Reboisasi Amankan Warga Penengahan dari Banjir Tahunan

Editor: Satmoko

310

LAMPUNG – Banjir tahunan yang kerap melanda wilayah Lampung Selatan khususnya di wilayah Kecamatan Ketapang, Penengahan dan Palas masih disebabkan oleh derasnya aliran Sungai Way Pisang dan beberapa sungai lain di wilayah tersebut.

Puluhan perumahan dan lahan pertanian warga di Desa Legundi dan Desa Ruguk Kecamatan Ketapang bahkan tergenang air pasca-hujan melanda wilayah tersebut Minggu (25/2) hingga Senin (26/2). Meski sudah surut warga masih was-was banjir susulan akibat potensi hujan masih tinggi di wilayah tersebut.

Selain wilayah Desa Ruguk dan Desa Legundi Kecamatan Ketapang, banjir juga pernah melanda wilayah Dusun Buring Desa Sukabaru dan Desa Tetaan, serta Desa Gayam akibat Sungai Way Pisang meluap.

Kondisi tersebut diakui oleh Hendra warga desa Sukabaru yang rumahnya pernah mengalami kerusakan akibat banjir. Banjir terbesar diakuinya terjadi lima tahun silam merendam puluhan rumah di wilayah daerah aliran sungai dan membuat warga mengungsi ke tempat yang aman.

Marsim melintas di jembatan gantung yang pernah putus akibat banjir [Foto: Henk Widi]
“Banjir terjadi malam hari sesudah hujan dan bantaran sungai tidak memiliki tanaman penahan, sementara di bagian hulu sungai sudah banyak lahan dijadikan sebagai lokasi menanam jagung, banyak pohon ditebangi,” beber Hendra, saat ditemui Cendana News di tepi Sungai Way Pisang, tepat berada di dekat rumahnya, Rabu (28/2/2018).

Hendra menyebut, selain merendam perumahan warga dampak banjir juga menggerus daerah aliran Sungai Way Pisang. Sampah-sampah kayu tebangan yang ikut terbawa menjadi penyebab semakin meluapnya air sungai. Tidak adanya lahan peresapan air di daerah aliran sungai yang bermata air di Gunung Rajabasa menjadi faktor utama banjir.

Pasca banjir lima tahun silam, kesadaran warga untuk menjaga bantaran sungai mulai dilakukan dengan menanam pagar hidup. Pagar hidup terbuat dari bambu dan kini menjadi hutan bambu dan hutan jati ambon serta jati putih berjajar di sepanjang aliran sungai. Meski kerap terjadi banjir akibat intensitas hujan tinggi air tidak meluap ke perumahan warga.

“Adanya hutan bambu selain sebagai penyerap air juga menjadi pencegah longsor di bantaran sungai, bambu juga kami manfaatkan sebagai bahan bangunan,” terang Hendra.

Pentingnya lahan resapan air dengan melestarikan daerah aliran sungai juga diakui Marsim (40). Petani pemilik lahan tepi sungai Way Pisang tersebut bahkan menanam sekitar 500 tanaman jati ambon. Berkat tanaman jati ambon tersebut aliran air hujan selalu terserap ke tanah dan tidak mengalir ke sungai menyumbang debit air tinggi penyebab banjir.

“Warga trauma dengan banjir akibat penebangan pohon dan tidak menjaga tanaman di bantaran sungai, kini semenjak banyak tanaman bambu dan reboisasi jarang terjadi banjir,” beber Marsim.

Marsim bahkan menyebut, kesadaran tersebut mulai dilakukan warga di dekat area Gunung Rajabasa. Penanaman kembali lahan yang sudah dirombak dengan berbagai jenis tanaman kayu ikut membantu peresapan air. Sebagian tanaman produktif seperti kemiri, durian, dan jengkol ikut memberi sumber ekonomi penanamnya.

Marsim menyebut, sengaja menanam jati ambon serta tanaman lain sebagai tanaman investasi. Selain itu dirinya memanfaatkan tanaman jati ambon sebagai tanaman konservasi. Selain mencegah longsor kawasan tepi sungai, keberadaan tanaman diakuinya ikut membantu peresapan air hujan.

Kurangnya lahan resapan dan drainase yang buruk mengakibatkan banjir dan genangan air melanda wilayah Desa Ruguk Kecamatan Ketapang [Foto: Henk Widi]
Sebagian warga yang tinggal di DAS Way Pisang dan dekat hutan lindung Gunung Rajabasa juga mudah memperoleh bibit. Bibit tanaman kayu diakui Marsim sebagian diperoleh dari Persemaian Permanen di Kecamatan Ketapang yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan disediakan secara gratis.

“Reboisasi dan menjaga tanaman kayu di dekat kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa setidaknya bisa mengamankan perkampungan warga dari banjir tahunan,” beber Marsim.

Selain melakukan penanaman pohon di bantaran sungai, warga Desa Sukabaru juga kerap melakukan gotong royong. Gotong royong membersihkan aliran sungai Way Pisang dilakukan setiap hari Jumat dengan membersihkan sampah.

Tanaman jati ambon di wilayah daerah aliran sungai membantu peresapan air saat hujan [Foto: Henk Widi]
Sampah yang didominasi limbah pertanian yang terbawa aliran sungai juga mengakibatkan sungai terbendung. Pembersihan dilakukan mengantisipasi air sungai meluap ke perkampungan warga saat intensitas hujan tinggi.

Baca Juga
Lihat juga...