banner lebaran

Akhlis Suryapati Siap Luncurkan Film “Enak Tho Zamanku: Piye Kabare”

Editor: Irvan Syafari

709
Akhis Suryapati, Sutradara Film "Enak Tho Zamanku Piye Kabare"-Foto Akhmad Sekhu.

JAKARTA — Sutradara Akhis Suryapati mulai menyosialisasikan, mempublikasikan, dan mempromosikan, seperti di antaranya melalui medsos, karya anyarnya, “Enak Tho Zamanku: Piye Kabare”.

Selain itu ia juga mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan misalnya, regulasi administrasi perjanjian dengan pengelola bioskop, serta semua kelengkapan seperti tanda lulus sensor, dan sebagainya.

“Persiapannya semacam itu seperti biasanya, tidak ada yang spesifik,” kata Akhis Suryapati, Sutradara Film “Enak Tho Zamanku: Piye Kabare”, kepada Cendana News di Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia (SENAKKI) Kine Klub, Lantai 2, Gedung Film Pesona Indonesia, Jalan MT Haryono Kav.47-48, Pancoran, Jakarta Selatan,Minggu malam (11/3).

Soal layar, di Indonesia sebenarnya ada sekitar 1500 layar bioskop dan itu bukan hanya satu jaringan, ada XXI, CGV, Cinemax dan lain-lain.

“Memang selama ini sepertinya yang dominan adalah XXI, sehingga bioskop-bioskop lainnya itu, ketika ada film yang akan tayang selalu menunggu atau disesuaikan dengan jadwal yang pertama kali diberikan XXI,” terang dia .

Hanya saja pihak XXI belum memberi tahu bioskop-bioskop mana yang akan menayangkannya. “Kita juga bekerjasama dengan bioskop-bioskop lainnya. Kesepakatan film kita akan tayang pada 12 April 2018 itu sudah ada,” ungkapnya.

Dia tidak menyangka kalau filmnya masuk kategori umur 21. “Karena pada waktu bikin film ini pikiran saya hanya membuat karya yang agak mengajak berpikir pada masyarakat,” ujarnya.

Akhlis tidak mempermasalahkan film ini dihubungkan dengan Orde Baru. “Saya tidak mempermasalahkan, bahkan saya bersyukur alhamdulillah, berarti film ini berbunyi, karena frase “Enak Zamanku Tho” munculnya memang dari masyarakat, “ tuturnya.

Dalam film ini, Akhlis menyebut terdapat kutipan Presiden Soeharto, hal ini tentu sama seperti kalau dirinya mengutip Socrates, bukan berarti ia pro Yunani, atau mengangkat tentang VOC, bukan berarti ia ingin membangkitkan penjajahan.

“Dalam film ini ada tentang Trilogi Pembangunan dan kalimat-kalimat bijak Presiden Soeharto, yang intinya disesuaikan dengan realitas yang muncul di masyarakat. Kalimat-kalimat ini muncul dalam beberapa dialog dalam film,” ungkapnya.

Secara umum ini film fiksi, ceritanya fiktif dan tokoh-tokohnya fiktif. Film satir politik ini berkisah tentang sebuah keadaan masyarakat di mana terjadi perebutan kekuasan yang ditimbulkan dari kepemilikan restoran dan diskotik, yang disingkirkan seorang penguasa dengan berbagai cara dan intrik.

Lalu restoran dan diskotik itu dikuasai oleh penguasa baru yang punya arah lain. Kemudian datanglah sang jagoan untuk melihat ini semua dan membongkar apa yang sebenarnya terjadi, ternyata yang berkuasa itu punya penguasa yang di atasnya lagi, begitu juga di atasnya masih ada penguasa lagi.

“Ini dirangkai dengan cerita dan diisi dialog-dialog yang bernas, tidak banyak film yang temanya seperti ini. Alhamdulillah kalau penonton mengintepretasikannya begitu berarti pesan dalam film ini sampai, “ tegasnya.

Harapan Akhlis film ini ditonton oleh orang banyak dan nilai-nilai yang terkandung di dalam film ini dapat diresapi, karena memang manfaat karya seni sebagai bentuk penyadaran. “Makanya kalau memilih pemimpin itu hati-hati, pilih latar belakangnya, track recordnya dan lain-lain sebagainya,” tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.