Sandiaga Tata Kampung Kumuh jadi Rusun Hibrida

Editor: Satmoko

280

JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno mengatakan, saat ini sedang menyusun penataan kawasan kumuh dengan konsep kemitraan.

Penataan kawasan kumuh Jakarta ini sudah menjadi program prioritas Pemprov DKI selama lima tahun ke depan. Sebanyak 16 kampung kumuh dengan kondisi miskin akan kembali ditata secara komprehensif melalui konsep Kerjasama Masyarakat Pemerintah dan Badan Usaha (KMPBU).

Sandi menyebutkan, ada dua program utama yang akan dibahas dalam pertemuan itu. Mengenai akses air bersih sekaligus sanitasi dan pembangunan rusun hibrida. Pembangunan rusun hibrida, kata Sandi, merupakan penataan yang tidak memindahkan warga dengan konsep rusun empat sampai lima lantai.

“Semoga model ini bisa bekerja. Bisa ditiru modelnya untuk penyelesaian di daerah lain. Termasuk di Kepuluan Seribu. Itu bersejarah karena warga RW 17 menjadi bagian dari diskusi. Semoga saya datang ke RW 17 sudah tertata dengan baik,” kata Sandi di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (13/2/2018).

Penyusunan dan penataan kawasan kumuh dengan konsep kemitraan, kata Sandi, melibatkan partisipasi kelompok masyarakat sipil atau non-govermental organization (NGO) dan badan usaha.

“Langkah baru dalam penataan kota juga lebih melibatkan masyarakat, khususnya di RW 17 di Penjaringan. Pertemuan ini merupakan kemitraan masyarakat, pemerintah dan badan usaha. Kami mengundang unsur NGO yakni Huan Cities Coalition,” tegasnya.

Pada proyek ini, Sandi akan memastikan akses air dan sanitasi ada dalam satu paket. Selain itu, bakal dibangun rumah susun atau rumah hibrida di kawasan kumuh miskin dan kumuh padat (Kumis Kupat). Bangunan ini  4 atau 5 lantai, namun tidak menggunakan lift.

Kemudian dia berharap, konsep rusun hibrida menjadi solusi daerah kumuh yang rentan terhadap permasalahan sosial dan kebakaran, seperti di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Dia pun akan memilih lokasi buat uji coba di sekitar kawasan Penjaringan. Karena sejak Oktober 2017 telah ada pembicaraan dengan warga setempat.

“Mereka mendukung kedua proyek tersebut,” tuturnya.

Lanjut Sandiaga, selama ini warga dipindahkan ke rusun yang lokasinya jauh dari tempat tinggal asal. Kalau menggunakan konsep rusun hibrida, maka akan dibangunkan rusun yang ada di tempat mereka.

“Mereka tidak tercerabut dari ekosistem tempat tinggalnya yang telah berpuluh-puluh tahun. Nanti kami pastikan fasilitasi pendidikan ada dan peluang usaha juga terbuka,” ujarnya.

Sementara, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Oswar Muadzin menyampaikan, bahwa baru pertama kali dilakukan penataan kawasan kumuh dengan konsep kemitraan. Prosesnya sudah berjalan selama setahun.

“Kalau ini berhasil maka akan menjadi contoh kota lain di Indonesia,” tandasnya.

Diketahui, berbagai upaya dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan kebersihan di ibu kota, seperti melaksanakan program-program yang menunjang kebersihan dan peningkatan kualitas lingkungan.

Misalnya Normalisasi dan Naturalisasi Sungai sebagai usaha mengembalikan sungai ke fungsi awal. Normalisasi dilakukan saat kondisi sungai sudah terlalu dangkal sehingga membutuhkan pengerukan. Apalagi, ditambah banyaknya dinding sungai yang rawan longsor, adanya sistem aliran yang belum terbangun dengan baik dan banyaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) yang disalahgunakan untuk pemukiman penduduk.

Oleh karena itu, diharapkan dapat segera dirumuskan dan disepakati penerapan teknologi tentang model gabungan air minum dan sanitasi, metode baru penyediaan perumahan, serta peningkatan kualitas air di waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara yang dapat mempercepat peningkatan akses air bersih, sanitasi dan infrastruktur di pemukiman padat penduduk.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berharap ke depan akan ada prakarsa yang sama dari organisasi lain untuk meningkatkan kondisi lingkungan Kota Jakarta menjadi lebih baik.

Baca Juga
Lihat juga...