Warga Dua Desa di Bakauheni Berharap Normalisasi Sungai Sumber Muli

Editor: Koko Triarko

212

LAMPUNG — Hujan deras yang melanda wilayah Lampung Selatan, mengakibatkan kerusakan di bantaran Sungai Sumber Muli, perbatasan alam Desa Totoharjo dan Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni.

Maimunah (30), warga Desa Kelawi, mengatakan, hujan deras menyebabkan banjir dan menggerus lahan miliknya yang berada di pinggir sungai, menggenangi gudang penyimpanan batu-bata. Kondisi yang sama juga dialami enam warga lainnya di seberang sungai, yang masuk wilayah Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni.

Maimunah menyebut, pascabanjir pekan kemarin, warga waswas dengan kondisi hujan yang bisa mengakibatkan banjir sewaktu-waktu. Saat banjir yang mengalir dari bagian lereng perbukitan wilayah tersebut, warga bahkan harus mengalami kerusakan fasilitas saluran air melalui pipa pvc dan selang. Luapan sungai membawa material sampah, lumpur dan batu masuk ke halaman warga.

“Lahan saya tergerus sekitar dua meter sepanjang puluhan meter, akibat banjir. Meski tidak mengakibatkan kerusakan rumah, tapi kami waswas banjir susulan akan kembali terjadi,” terang Maimunah, Kamis (15/2/2018).

Maimunah menyebut, banjir terakhir terjadi pada 2010. Warga terpaksa membuat talud mempergunakan tumpukan batu dan karung diisi pasir mencegah abrasi sungai yang bisa melongsorkan lahan. Usulan perbaikan dengan normalisasi sungai melalui pembuatan beronjong, bahkan sudah diusulkan ke pihak desa dan kecamatan, namun belum terealisasi.

Warga lain, Soleh (34), menyebut, akibat banjir itu kandang kambing dan halaman belakang rumahnya dipenuhi material lumpur dan pasir. Saat banjir sepekan sebelumnya, air bahkan masuk ke dalam rumah dan merendam kandang kambing miliknya.

“Beberapa hari ini masih sering banjir pascahujan, tapi tidak sampai meluap ke pemukiman warga di dua desa, sehingga warga mulai membuat talud darurat,” terang Soleh.

Kemiem berada di halaman belakang rumah sekaligus kandang ternak kambing terimbas banjir sungai Sumber Muli [Foto: Henk Widi]
Ia menyebut, akan membuat talud darurat dari karung diisi pasir mengantisipasi banjir yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Halaman belakang rumah yang ditanami pohon kelapa berada di tepi sungai, bahkan kini disebutnya berada di tengah sungai akibat tergerus banjir.

Berdasarkan usulan pascapeninjauan oleh aparat desa, dinas pekerjaan umum dan tata ruang Lampung Selatan, pembuatan talud akan segera dilakukan tahun ini.

Di lain sisi, akibat banjir itu juga  ada berkah pasir sungai yang dimanfaatkan warga sebagai bahan bangunan. Soleh yang mengumpulkan puluhan kubik pasir menyebut, akan meninggikan pondasi bagian belakang rumah. Pondasi tersebut diharapkan mengamankan rumah miliknya dari bahaya gerusan akibat banjir yang terjadi sewaktu-waktu, sembari menunggu normalisasi sungai dengan pembuatan beronjong. Soleh dan warga lainnya mengaku enggan pindah dari wilayah berpotensi banjir, karena tidak memiliki lahan lain untuk tempat tinggal.

Kemiem (30), warga Dusun Karangendah, Desa Totoharjo yang tinggal di bantaran sungai, juga mengaku waswas kandang kambing miliknya bisa hanyut. Ia menyebut, jarak kandang kambing dengan sungai semula lebih dari lima meter, namun setelah banjir kini menjadi tiga meter. Dalam waktu dekat ia akan memindah kandang kambing tersebut menghindari imbas banjir.

“Harapan belasan warga yang berada di dekat sungai secepatnya dibuat talud, agar longsor tidak semakin parah,” bebernya.

Belum adanya biaya untuk membuat pondasi permanen, membuat Kemiem dibantu suami membuat tanggul darurat dari karung berisi pasir dan kerikil ditambah susunan batu kali untuk memperkuat bantaran kali, agar tidak tergerus aliran sungai terlebih saat banjir.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.