Produksi Bawang Merah Sumbar Hanya 96.045 Ton di 2017

Bawang merah. Foto: Ferry Cahyanti

PADANG — Produksi bawang merah di Sumatera Barat selama 2017 mencapai 96.045 ton atau tidak mencapai target yakni 200.000 ton, kata pejabat Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan provinsi setempat.

“Tidak tercapainya target tersebut disebabkan beberapa faktor, salah satunya seperti cuaca yang tidak mendukung,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sumbar, Maswal Noor di Padang, Sabtu.

Ia menyebutkan produksi bawang merah itu terdapat di beberapa daerah, seperti Kabupaten Solok 82.677 ton, Agam 4.970 ton, Solok Selatan 4.586 ton, Tanah Datar 1.957 ton dan Limapuluh Kota 592 ton.

Selanjutnya Kota Payakumbuh 487 ton, Kabupaten Pesisir Selatan 472 ton, Kota Bukittinggi 68 ton, dan Kabupaten Padang Pariaman 66,2 ton.

Untuk luas tanam bawang merah pada 2017 yakni 9.749 hektare dan luas panennya 9.000 hektare. “Kabupaten Solok merupakan sentra bawang merah terbesar di Sumbar,” tambah dia.

Selain bawang merah, produksi bawang putih di Sumbar selama 2017 sebanyak 686,9 ton. Daerah produksinya yakni di Kabupaten Solok sebanyak 683,9 ton dan Limapuluh Kota tiga ton.

Untuk mencapai target dan meningkatkan produksi bawang merah ke depan, pihaknya memberikan bantuan seperti bibit, pelatihan peningkatan sumber daya manusia dengan sekolah lapangan, bantuan sarana dan pra sarana panen dan pacapanen.

“Kami juga lakukan pembinaan dan memotivasi petani melalui lomba dan pemberian penghargaan,” ujar Maswal.

Terkait pemasaran bawang merah ke provinsi lain, ia menyampaikan beberapa waktu lalu Gubernur Sumbar sudah melakukan kerja sama dengan Gubernur Kepulauan Riau di sektor pangan.

“Ke depan ini akan menjadi tindak lanjut bagi kami untuk mendistribusikan bawang merah ke provinsi-provinsi tetangga,” ujarnya.

Sebelumnya, untuk mendukung produksi bawang merah di Sumbar, Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan kawasan perbenihan dan bioindustri bawang merah di Nagari Sungai Nanam, Kabupaten Solok.

“Kami memfasilitasi kelompok tani bintang timur dengan instore dryer bawang merah untuk memudahkan petani di daerah ini mengeringkan bawang, dengan waktu pengeringan yang lebih singkat selama empat hingga lima hari,” jelas Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) PascaPanen Pertanian Kementan, Risfaheri.

Jika menggunakan pengeringan tradisional membutuhkan waktu 15-20 hari, sementara dengan menggunakan alat instrore dryermampu menampung hingga 14 ton bawang merah. Dan juga dilengkapi dengan mesin pengupas bawang.[ant]

Lihat juga...