Yayi Suryo, Sejak 1990an Kampanye ‘Kampung Bebas Asap Rokok’

Editor: Koko Triarko

210
Yayi Suryo. –Foto: Ist/ Jatmika H Kusmargana 

YOGYAKARTA – Satu-satunya anak perempuan dari empat bersaudara, Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., masih ingat bahwa di kelurganya hanya ayahnya saja yang suka merokok, sementara ketiga anak lelak tidak ada satu pun yang merokok. Saat anak-anak sudah memasuki usia remaja, akhirnya sang ayah memilih berhenti merokok. 

Pengalaman dari kiasah keluarga itulah yang menginspirasi kakak kandung Roy Suryo, mantan Menpora, ini menginisiasi terbentuknya kampung dan rumah bebas asap rokok di Kota Yogyakarta.

“Sekarang sudah ada 130-an rumah dan 40 kampung yang mendeklarasikan bebas asap rokok,”kata wanita kelahiran Yogyakarta, 53 tahun silam ini.

Meski program rumah dan kampung bebas asap rokok diakui Yayi belum secara signikan menurunkan jumlah perokok, namun gerakan bebas asap rokok yang dilakukannya sejak 2006 itu setidaknya bisa menurunkan jumlah perokok hingga 3 persen, dan 50 persen laki-laki sudah tidak lagi merokok di dalam rumah.

“Sekitar 70 persen laki-laki setuju kalau di rumahnya bisa bebas asap rokok,” katanya.

Dikatakan Yayi, tidak mudah baginya mengajak warga untuk mau mengikuti ajakan bebas asap rokok. Yayi bercerita, ia harus keluar masuk kampung untuk mengikuti berbagai pertemuan dari tingkat RT, RW, hingga kegiatan Posyandu dan arisan.

“Saat pertemuan RT, malah banyak bapak-bapak memohon izin, agar diperbolehkan merokok terlebih dahulu sebelum dikusi,” kenangnya.

Namun demikian, kata Yayi, masyarakat kota Yogyakarta diakuinya lebih mudah ketika diajak untuk menerima perubahan. Di setiap pertemuan, Yayi tidak secara frontal mengajak para kepala rumah tangga untuk langsung berhenti merokok. Yayi memulainya dengan menyampaikan informasi tentang rokok dari kandungan hingga dampak kesehatan yang ditimbulkan.

“Lalu yang kita minta biasanya mereka tidak merokok lagi di depan anak-anak atau ibu hamil, kemudian tidak lagi merokok di dalam rumah,” katanya.

Bila terjadi kesepakatan antarwarga, kata Yayi, maka di setiap pertemuan biasanya dimulai dengan kebiasan tidak menyediakan asbak rokok di dalam ruangan. Namun, untuk rumah yang sudah mendeklarasikan bebas asap rokok, mereka menempelkan stempel atau stiker bebas asap rokok di dinding depan rumah.

Tidak hanya menginisiasi kampung bebas asap rokok, Yayi juga ikut serta dalam mendorong area kampus fakultas kedokteran sebagai area bebas asap rokok pada 2004. “Lalu pada 2008 disusul deklarasi yang sama di tingkat universitas, bahkan di FK UGM sudah tidak lagi menerima beasiswa dari perusahaan rokok sejak 2006,” katanya.

Kampanye bebas asap rokok sudah didengungkan Yayi sejak 1990 silam, sejak ia pertama kali diangkat sebagai dosen di FK UGM. Minimnya riset soal rokok di Indonesia, kata Yayi, menjadikan rokok menjadi topik risetnya sejak S-2 hingga S-3.

“Dulu kajian rokok sangat minim, saya pilih topik ini, apalagi saat itu saya bisa dikatakan satu-satunya dosen FK yang bukan dokter,” kata lulusan sarjana psikologi UGM ini.

Meski tetap terus menggelorakan kampanye anti rokok, Yayi optimis suatu saat Indoneia akan meniru negara lainnya di dunia yang meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) sebagai dasar pengembangan kebijakan pengendalian tembakau yang telah ditandatangani lebih dari 173 negara.

“Pengendalian tembakau kita belum optimal, kita kalah dengan negara tetangga yang sudah meratifikasi, di tempat kita, iklan rokok masih dipasang, rokok masih dijual bebas hingga batangan, dan harga rokok masih sangat murah,” ujarnya.

Menurutnya, program promosi kesehatan perlu digenjot oleh pemerintah, terutama tentang pengendalian rokok, sebab dana JKN 2016 sebesar Rp7,4 triliun, dihabiskan untuk diagnosisi penyakit kardiovaskuler.

“WHO sudah menyebutkan, bahwa berbagai penyakit tidak menular saat ini besar pemicunya karena rokok,  sudah saatnya tenaga medis membiasakan untuk menanyakan pada pasien apakah sebelumnya mereka memiliki kebiasan merokok,” katanya.

Kegigihan Yayi selama hampir 20 tahun melakukan riset tentang perilaku hidup sehat dan promosi kesehatan tentang dampak bahaya rokok, telah membawanya menyandang gelar profesor. Rencananya, ia akan dikukuhkan sebagai guru besar bidang kesehatan masyarakat dan keperawatan di FK UGM, dalam waktu dekat ini.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.