Pesona, Alat Pengompos Multiguna Inovasi Warga Sleman

Editor: Koko Triarko

387

YOGYAKARTA – Seorang warga dusun Kranggan 1, Jogotirto, Berbah, Sleman, membuat inovasi bak penampungan sampah organik sekaligus alat pengompos baru yang diberi nama Pesona atau Pengompos Sampah Organik Natural Multiguna.

Maryoto, lelaki itu terinspirasi membuat alat pengompos batu tersebut setelah aktif mengelola bank sampah di dusunnya. Awalnya, Maryoto menggunakan alat pengompos konvensional dari bambu. Namun, ternyata alat tersebut dinilai kurang efektif dan cepat rusak.

“Awalnya, saya hanya pakai bambu. Tapi, dalam prakteknya, kalau dari bambu itu untuk mengambil kompos yang sudah jadi susah. Harus bongkar semua. Dari sisi keawetan juga tidak tahan lama,” katanya.

Dari situlah Maryoto yang sehari-hari berprofesi sebagai perajin ukir batu ini merancang alat pembuat kompos sendiri. Ia buat alat itu dari batu putih yang biasa digunakannya untuk hiasan taman. Menurutnya, alat pembuat kompos buatannya ini memiliki banyak keunggulan.

“Pertama, secara keawetan jelas alat ini bisa tahan jauh lebih lama dibanding bambu. Kedua, untuk mengambil kompos yang sudah jadi lebih enak, karena pada bagian bawah bisa dibuka. Jadi, tidak perlu bongkar semua,” katanya.

Menurut Maryoto, alat pembuat kompos ini juga ramah lingkungan, karena terbuat dari batu alam. Dari sisi keindahan, alat pembuat kompos ini juga lebih menarik, sehingga tidak masalah jika ditaruh di depan rumah.

“Karena terbuat dari batu alam, ditaruh di depan rumah atau taman pun tidak masalah. Justru bisa menjadi hiasan. Walaupun sebenarnya berisi sampah organik, tetap tidak kelihatan,” katanya.

Salah satu keunggulan lainnya, alat pengompos sampah organik buatan Maryoto ini juga bisa digunakan sebagai tempat beternak cacing. Maryoto sudah mengujicobakan hal itu, dan berhasil, meski belum sempat memanen.

“Sampah organik yang telah menjadi kompos itu ternyata bisa digunakan untuk media memelihara cacing. Tidak perlu memberi makan, karena kebutuhan makan cacing sudah terpenuhi. Jika dikembangkan, tentu akan sangat bernilai ekonomis,” katanya.

Untuk membuat alat pengompos itu, jelas Maryoto, cukup dengan merangkai lempengan batu menjadi bentuk persegi atau kotak. Pada bagian bawah kotak sengaja tidak diberi alas, sehingga sampah organik bisa langsung bersentuhan dengan tanah.

“Setiap sisi dinding batu harus dilubangi, agar udara bisa masuk dan proses pengomposan berjalan dengan baik. Untuk memudahkan pengambilan cacing atau kompos yang sudah jadi, di salah satu sisi dinding bagian bawah dibuat pintu, sehingga bisa di buka tutup,” ujarnya.

Meski terbilang baru, Maryoto berharap, hasil inovasinya itu ke depan bisa menginspirasi masyarakat, khususnya warga di desanya untuk memanfaatkan sampah organik menjadi kompos. Dan, tak perlu lagi memandang kotor atau jijik terhadap bak penampungan sampah organik semacam itu.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.