Alih Fungsi Lahan di Kawasan Register I Way Pisang Perparah Banjir

Editor: Koko Triarko

317

LAMPUNG — Genangan air banjir di areal lahan pertanian sawah akibat luapan Sungai Way Pisang di wilayah Kecamatan Penengahan, Palas, Sragi, dan Ketapang, memasuki hari keempat, sejak Minggu (4/3). Genangan air bahkan masih belum surut di beberapa lokasi terutama areal persawahan yang dikenal dengan cekungan atau lebung.

Petugas UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang rayon III kecamatan Sragi dan Ketapang, Eko Komarudin, menyebut air akan surut minimal tiga hari jika hujan tak lagi turun.

Banjir yang menggenangi ratusan hektare lahan pertanian sawah disebabkan oleh jebolnya tanggul penangkis di bantaran Sungai Way Pisang. Eko Komarudin mengaku sudah mengecek ke sejumlah titik yang menjadi saluran air dan klep pembuangan.

Meski tidak mengalami kendala, namun debit air yang masih cukup tinggi dari sejumlah areal persawahan membuat lahan pertanian padi dipastikan rusak. Padi usia 20 hari setelah tanam (HST), dipastikan membusuk jika banjir belum surut dan petani mengalami kerugian dengan harus mengganti bibit baru.

“Sejumlah saluran air pembuangan kondisinya normal, meski setelah melihat debit airnya sangat besar harus dibuat saluran pembuangan air dan klep yang baru, agar saat ada banjir lagi cepat terbuang ke sungai Way Pisang,” terang Eko Komarudin, Rabu (7/3/2018).

Lahan milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Register I Way Pisang beralihfungsi menjadi lahan pertanian jagung [Foto: Henk Widi]
Eko Komarudin juga menyebut, selain kiriman air dari aliran Sungai Way Pisang, luapan air terjadi akibat aliran air dari areal perbukitan di sekitar desa Mandalasari, Margajasa dan wilayah desa di Kecamatan Sragi. Daerah aliran sungai (DAS) yang kondisinya sudah rusak akibat alih fungsi lahan juga menjadi pemicu banjir pada tahun ini, dan mengakibatkan area terdampak pada lahan pertanian lebih luas. Fasilitas daerah irigasi Pematang Tangkil disebutnya terus dipantau dengan sejumlah pintu air, agar tidak ada sampah menyumbat.

Sempat terisolir akibat banjir, warga dua desa di antaranya Desa Pematangbaru di Kecamatan Palas dan Desa Marga Sari di Kecamatan Sragi, mulai bisa kembali beraktivitas. Berdasarkan rincian area terdampak banjir meliputi luas 330 hektare, di antaranya Mandalasari 150 ha, Sumberagung 50 hektar, Baktirasa 30 hektar,Margajasa 25 ha dan Marga Sari 75 ha sebagian besar belum surut.

“Beberapa lahan sawah yang padinya sudah tinggi dengan varietas Muncul masih bisa selamat. Tapi yang masih dua pekan dipastikan harus menanam ulang,” beber Eko Komarudin.

Terkait luapan Sungai Way Pisang, petugas pembibitan Persemaian Permanen Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDASWSS), Tejo Agung, mengaku prihatin.

Saat dihubungi Cendana News, ia menyebut upaya persemaian permanen dalam melakukan reboisasi, rehabilitasi lahan di beberapa daerah aliran sungai (DAS) sudah dilakukan secara terus-menerus.

Tejo Agung juga menyebut, penyediaan bibit rata-rata 2,5 juta pohon dialokasikan untuk konservasi kawasan DAS Way Pisang, di antaranya jenis tanaman bambu dan tanaman kayu sekaligus multipurpose tree species (MPTS).

Eko Komarudin,petugas UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang rayon III kecamatan Sragi,Ketapang memeriksa saluran pembuangan air sungai way Pisang [Foto: Henk Widi]
Meski demikian, tingkat kerusakan kawasan hutan register I Way Pisang yang sudah digarap masyarakat cukup parah dengan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian jagung.

“Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup sudah mengambil alih beberapa hektare untuk dihijaukan kembali, sisanya masih digarap masyarakat,” beber Tejo Agung.

Sebagai contoh penghutanan kembali disediakan areal seluas satu hektare yang sudah ditanami berbagai jenis tanaman kayu keras dan berusia sekitar satu tahun. Pembuatan embung resapan dengan beberapa bak penampungan air sekaligus menjadi wilayah tangkapan air penyimpan air saat musim hujan yang dibutuhkan saat kemarau.

Alih fungsi lahan untuk lahan perladangan jagung disebutnya berimbas saat musim hujan kawasan Register I way Pisang tidak memiliki area resapan. Padahal, sebelumnya pada 1990-an kawasan tersebut pernah dihijaukan dengan tanaman jati putih, namun kembali ditanami jagung. Imbasnya wilayah di sepanjang DAS Way Pisang, di antaranya Kecamatan Penengahan, Palas dan Sragi kerap tertimpa banjir.

“Upaya BPDAS WSS milik Kementerian KLHK sudah maksimal, namun kita kembalikan ke kesadaran masyarakat untuk penghijauan jangan saat banjir baru menyadari kerusakan akibat hilangnya resapan air,” beber Tejo Agung.

Tejo Agung menyebut, kerusakan alam di kawasan hutan Register I Way Pisang yang kini sudah beralihfungsi harus secepatnya diperbaiki. Namun, masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut enggan menanam pohon kayu dengan usia tahunan.

Pilihan pada penanaman komoditas pertanian semusim dilakukan untuk memperoleh keuntungan. Sementara penanaman pohon terkendala larangan jika pohon yang ditanam dilarang ditebang, karena berada di kawasan Register I Way Pisang.

Selain di kawasan Register I Way Pisang, alihfungsi lahan yang berimbas banjir juga terjadi di eks register II Pematang Taman. Area yang sempat ditumbuhi oleh pepohonan tersebut saat ini bahkan berubah menjadi lahan penanaman jagung. Imbasnya lahan dataran rendah di wilayah kecamatan Ketapang ikut terimbas banjir, di antaranya di Desa Ruguk, Sumur dan Legundi.

Baca Juga
Lihat juga...