banner lebaran

Adukan ke Komnas HAM, Keluarga Korban PKI Tolak SKKPH Eks PKI

Editor: Irvan Syafari

732

JAKARTA — Rombongan Keluarga Korban PKI (Partai Komunis Indonesia) dari Jawa Timur mengadukan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Mereka terdiri dari Yayasan Pusat Kajian Komunitas Indonesia, Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah, dan Komunitas Keluarga Korban Keganasan PKI Tahun 1948 dan 1965.

Mereka menganggap PKI adalah pelaku kudeta yang gagal, bukan korban, dan dengan tegas menolak Surat Keterangan Korban Pelanggaran HAM (SKKPH) untuk eks PKI.

“Surat sudah saya berikan, saya tidak akan pulang sampai beliau menerima kita, “ kata Arukat Djaswadi, Koordinator Keluarga Korban Kekejaman PKI 1948 dan 1965, kepada Cendana News, di Gedung Komnas HAM Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat, Rabu (14/3/2018).

Djaswadi memohon pada kepolisian menjadi mediator agar rombongannya dapat bertemu dan diterima Komnas HAM. Ia membeberkan karena PKI PADA 6 Februari diterima Komnas HAM di depan Komisi HAM Internasional PBB di tempat ini.

“Mengapa Komnas HAM berpihak pada PKI?” Djaswadi mempertanyakan.

Kebangkitan PKI bagi Djaswadi bukanlah mengada-ada. “Kebangkitan ini dilakukan dengan cara metamorfosis, yaitu melakukan perubahan strategi perjuangan dari pola revolusi model RRC ke pola baru revisionis, “ ungkapnya.

Djaswadi membeberkan kebangkitan kembali PKI itu antara lain terwujud dengan melakukan propaganda, provokasi, dan pembentukan opini publik bahwa PKI bukanlah pelaku, melainkan korban kebiadaban G 30 S PKI Tahun 1965.

“Mereka telah membentuk kelompok Paguyuban Korban Orde Baru (PAKORBA) yang dipimpin Sulami (meninggal) tokoh Gerwani dan Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru (LPKROB) pimpinan Semaun Utomo, dan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65 (YPKP 65), yang dipimpin Bedjo Untung serta sayap-sayap komunis lainnya, “ paparnya panjang lebar.

Menurut Djaswadi, PKI adalah pelaku kudeta yang gagal, bukan korban, kalau tidak percaya, ia mempersilahkan siapapun untuk ke Madiun, Magetan, Kanigoro, agar dapat menyaksikan sendiri kenyataan sebenarnya yang terjadi, ribuan orang dibunuh PKI.

“Kita harapkan Komnas HAM untuk bertindak adil menegakkan hukum,” tegasnya.

Djaswadi menegaskan mereka yang ditengarai PKI belum lama ini mengaku sebagai korban, lalu pelaku siapa? Itu tuduhan baginya sebagai pelaku, padahal sudah terang keluarganya adalah korban. Semestinya kenyataan yang terjadi tidak diputarbalikkan. Surat Keterangan Korban Pelanggaran HAM (SKKPH) untuk eks PKI sudah menjadi bukti nyata.

“Kalau SKKPH betul diberikan, berarti Komnas HAM berpihak pada PKI. Sekarang kita minta klarifikasi, “ tandasnya.

Mereka cukup lama menunggu kedatangan Mochammad Choirul Anam, komisioner Komnas HAM dari jam 9 pagi hingga 11 siang lebih. Kalau komisioner tidak menemuinya, mereka akan menginap di Komnas HAM, bahkan mereka sampai melakukan aksi bakar bendera PKI.

Sekitar jam 11 siang lebih, Mochammad Choirul Anam baru datang. Mereka langsung mengadukan penolakannya Surat Keterangan Korban Pelanggaran HAM (SKKPH) untuk eks PKI.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.