Sawut Kuliner Tradisional Berbahan Singkong yang Cocok untuk Sarapan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

842

LAMPUNG — Sawut, kuliner khas Gunung Kidul Yogyakarta yang berbahan dasar singkong ternyata cukup populer di wilayah Lampung Selatan. Warga yang merupakan transmigran tersebut tepat mempertahankan kuliner daerah asal apalagi didukung dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Suyatinah (57) salah satu warga desa Pasuruan kecamatan Penengahan menyebutkan, bahan dasar dipilih dari jenis singkong roti yang memiliki tekstur lembut dan pulen sehingga mudah dibentuk menjadi sawut.

Sawut menjadi pilihan untuk sarapan dan dibawa sebagai bekal saat akan ke ladang. Rasa khas singkong dipadukan dengan manis gula merah, gula putih dan parutan kelapa sangat cocok disantap bersama dengan secangkir teh hangat.

Sebutan sawut, sepintas menyesuaikan istilah mawut yang dalam bahasa Jawa disebutnya memiliki makna tak beraturan, tumpah atau berantakan. Kondisi tersebut terlihat dari cara penyajian dan bentuk saat dibuat hingga disajikan, meski kini dibuat dengan lebih rapi dan kerap disajikan lebih menarik.

Proses pembuatan sawut sangat sederhana dengan memilih singkong yang sudah dibersihkan. Selanjutnya diparut mempergunakan parutan kasar. Bumbu dasar berupa garam dan vanili, gula merah dan garam. Tambahan daun pandan sebagai pewangi bisa diberikan saat proses pengukusan berlangsung.

Sembari menunggu parutan singkong matang dalam proses pengukusan, disiapkan taburan parutan kelapa yang dikombinasikan dengan garam untuk penambah rasa gurih. Proses mematangkan sawut membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan panas api kompor gas secukupnya.

sawut
Suyatinah memasukkan parutan singkong dan bahan lain dalam dandang untuk dikukus hingga matang menjadi sawut [Foto: Henk Widi]
Setelah matang, penyajian dengan mempergunakan daun pisang bisa dilakukan dan parutan kelapa menjadi sentuhan akhir. Proses pembuatan yang cepat dan sederhana dengan bahan yang mudah diperoleh dari kebun membuat sawut sebagai menu sarapan bisa cepat disajikan.

“Menu ini saya buat karena saat pagi anggota keluarga kerap tidak menyukai menyantap nasi,” beber Suyatinah saat dibantu Atin tetangganya yang ingin mencoba resep sawut singkong.

Edi Gunawan (30) menyebutkan, rasa beragam berupa manis, gurih, asin dari berbagai campuran bahan sangat menggugah selera.

“Saya kerap minta dibawakan satu bungkus sawut singkong untuk dibawa ke sawah sebagai bekal,”terang Edi Gunawan.

Menu tradisional berbahan singkong tersebut diakuinya menjadi pilihan untuk mengurangi konsumsi beras. Sumber asupan karbohidrat yang hampir setara dengan nasi dari beras sekaligus cara menghemat beras.

Baca Juga
Lihat juga...