Sistem Gaduh, Cara Berbagi Investasi Hewan Ternak

Editor: Koko Triarko

146
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

LAMPUNG — Beternak sistem gaduh menjadi salah satu cara warga Dusun Gubang Gajah, Desa Kelawi, untuk mendapatkan ternak kambing bagi warga yang semula tidak memiliki ternak.

Marjaya (60), warga setempat mengaku memiliki 25 kambing jenis koploh yang sebagian besar dipelihara dengan sistem gaduh. Sebanyak dua puluh kambing disebutnya dipelihara di Pulau Rimau Balak Kecamatan Ketapang.

Menurut Marjaya, sistem gaduh awalnya merupakan cara untuk membantu warga lain yang tidak mampu membeli ternak. Ada sekitar lima hingga enam keluarga yang disebutnya dibantu dengan sepasang indukan jantan dan betina. Saat indukan sudah menghasilkan anakan pertama, maka anakan menjadi hak pemelihara.

“Baru pada peranakan tahap kedua dan seterusnya, anaknya dibagi dua, karena biasanya sekali beranak dua ekor jantan dan betina,”ungkap Marjaya, peternak kambing di Dusun Gubang Gajah, saat ditemui Cendana News, Selasa (13/2/2017).

Pada saat ternak kambing yang digaduh menghasilkan anakan berikutnya, maka anakan itu akan menjadi hak pemilik kambing dan juga penggaduh. Sistem tersebut membuat sebagian warga akhirnya bisa memiliki kambing dari hasil menggaduh. Namun, ada juga penggaduh yang meminta bagian berupa uang senilai harga kambing anakan.

Jenis kambing koploh dengan ciri khas telinga panjang, kata Marjaya, pada usia dua bulan sudah laku seharga Rp600.000 per ekor. Sebagian warga yang menggaduh kerap ada yang memiliki kesepakatan hanya memilih jatah kambing betina atau jantan saja.

Konsep bagi hasil tersebut sudah menjadi kebiasaan bagi peternak di wilayah tersebut sekaligus investasi bagi pemilik ternak. “Awalnya saya memiliki kambing juga dengan sistem gaduh, selanjutnya mulai memiliki modal membeli kambing dalam jumlah banyak,” terang Marjaya.

Selain untuk membantu warga yang belum memiliki ternak menjelang hari raya Idul Adha, Marjaya kerap menitipkan ternak kambing untuk dipelihara. Kambing dengan modal sekitar Rp10 juta disebutnya kerap dipelihara untuk dijual menjelang hari raya Idul Adha dengan modal menjadi hak pemilik dan keuntungan dibagi dua.

Marjaya menyebut, jenis kambing koploh pada hari biasa umur dua tahun dijual dengan harga Rp2,5 juta, namun pada hari raya Idul Adha bisa dijual Rp3 juta, mengikuti tingginya permintaan akan hewan kurban.

Usaha peternakan kambing sistem gaduh disebutnya ikut membantu keluarga kurang mampu yang tidak memiliki modal untuk membeli kambing secara tunai.

“Saya juga ikut membantu ekonomi warga kurang mampu, sehingga akhirnya bisa memiliki sepasang hingga dua pasang kambing,” beber Marjaya.

Suhadi, salah satu warga yang menggaduh kambing jenis koploh mengaku sudah memiliki sepasang indukan dari sistem bagi hasil. Pemilik ternak kambing yang berperan sebagai investor diakuinya bisa memberi penghasilan dari ternak yang dipelihara. Dalam rentang satu tahun diakuinya ia sudah bisa memiliki dua ekor kambing hasil bagian dengan pemilik kambing.

Kemudahan dalam pencarian pakan rumput diakui Suhadi memberi dampak positif bagi peternak kambing di wilayah tersebut. Selain dekat dengan perkebunan, sebagian warga juga sudah mulai memelihara rumput khusus untuk sumber pakan, dan sebagian mempergunakan pakan fermentasi.

Kewajiban menyediakan rumput disebutnya sekaligus menjadi kesibukan dalam merawat kebun yang ditanami pohon sengon sebagai investasi jangka panjang.

Penggunaan kandang sistem panggung untuk memelihara ternak kambing disebut Suhadi kerap dilakukan oleh warga di wilayah Gubang Gajah. Selain menjaga kesehatan kambing, sistem pemberian pakan lebih mudah karena kambing tidak diliarkan dan diberi pakan dengan sistem merumput atau dikenal meramban.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Lihat juga...