Posdaya Jatisari Kembangkan Pestisida Organik Pembasmi Kresek

Editor: Koko Triarko

189

YOGYAKARTA – Warga dusun Jatisari, Playen, Gunungkidul, mengembangkan pestisida organik, guna mengatasi serangan hama padi berupa penyakit kresek atau Hawar Daun Bakteri (BLB). Pestisida organik ini dibuat dengan memanfaatkan buah kentang yang difermantasi menggunakan bakteti corine sp. 

Selain mampu membasmi serangan penyakit kresek yang kerap menyerang lahan padi milik petani, pembuatan pestisida organik ini juga mampu meningkatkan hasil panen.

Pembuatan pestisida organik ini dilakukan pascabanyaknya penyakit kresek yang menyerang lahan persawahan warga dusun Jatisari sejak beberapa tahun silam. Padahal, pertanian menjadi sektor utama mata pencaharian warga dusun Jatisari selama ini.

Penyakit kresek atau Hawar Daun Bakteri (BLB) merupakan penyakit yang kerap menyerang tanaman padi dan sulit diobati. Padi yang terserang penyakit jamur ini biasanya akan mengalami perubahan warna pada daun menjadi menguning atau kemarah-merahan. Jika sudah begitu, biasanya petani akan mengalami gagal panen.

“Penyakit kresek ini sulit diatasi, karena tidak ada pestisida yang mampu mengobati. Dari situ kita mencoba membuat pestisida sendiri. Dengan bantuan dinas pertanian, akhirnya kita berhasil mengembangkan pestisida alami yang efektif mengatasi hama kresek ini,” ujar Kepala Dusun Jatisari, Agus Purwadi.

Lewat Posdaya Jatisari yang ada di tingkat dusun, warga pun kemudian memproduksi pestisida organik tersebut secara berkelompok.

Ketua Posdaya Jatisari, Sukarman, menjelaskan pestisida organik ini dibuat dengan memanfaatkan kentang yang direbus kemudian difermentasi menggunakan bakteri corine sp.

“Jadi, kentang itu kita rebus untuk kita ambil airnya. Air rebusan kentang kemudian kita beri bakteri corine, lalu kita fermentasi selama 2-3 minggu dengan diaerator. Dari sekitar 10 kilo kentang bisa digunakan untuk menyemprot 25 hektare lahan padi,” katanya.

Selain membuat pestisida organik, melalui Posdaya Jatisari, warga yang tergabung dalam sejumlah kelompok tani, juga mengembangkan obat alami pemacu pertumbuhan tanaman atau PGPR (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria) hingga pupuk organik cair (POC).

Memanfaatkan bahan-bahan alami seperti akar bambu, akar daun putri malu, hingga akar rumput odot dan tetes tebu, mereka membuat PGPR yang sangat bagus memperkuat akar tanaman seperti cabai, sehingga tidak mudah busuk dan diserang hama serangga.

Begitu pula pembuatan POC yang memanfaatkan limbah berupa brodot/jeroan ternak, air kencing kambing, air kencing kelinci, hingga air leri perasaan beras.  “Berbagai produk pertanian organik ini jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya petani. Selain bisa mengatasi hama penyakit, adanya pestisida maupun pupuk organik ini juga sangat menghemat biaya produksi,” katanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.