Petani Penengahan Mulai Melakukan Pemupukan Pasca Distribusi Pupuk Lancar

Editor: Irvan Syafari

212

LAMPUNG — Pendistribusian pupuk bersubsidi yang sempat tersendat membuat petani padi dan jagung sempat mengalami keterlambatan hampir selama dua pekan.

Margiyanto (39), salah satu petani padi di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan mengaku terlambat memupuk selama dua pekan. Keterlambatan pemupukan pada usia padi satu bulan tersebut disiasati dengan pemberian pupuk kandang. Setelah pupuk bersubsidi ditebus pemberian pupuk kimia Urea, Phonska dan SP-36 ditebar dengan proses pencampuran.

Salah satu kendala keterlambatan distribusi pupuk bersubsidi akibat beberapa anggota kelompok tani belum membayar. Sebanyak 25 anggota kelompok tani Panca Usaha Tani terpaksa meminjam dari koperasi untuk proses penebusan pupuk. Selanjutnya anggota kelompok mengembalikan uang kepada koperasi unttuk penebusan pupuk.

“Kegagalan panen serta kebutuhan hidup membuat sebagian petani meminjam uang untuk menebus pupuk sebagian berhutang pada agen pupuk yang penting bisa melakukan proses pemupukan,” terang Margiyanto kepada Cendana News, Selasa (13/2/2017)

Alokasi kebutuhan pupuk bersubsidi disebutnya menyesuaikan kebutuhan setiap anggota kelompok. Kelompok mengajukan kebutuhan berdasarkan Rencana Dasar Kebutuhan Kelompok (RDKK) dengan kuota maksimal 10 ton pupuk jenis SP36,Phonska dan Urea.

Untuk lahan seluas setengah hektare dengan pemupukan selama dua kali Margiyanto membutuhkan pupuk sebanyak 5 kuintal pupuk.

Margiyanto menyebut sistem billing pembelian pupuk melalui kelompok tani disebutnya memudahkan petani. Harga setiap sak pupuk berukuran 50 kilogram dibelinya dengan harga Rp120.000 untuk pupuk SP-36, pupuk Urea seharga Rp115.000 dan pupuk Phonska dibeli dengan harga Rp130.000 per sak.

Harga tersebut diakuinya lebih murah dengan jenis sama tanpa subsidi di antaranya SP36 seharga Rp140.000, Urea Rp130.000 dan Phonska Rp160.000 per sak dari agen pupuk.

“Jika distribusi tersendat hampir satu bulan pilihan kami memang hanya pada pupuk non subsidi meski mahal yang penting bisa memupuk,” paparnya.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) DPTPHBun UPTD Kecamatan Penengahan Maryono daat dihubungi melalui telepon menyebutkan petani yang tergabung melalui kelompok tani tak perlu kuatir akan kebutuhan pupuk bersubsidi.

Sebab menurutnya berdasarkan Surat Keputusan Kepala DPTPHBun Lampung Selatan Nomor: 521/11/IV.22/2018 tentang penetapan alokasi pupuk bersubsidi sektor pertanian tahun 2018 untuk pupuk urea sebesar 42.897 ton, SP-36 sebanyak 7.390 ton, ZA sebanyak 2.391 ton, NPK sebanyak 25.453 ton dan organik sebanyak 4.700 ton.

“Alokasi pupuk bersubsidi tersebut tentunya mengacu pada pengajuan kelompok tani melalui RDKK yang menjadi syarat bagi kelompok untuk menebus pupuk,” tutur Maryono.

Maryono juga menyebut bekerjasama dengan pihak Bintara Pembina Desa Koramil 03/Penengahan dalam pendistribusian pupuk bersubsidi.

Upaya tersebut diakuinya menghindari penyelewengan pendistribusian pupuk sehingga petani tidak mengalami kesulitan memperoleh pupuk terutama pada masa pemupukan pertama tanaman padi dan pemupukan kedua pada tanaman jagung.

Menurut Babinsa Koramil 03/Penengahan Sersan Dua Sudarwanto salah satu keluhan petani jagung dan padi adalah pasokan kebutuhan pupuk.

Ia terus mendampingi sejumlah petani di wilayah Kecamatan Penengahan, Bakauheni dan Ketapang dalam upaya khusus swasembada padi, jagung dan kedelai (Upsus Pajale). Kebutuhan pupuk disebutnya sudah bisa ditebus melalui kelompok tani yang melakukan pembelian menggunakan sistem billing.

“Setiap anggota kelompok bisa menebus melalui kelompok petani selanjutnya didistribusikan ke anggota saat masa pemupukan,” terang Sudarwanto.

Masa tanam tidak serempak pada lahan pertanian jagung dan padi disebutnya membuat kebutuhan pupuk berbeda setiap wilayah. Selain berkoordinasi dengan kelompok tani, pihak Babinsa tetap berkoordinasi dengan dinas pertanian dan penyuluh pertanian dalam mendukung upsus pajale.

Serda Sudarwanto mendampingi petani dalam upaya swasembada padi, jagung dan kedelai /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.