Angkutan Sekolah Kesulitan Antar Jemput Akibat Banjir

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

330

LAMPUNG—Kendaraan pengangkut pelajar dari kabupaten Lampung Timur dan kabupaten Lampung Selatan masih terkendala kondisi akses jalan yang sulit dikarenakan jalan rusak dan banjir belum surut.

Hasan, salah satu orangtua siswa yang ada di dusun Umbul Besar desa Bandar Agung kecamatan Sragi mengaku sudah hampir sepekan lebih anaknya harus berjalan kaki saat pergi dan pulang sekolah akibat jalan desa terendam banjir hingga 60 cm.

“Saat pagi saya harus antar anak sejauh dua kilometer selanjutnya dijemput menggunakan kendaraan roda dua untuk dijemput kendaraan abodemen dari sekolah,” terang Hasan di lokasi terdampak banjir, Kamis (15/3/2018)

Maarif NU Al Firdaus
Susilo, pengemudi antar jemput siswa SD-SMP Islam Plus Maarif NU Al Firdaus Purworejo Lampung Timur [Foto: Henk Widi]
Hasan memprediksi hal tersebut masih akan terjadi hingga pekan depan. Masa ujian mid semester membuat siswa harus tetap bersekolah meski akses jalan susah dilintasi.

Susilo, salah satu pengemudi kendaraan antar jemput pelajar SD SMP Islam Plus Maarif NU Al Firdaus mengaku sejak sepekan dirinya hanya mengantar siswa hingga ke tanggul.

Proses penjemputan harus menunggu siswa yang berjalan kaki dan sebagian diantar menggunakan kendaraan roda dua dengan jarak sekitar tiga kilometer.

Akibat akses jalan yang sulit para siswa sekolah dan guru yang memanfaatkan mobil abodemen harus berangkat lebih pagi.

Guru di SDN 2 Bandar Agung, Amin menyebutkan, selama hampir sepekan dirinya harus melalui jalan sepanjang 7 kilometer melalui tanggul penangkis. Akses jalan yang berlumpur dengan kendaraan roda dua kerap harus mengalami kerusakan saat menuju ke sekolah.

Sebagai guru sekolah SDN 2 Bandar Agung yang berada di dusun Kuala Jaya wilayah pesisir Timur Lampung Selatan tersebut ia bahkan terkendala banjir rob. Sepatu yang akan digunakan di sekolah dibungkus mempergunakan plastik. Kendaraan roda dua miliknya harus dititipkan di rumah warga dan dilanjutkan dengan perahu.

“Jika kondisi cuaca panas saya masih bisa membawa kendaraan roda dua tapi saat hujan saya harus berjalan tujuh kilometer atau naik perahu,” terang Amin.

SDN 2 Bandar Agung
Amin, guru SDN 2 Bandar Agung yang harus melakukan perjalanan menggunakan kendaraan melewati banjir [Foto: Henk Widi]
Sesampainya di tepi sungai dan genangan air sebelum pulang sekolah Amin selaku guru bahkan terpaksa harus mencuci kendaraan kotor oleh lumpur. Amin bahkan menyebut kerap harus melepas seragam miliknya menghindari basah air hujan dan kotor oleh lumpur.

Ia berharap kondisi cuaca membaik sehingga akses jalan bisa dilintasi masyarakat khususnya guru dan siswa sekolah.

Baca Juga
Lihat juga...