Aksesibilitas Masih jadi Kendala Pariwisata Indonesia

285
Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta, Aris Riyanta, -Dok: CDN

HANOI – Dinas Pariwisata Yogyakarta siap menggaet turis asal Vietnam dengan menyuguhkan paket-paket wisata menarik yang memadukan objek wisata gunung merapi, pantai yang dipadukan dengan wisata budaya khas Yogyakarta.

“Perlu kombinasi wisata yang unik seperti “Merapi Lava Tour”, wisata pantai termasuk desa wisata untuk menarik wisatawan mancanegara termasuk asal Vietnam melancong ke Yogyakarta,” kata Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta, Aris Riyanta, di sela penyelenggaraan Vietnam International Travel Mart (VITM) 2018, di Hanoi International Center for Exhibition, Jumat (30/3/2018).

Menurut Aris, destinasi-destinasi baru terus disiapkan sehingga menambah pilihan objek yang akan dikunjungi wisatawan mancanegara yang juga disesuaikan dengan Kalender Tahunan Wisata 2018.

Ia menjelaskan, pada VITM 2018 yang berlangsung di Hanoi, 29 Maret – 1 April ini, Yogyakarta menyertakan lima pelaku industri parwisata yang bergerak dalam biro jasa perjalanan.

“Mereka (biro perjalanan wisata) ‘berjualan’, meyakinkan pengunjung VITM secara langsung maupun melalui jaringannya di Vietnam, bahwa objek-objek wisata di Yogyakarta sangat menarik dan wajib dikunjungi karena punya ciri khas tersendiri,” kata Aris.

Untuk wisata pengunungan, Yogyakarta gencar mengembangkan destinasi petualangan “Merapi Lava Tour” yang berlokasi di Kaliurang, tepat di kaki Gunung Merapi. Wisatawan diajak naik mobil Jeep menyusuri bekas aliran lahar pasca letusan Gunung Merapi dengan tiga rute pendek dan panjang.

Dari sisi wisata laut, tambahnya, Yogyakarta memiliki puluhan pantai yang indah dan unik serta berpasir putih di kawasan Gunung Kidul, antara lain Pantai Indrayanti atau Pantai Pulang Sawal, Pantai Drini, Pantai Jogan.

Meski begitu, tambah Aris, salah satu kendala untuk mengembangkan destinasi wisata adalah tingkat aksesibilitas pada beberapa lokasi. “Aksesibilitas menjadi penting, karena bagi wisatawan jarak dan waktu yang lebih efisien menjadi faktor utama dalam melakukan sebuah perjalanan,” katanya.

Beruntung Yogyakarta dalam waktu dekat segera membangun “New Yogyakarta International Airport” di Kulonprogo yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2019.

“Jika sudah beroperasi Bandara Kulonprogo berdampak luas bagi pengembangan industri pariwisata Yogyakarta. Dengan efisiensi waktu maka lama menginap wisatawan mancanegara bisa lebih lama sehingga lebih banyak destinasi wisata yang bisa dieksplor,” katanya.

Aris menargetkan, pada tahun ini total wisman ke Yogyakarta sebanyak 430.000 orang, meningkat dibanding 2017 yang hanya sekitar 397.000 orang, dan pada 2016 sekitar 350.000 orang.

Saat ini, jumlah turis terbanyak berasal dari Belanda sebanyak 12 persen, disusul Malaysia 10,5 persen, Jepang 10 persen, selain itu kurang dari 10 persen berasal dari Amerika Serikat, Singapura, Italia, Jerman, Perancis, Korea dan China.

Khusus turis Vietnam, pada 2017 diperkirakan baru mencapai 3.000 wisman, diharapkan bisa mencapai sekitar 4.000-5.000 orang pada 2018. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...