hut

Putu Cangkir, Kue Tradisional Khas Bugis

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAKASSAR — Putu cangkir, kue tradisional khas Bugis ini masih bisa dijumpai di beberapa daerah, salah satunya di jalan Baruga Raya Antang Makassar, Sulawesi Selatan. Kue yang berbentuk cangkir ini cukup diminati masyarakat setempat.

“Kalau sore saya kewalahan melayani permintaan dari pelanggan,” sebut Fatimah, pemilik warung kecil 2×1 meter yang digunakan untuk berjualan putu cangkir.

Disebutkan, kue yang terbuat dari campuran tepung beras, gula merah dan juga kelapa parut ini terasa gurih legit di lidah. Apalagi kalau dimakan saat hangat.

Untuk proses pembuatan kue putu cangkir hampir sama dengan kue putu lainnya. Pertama perlu menghaluskan beras ketan terlebih dahulu. Setelah itu beras ketan di remas bersamaan dengan gula merah.

Masuk pada tahap pemasakan adonan bercampur parutan kelapa di taruh pada cetakkan berbentuk corong. Lalu adonan yang berada dalam cetakkan di masak menggunakan uap air sekitar lima menit.

Fatimah menjelaskan, diantara semua kue orang Suku Bugis, kue putu cangkir yang paling gampang untuk dibuat.

“Kue putu cangkir hanya membutuhkan waktu pemasakan yang sangat sebentar dan proses pembuattan juga cukup mudah,” ujar wanita 30 tahun ini.

Dulunya kue lawas ini cuma memiliki dua variasi warna, yaitu warna putih dan coklat. Namun, sekarang dapatditemui putu cangkir dengan varian warna yang bermacam-macam. Contohnya saja varian warana pink, hijau, ungu, orange.

putu cangkir
Fatimah, penjual putu cangkir/Foto Nurul Rahmatun Ummah

Menariknya, untuk membuat putu cangkir beraneka warna, Fatima memakai bahan alami. Variasi warna pada putu cangkir di lakukan untuk tetap menarik pembeli dari kaum muda.

Fatima mengatakan, kalau variasi warna tersebut tidak dibuat maka putu cangkir tersebut tidak akan bertahan di tengah banyaknya kue modern.

“Walaupun variasi putu cangkir dilakukan tapi saya menggunakan bahan alami seperti ubi jalar ungu, wartel, sayur-sayuran hijau dan buah naga,” tutupnya.

Lihat juga...