Srikandi Nekat, Kisah Heroik Putri Kerajaan Pancala

Editor: Satmoko

423

JAKARTA – Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar nama Srikandi? Sosok perempuan perkasa yang sakti sehingga banyak dipuja-puji. Kalau ada perempuan yang berpretasi, selalu dijuluki Srikandi, seperti di antaranya ada julukan Srikandi Olahraga, Srikandi Pendidikan, Srikandi Politik, dan berbagai julukan srikandi-srikandi lainnya.

Lalu bagaimana dengan pementasan Wayang Orang dengan lakon ‘Srikandi Nekat’  yang semalam (25/2/2018) pentas di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM)? Predikat nekat yang melekat pada diri Srikandi membuat kita penasaran, sejauh mana Srikadi melakukan kenekatan?

Ternyata, Srikandi tersebut berani menghadapi Resi Bisma, tokoh paling sakti dan paling disegani baik kawan maupun lawan tandingnya dalam perang besar Bharatayudha di Kurusetra antara Pandawa melawan Kurawa. Begitu berani dan heroiknya putri Kerajaan Pancala ini demi membela Pandawa sampai-sampai nyawa menjadi taruhannya.

Srikandi adalah salah satu putri Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Pancala yang muncul dalam kisah epos Mahabharata dari India. Ia merupakan titisan Putri Amba yang tewas karena panah Bisma.

Dalam kitab Mahabharata diceritakan bahwa ia lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan Jawa dikisahkan bahwa ia menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata versi India.

Adegan pementasan Wayang Orang Srikandi Nekat (Foto Akhmad Sekhu)

Tokoh Srikandi tersebut diperankan Dessy Mulasari. Sebuah nama yang kurang terdengar gaungnya dalam dunia hiburan kita. Meski begitu, ia hingga kini masih menjadi kesayangan para desainer, seperti Anne Avantie. Bahkan ia terpilih sebagai wakil Indonesia dalam kontes “The Look of The Year ’92” di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, 1992.

Pementasan ini mengambil lakon ‘Srikandi Nekat’ jadi perannya sangat mendominasi. Tapi namanya tenggelam dengan para pemeran lainnya, seperti Maudy Koesnaedi yang dulu terkenal dengan peran Zaenab dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Memang pementasan Wayang Orang ini bertabur bintang-bintang selebriti kita, mulai dari Maudy Koesnaedi, Paquita Widjaya, Senk Lotta, Nia Dinata, Ivy Batuta, Nikita Mirzani, Indra Bekti. Hingga ada Bambang Pamungkas, pemain sepakbola handal dari Persija Jakarta yang berperan sebagai Raden Lesmono Monokumoro.

Kisah pementasan ini, Srikandi menjadi murid Arjuna dan kemudian menjadi suaminya, yang membuat ia bukan wanita “biasa” yang lembut dan duduk di singgasana. Namun, ia ingin lebih daripada itu, perempuan yang tidak harus lemah di hadapan pria. Srikandi menjadi sesepuh dan tauladan bagi prajurit perempuan yang ada. Dalam perang Bharatayudha, Srikandi adalah seorang prajurit perempuan yang menjadi awal babak kemenangan Pandawa. Setiap pergerakannya dicontoh oleh para wanita.

Yang unik dari pementasan ini, saat Srikandi menggelar sayembara siapa yang mampu mengalahkan dirinya akan menjadi suaminya. Banyak yang melamar, seperti di antaranya, orang dari India yang diperankan Indra Bekti, yang menyelipkan keadaan kekinian dengan menghadirkan tarian ala film-film Bollywood. Indra Bekti memang kocak, menjadi salah seorang yang melamar Srikandi. Masih banyak pelamar lainnya, dari Arab, Jepang, hingga China, yang tentu menjadi penyegaran karena penonton dibuat tertawa ger-geran.

Kemudian, ada lagi yang unik, dua selebriti menjadi istri punakawan, yaitu sutradara Nia Dinata berperan sebagai Warningdyah, istri Gareng. Dan, Nikita Mirzani sebagai Sulamjari, istri Bagong. Adegan punakawan memang biasanya menjadi bumbu humor dalam pementasan wayang di Jawa, karena di India tidak ada tokoh punakawan. Punakawan memang khas Jawa. Meski bercanda tapi tetap memberikan pesan moral yang aktual.

Nia Dinata yang pembawaannya kalem sebagai salah seorang sutradara perempuan handal dalam dunia perfilman nasional, tapi dalam pementasan ini berani tampil beda, mampu mengimbangi peran-peran kocak punakawan. Demikian juga dengan Nikita Mirzani yang biasa tampil vulgar dalam dunia perfilman nasional, tapi dalam pementasan ini tampak serius menari dengan gemulai.

Begitu Nikita muncul langsung disosor dicium Semar yang tentu membuat penonton tertawa. Pemeran Semar seperti memanfaatkan aji mumpung, sebagai ayahnya Bagong tentu menyambut gembira menantunya, meski berlebihan dengan ciuman.

Bambang Pamungkas juga mampu berperan kocak, meski masih agak canggung, tapi justru kecanggungannya dimanfaatkan para punakawan. Dalam pentas, Bambang menyebut diri namanya Lesmono Pamungkas yang merupakan plesetan dari Raden Lesmono Monokumoro. Bambang berusaha tampil sebaik mungkin, meski usahanya itu diganggu para punakawan yang suka iseng dan tampak senang membuat orang jadi bulan-bulanan dipermainkan.

Pementasan ini juga istimewa karena didukung orang-orang dari kelompok Wayang Orang Bharata yang memang piawai karena terbiasa manggung dalam pementasan wayang orang. Kolaborasi antara orang-orang dunia hiburan yang kehidupannya glamour dengan orang-orang dunia tradisi yang melakoni jalan sunyi patut diapresiasi. Keduanya memang bisa saling sinergi untuk bersama melestarikan kesenian tradisional wayang orang yang semakin tersisih dan terpinggirkan dalam dunia era sekarang yang sangat konsumtif.

Patut diapresiasi juga tentu hasil dari pagelaran ini didedikasikan untuk kepentingan sosial, yaitu disumbangkan kepada Yayasan Wisma Kasih Bunda yang didirikan oleh Anne Avantie, yang telah membantu lebih dari 1000 anak-anak penderita hydrocephalus.

Pagelaran yang menumbuhkan rasa cinta tanah air untuk melestarikan seni pertunjukan wayang orang ini, tentu mengundang rasa simpati untuk peduli pada anak-anak penderita hydrocephalus. Pementasan yang tak sekedar pementasan karena ada pesan moral kita agar peduli pada sesama.

Baca Juga
Lihat juga...