Warga Totoharjo Manfaatkan Tambak Udang untuk Tanam Padi

Editor: Koko Triarko

556

LAMPUNG — Kawasan lahan di Dusun Blebug dan Dusun Sumbermuli, Desa Totoharjo, berada di dekat wilayah pesisir pantai Blebug dengan potensi sumber air melimpah, baik air tawar maupun air laut.

Kuswandi (40), warga Totoharjo, menyebut sebagian besar warga memanfaatkan air sungai Sumbermuli untuk bercocok tanam padi dan sayuran. Sebagian warga yang memiliki modal mempergunakan lahan untuk membuat tambak budi daya udang vaname.

Menurut Kuswandi, budi daya udang vaname di tambak mulai dilakukan pada awal 2018. Namun, sebagian lahan tambak tersebut sempat berhenti beroperasi hampir selama satu tahun akibat keterbatasan modal, dan sebagian dimanfaatkan sebagai lahan sawah untuk menanam padi.

“Saya sengaja memanfaatkan lahan tambak. Sebagian pemilik modal masih mempergunakan tambak untuk budi daya udang, dan sebagian dibiarkan menjadi belukar ditumbuhi rumput,” terang Kuswandi, Kamis (15/2/2018).

Salah satu kendala yang dihadapi oleh petambak tradisional, kata Kuswandi, adalah tingginya biaya operasional, bibit udang serta peralatan untuk memompa air laut.

Kuswandi mengaku sempat mengembangkan budi daya udang vaname selama dua tahun, meski mengalami kerugian dan kemudian memilih untuk mempergunakan lahan tambak sebagai lokasi menanam padi.

Lahan tambak yang sementara dipergunakan sebagai lahan sawah, berupa petak-petak dilengkapi tanggul. Saat air laut tidak dialirkan mempergunakan mesin pompa, dengan warga kerap memanfaatkan air sungai untuk pengairan sawah dengan saluran pipa.

Jenis padi varietas Muncul disebutnya sengaja ditanam, memperhitungkan musim penghujan dengan potensi genangan air lebih banyak.

Satu petak lahan tambak yang dipergunakan sebagai lahan sawah sementara, kata Kuswandi, berukuran seperempat hektare dengan jumlah empat petak. Lahan tambak udang milik warga lain disebutnya memanfaatkan pipa-pipa pvc untuk menyalurkan air laut berjarak sekitar 300 meter.

Sebagian wilayah Blebug dimanfaatkan sebagai lahan tambak dengan tanggul tanggul pemisah tambak dan sawah [Foto: Henk Widi]
Sementara air tawar diperoleh dari sungai dan sebagian mempergunakan fasilitas sumur bor. Biaya operasional yang tinggi untuk memelihara udang vaname sistem semi intensif, bisa mencapai sekitar Rp60 juta lebih, sementara untuk menanam padi dirinya hanya mengeluarkan uang Rp8 juta per hektarnya.

Meski demikian, ia menyebut saat ada modal cukup ia akan kembali membuka lahan yang sudah dipergunakan sebagai sawah menjadi lahan tambak udang. “Wilayah ini awalnya memang lahan pertanian, namun beberapa investor mulai memanfaatkan sebagai tambak dan warga ikut membuat tambak,” beber Kuswandi.

Satu hektare tambak udang disebutnya kerap disewakan kepada pihak ketiga dengan biaya per petak Rp60 juta setahun. Satu hektare bisa terdiri dari empat petak, sehingga penyewa mengeluarkan uang Rp240 juta hanya biaya sewa, belum termasuk operasional.

Bagi pemilik lahan, sebagian memilih menyewakan lahan tambak kepada pemilik modal dengan sistem sewa. Sebagian memilih bertahan menanam padi sawah dengan pasokan air tawar yang cukup melimpah di wilayah tersebut.

Pasokan kebutuhan pupuk diakui oleh Kuswandi sekaligus memudahkannya memanfaatkan lahan bekas tambak untuk ditanami padi.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.