dan Ekologis

Editor: Satmoko

245

LAMPUNG – Keberadaan tanaman mangrove yang berada di sepanjang pesisir timur Lampung memiliki beragam manfaat salah satunya dirasakan warga Dusun Muara Piluk Bakauheni.

Keberadaan tanaman mangrove di wilayah Bakauheni bahkan membentang hingga puluhan kilometer dari Dusun Sukarame, Dusun Pegantungan, Dusun Way Baka, Dusun Way Baru. Meski sebagian lahan dikuasai perusahaan sektor pertambakan keberadaan mangrove masih dipertahankan di sepanjang sepadan pantai.

Budiman (40) salah satu nelayan menyebut, di sela-sela pekerjaan rutin sebagai nelayan dirinya menjadi penyedia jasa ojek perahu. Keberadaan tanaman bakau yang sebagian membentang membentuk kawasan hutan mangrove diakuinya memiliki manfaat besar. Akar-akar nafas yang memperkuat tanah di tepi pantai dimanfaatkan sebagai tempat tambatan perahu dan jembatan penghubung dengan daratan.

“Areal lahan mangrove yang masih bertahan memang sudah dimiliki oleh perorangan namun harapan kami pohon mangrove jenis ketapang, api-api dan pulut-pulut masih dipertahankan,” terang Budiman, salah satu nelayan sekaligus penyedia ojek perahu di Dusun Muara Piluk Desa Bakauheni, saat ditemui Cendana News, Rabu (14/2/2018).

Upaya mempertahankan mangrove selama puluhan tahun tersebut, diakui Budiman sekaligus memberi manfaat ekologis bagi warga. Pada saat badai siklon tropis dahlia menerjang kawasan pesisir pantai Lampung Selatan, Budiman menyebut, keberadaan mangrove di kawasan tersebut ikut berperan. Selain menahan abrasi pantai dari gelombang dan angin, rumah warga juga aman dari puting beliung.

Tambatan dan jembatan penghubung ke daratan pada pohon mangrove di Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Selain menahan terjangan angin dan gelombang laut, keberadaan pepohonan mangrove sekaligus menjadi habitat satwa. Beragam jenis burung air dan hewan air bahkan masuk melalui saluran ke area pepohonan mangrove menuju ke laut lepas. Keberadaan pepohonan mangrove yang menghijau ikut menjadi penyerap polusi kawasan yang dekat dengan pelabuhan penyeberangan dan Jalan Lintas Sumatera tersebut.

“Polusi asap kapal dan kendaraan di jalan ikut terserap oleh tanaman mangrove dan tentunya menghasilkan udara segar bagi masyarakat pesisir,” terang Budiman.

Sebagai tempat habitat ikan wilayah tanaman mangrove digunakan sebagian nelayan tradisional untuk mencari kerang, ikan dan kepiting bakau sehingga mendapat keuntungan secara ekonomis. Pada musim kepiting bakau dan rajungan sejumlah nelayan bahkan memasang perangkap berupa jaring dan bubu untuk memperoleh tangkapan kerang serta kepiting.

Sodik (39) salah satu nelayan tradisional pencari ikan dengan jaring bahkan merasakan manfaat keberadaan pohon mangrove di wilayah tersebut. Ia mempergunakan waring khusus untuk menangkap ikan jenis belanak, udang dan kepiting bakau, serta kepiting rajungan. Selain dikonsumsi sendiri jenis kepiting bakau ukuran besar yang kerap diperoleh diakuinya dijual ke pasar dengan harga Rp30.000 untuk dua ekor.

“Jika tanaman mangrove di kawasan ini dimusnahkan dipastikan tidak akan ada lagi tempat untuk habitat kepiting dan saya harus mencari di tempat yang jauh,” terang Sodik.

Sodik mencari rajungan dan ikan belanak pada rumpun tanaman mangrove yang dipertahankan warga Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Salah satu kawasan yang masyarakatnya masih mempertahankan mangrove, diakui Sodik, berada di Pegantungan. Meski demikian, ia menyebut, sebagian tanaman mangrove di wilayah tersebut terutama jenis Stigi kerap dicuri oleh oknum tak bertanggungjawab.

Akibatnya, area pesisir banyak yang terkena abrasi dan rusak, meski awalnya merupakan habitat alami satwa pesisir pantai.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.