Suka dan Duka Kader Posyandu di Pulau Rimau Balak

Editor: Satmoko

542

LAMPUNG – Keberadaan kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) ikut membantu peningkatan kesehatan anak balita dan wanita hamil di salah satu pulau di Lampung Selatan, Pulau Rimau Balak, yang berada di Desa Sumur Kecamatan Ketapang.

Yuliasmiati (40) salah satu kader Posyandu Kenanga 1 di pulau tersebut menyebut, ada 5 kader membantu bidan puskesdes melakukan sosialisasi kesehatan, membantu penimbangan, pencatatan tensi, pemberian vitamin serta cara perawatan sehari-hari balita.

Yuliasmiati menyebut, sebagai kader yang ada di pulau terpencil dirinya sudah mendapat pelatihan cara mengisi buku kesehatan ibu dan anak (KIA). Buku KIA merupakan buku berisi catatan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas serta anak bayi baru lahir, anak balita maupun berbagai informasi cara memelihara, merawat kesehatan ibu dan anak.

Halimah (baju merah) dan para kader Posyandu melakukan pencatatan anak balita yang mengikuti kegiatan Posyandu [Foto: Henk Widi]
“Sebagai kader posyandu, kami harus bisa memahami tugas-tugas yang bisa membantu warga lain dalam bidang kesehatan sekaligus membantu bidan puskesdes,” terang Yuliasmiati, selaku kader Posyandu Kenanga I, saat ditemui Cendana News dalam proses penimbangan balita dan kegiatan pemeriksaan kesehatan balita, ibu hamil serta para lansia di Pulau Rimau Balak, baru-baru ini.

Berdasarkan data, ungkap Yuliasmiati, dengan jumlah sebanyak 90 kepala keluarga (KK) saat ini tercatat ibu hamil di Pulau Rimau Balak sebanyak 5 orang, balita sebanyak 40 anak, lansia sebanyak 15 orang. Sesuai jadwal pelaksanaan Posyandu dilakukan setiap satu bulan sekali pada tanggal yang telah ditetapkan sehingga kader Posyandu sudah mendatangi dan mengumumkan kepada warga yang akan mengikuti kegiatan Posyandu.

Dalam pelaksanaan Posyandu warga yang membawa anak balita mendapatkan proses penimbangan badan, tinggi badan, imunisasi dan pemberian kapsul vitamin A. Beberapa jenis imunisasi disebut Yuliasmiati meliputi HB 0 pada umur 0-7 hari, BCG, Polio 1 pada umur 1 bulan, DPT/HB 1, Polio 2 pada umur 2 bulan, DPT/HB 2, Polio 3 pada umur 3 bulan, DPT/HB 3, Polio 4 pada umur 4 bulan dan campak pada usia 9 bulan.

Sebagai salah kader Posyandu ia juga bekerja bersama kader lain di antaranya Halimah, Rohimah, Samunah dan Rosmala. Halimah (30) salah satu kader lain seperti Yuliasmiati menyebut, menyukai pekerjaan melayani masyarakat dalam bidang kesehatan, meski dirinya hanya lulusan SMA. Ia bahkan menyebut, kerap mendapat panduan atau pelajaran dari bidan desa, terkait cara-cara menjaga kesehatan dan sosialisasi bagi warga pulau.

Bidan Desi Novita, bidan di Puskesdes Pulau Rimau Balak Desa Sumur Kecamatan Penengahan Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Kami senang selalu mendapat ilmu baru dari semula tidak bisa membaca data KMS,
KIA termasuk mengukur tekanan darah dengan tensi, berkat menjadi kader Posyandu,” beber Halimah.

Halimah juga mengaku sebagai kader ia harus memberi contoh kepada warga lain terkait kebersihan lingkungan rumah. Menjadi kader disebutnya sekaligus mengemban tugas untuk mengaplikasikan imbauan kesehatan dimulai dari keluarga kader Posyandu sehingga warga lain bisa mengikuti imbauan tersebut. Keterbatasan fasilitas di antaranya listrik dan air bersih, disebut Halimah masih menjadi kendala dalam peningkatan kesehatan di pulau tersebut.

Tiga bulan sekali Halimah dan para kader melakukan temu kader di Pulau Sumatera. Temu kader diakuinya menjadi kesempatan tukar pengalaman dengan kader lain di wilayah UPT Puskesmas rawat inap Ketapang dan Puskesmas lain. Selain itu, ia dan kader lain mendapat pembekalan serta ilmu baru di antaranya terkait kesehatan ibu dan anak, serta hal-hal baru dalam dunia kesehatan.

“Meski awalnya hanya sebagai ibu rumah tangga dan tidak memiliki dasar pendidikan kesehatan kami juga dilatih dan sedikit memahami tugas bidan maupun tenaga kesehatan,” beber Halimah.

Ia bahkan bersama kader lain rela mengarungi lautan pulang pergi untuk menuju ke daratan. Saat kondisi cuaca bagus perjalanan memakai perahu bisa ditempuh selama 15 menit dan kondisi cuaca tak bersahabat untuk menyeberang butuh waktu lama. Jadwal pertemuan kader Posyandu sekaligus kesempatan untuk mengambil insentif dari desa diberikan setiap tiga bulan sekali, sebesar Rp210.000.

Insentif bagi kader Posyandu tersebut merupakan apresiasi dari desa atas dedikasi membantu peningkatan kesehatan. Insentif tersebut menurut Halimah harus diambil oleh kader dan tidak bisa diwakilkan. Meski demikian, ia kerap masih mendapatkan tambahan dari bidan desa sebagai uang transportasi menyeberang pulau.

Transportasi perahu menjadi satu moda angkutan para kader dan bidan dari Pulau Rimau Balak ke Pulau Sumatera dan sebaliknya [Foto: Henk Widi]
Bidan Puskesdes Pulau Rimau Balak, Desi Novita, Amd.Keb menyebut, Posyandu Kenanga I merupakan satu-satunya posyandu di Pulau Rimau Balak. Ia menyebut terbantu dengan adanya lima kader di Posyandu Kenanga 1. Terlebih bidan Desi yang tinggal di daratan Sumatera kerap datang terlambat karena transportasi memakai perahu.

“Saya terbantu adanya kader posyandu dimana mereka bisa melakukan penimbangan balita dan tugas lain yang dilakukan sebelum saya tiba,” beber Desi Novita.

Kegiatan Posyandu disebut Desi Novita di antaranya memberi imunisasi wajib sesuai jadwal dan pemberian vitamin dibantu para kader Posyandu. Para kader juga diberikan cara perawatan sehari-hari bagi Balita. Selain itu perhatian juga diberikan kepada para lanjut usia di pulau dengan pemeriksaan kesehatan secara rutin yang bisa dikerjakan oleh kader Posyandu.

Tugas kader Posyandu, disebut bidan Desi Novita, sekaligus sebagai perpanjangan tangan bidan dan dinas kesehatan. Meski demikian perhatian bagi kader Posyandu dari pemerintah masih belum cukup maksimal terutama di pulau terpencil. Keterbatasan air bersih dan listrik yang hanya dari tenaga surya tersebut, tidak menyurutkan kader posyandu untuk melayani masyarakat di Pulau Rimau Balak.

Baca Juga
Lihat juga...