Assad: Kalau Mau Arab maka Harus Suni

OLEH T. TAUFIQULHADI

469

(Catatan Perjalanan)

SETELAH menyaksikan makam Salahudddin Al Ayubi, sultan agung pembebas Jerusalem dari tentara salib Eropa (1189-1192), saya masuk ke sebuah bilik sebelah timur Masjid Umaiyah di Damaskus, yang diyakini tempat dikuburkannya salah satu putri Ali bin Abi Thalib. Saya ditemani oleh Hassan, dari protokol parlemen Suriah. Hassan berasal dari Latakia, propinsi yang dihuni kaum Alawi.

Bilik luas itu sekitar 6 x 10 meter persegi, yang bernuansa mewah karena keemasan dan sangat rapi. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah kuburan, itulah makam salah seorang cucu nabi. Semua yang masuk ke sana, setelah berdoa, segera sholat dua rakaat. Saya hanya membaca Ummul Quran kepada ahlul kubur, dan setelah itu asyik menyimak suasana dalam ruangan serta pengunjungnya.

Hasan, yang tidak berdoa dan sembahyang di tempat itu mengatakan, umumnya pengunjung ke tempat itu para penziarah dari Libanon dan Iran. Saya segera memahami bahwa tempat tersebut tempat suci bagi kaum Syiah.

Ketika hendak keluar, saya melihat sekeranjang tanah cetakan sedikit lebih besar sekeping koin 1000 rupiah yang berwarna abu-abu di atas meja. Penjaga tempat suci tersebut menjelaskan, itu adalah tanah karbala. Tanah cetakan tersebut diletakkan di atas sajadah dan ketika kita sujud saat sholat, tepat menempel di dahi kita.

Saya memungut satu potong, yang dikira oleh penjaga itu, hendak saya kantongi. “La,” katanya, seraya menggoyangkan tangannya. “Ini barang wakaf, tidak boleh diambil.”

Saya meletakkan kembali, dan langsung menuju ke luar. Beberapa langkah berada di halaman, Hassan mendekati saya, seraya merogoh kantongnya. Setelah itu, di tangannya muncul benda cetakan sakral dari Karbala tadi.

“Ambil,” katanya.

Saya menatap mukanya dengan ragu-ragu karena benda wakaf. “Tidak apa-apa,” meyakinkan saya, sambil tersenyum penuh arti.

Jadi rupa benda yang dianggap sakral bagi kaum Syiah tidak ada yang sakral bagi Hassan, yang Alawi. Saya pun menerima dengan riang, mengikuti arti senyumnya Hassan.

Memang, selama empat hari bersama Hassan di Damaskus, saya tidak melihat ia, dan Farouk, juga dari Latakia, sholat. Kecuali satu ketika, ia mengatakan kepada saya untuk tidak mengonsumsikan gula.

“Nabi dalam hadistnya,” ungkap Hassan. “Menyebutkan, gula tidak bagus bagi kesehatan.”

“Saya hampir tidak minum gula, dan tidak merokok,” lanjutnya. Saya hanya tercenung, memikir-mikir hadist terdebut, seraya menatap ke wajah Hassan. Pemuda yang elok, yang berpipi dan bibir kemerahan tanda sangat sehat.

Dari sejumah ungkapan dan bahasa tubuh, saya melihat, memang Hassan yang Alawi ini agak asing dengan kaum Syiah.

Siapakah kaum Alawi itu? Sejumlah tulisan, menyebutkan, bahwa Alawi sebuah sekte rahasia cabang dari Syiah. Tapi menurut staf kedubes RI di Damaskus yang melihat Presiden Bashar Al Assad sholat, mengatakan tidak sama dengan tata orang Syiah sholat. Orang Syiah sholat ketika berdiri tidak melipatkan tangan di atas dada. Sementara Presiden Bashar melipatkan tangan di atas dadanya

“Dan, tentu saja mereka bukan sebuah sekte rahasia,” lanjut staf kedubes itu. Maksud rahasia sebenarnya, orang sangat sulit mendapatkan informasi tentang ajaran kaum Alawi. Sehingga orang sangat sulit memahami inti ajaran sekte Alawi itu sendiri.

Tapi sejumlah orang lain mengatakan, tentu saja sulit karena sebenarnya ajaran Alawi sekarang tidak berbeda dengan Suni dan mereka mempraktikkan Islam seperti kaum Suni.

Kaum Alawi, yang bahasa Arab disebut Alawiyah, sering disebut merupakan sebuah sekte dalam Syiah. Nama Alawi merujuk kepada Ali bin Abi Thalib, imam pertama dari Syiah Imam 12. Tapi karena menolak syariat, Syiah sendiri menganggap Alawi sebagai kelompok yang mempraktikkan bid’ah.

Sekte ini didirikan oleh Ibnu Nusayr pada abad ke-9. Kini penganut sekte Alawi berkisar 12 persen dari sekitar 22 juta populasi Suriah. Mereka menempati wilayah Latakia yang subur, di pantai Suriah.

Kaum Alawi ini lebih suka menyebut diri sebagai Muslim. Tapi ulama berpengaruh dari Libanon, Musa Al-Sadr, dan juga Imam Khomeini, menganggap Alawi sebagai Islam Syiah.

Meskipun Alawi memandang dirinya sebagai Muslim, secara umum kaum Suni masih belum ada kesepakatan secara teologis tentang sekti ini. Sekte Alawi tidak dimasukkan dalam Amman Message yang diinisiasi oleh Raja Abdullah II dari Yordania. Amman Massage ini di dalam ada Suni, Syiah dan Sekte Ibadi.

Menurut sejumlah pendapat, teologi Alawi mirip-mirip konsep trinitas: tiga serangkai. Tiga serangkai ini merupakan pancaran dari Allah yang Maha Esa: aspek tertinggi atau entitas tertinggi disebut “esensi” atau “makna”, bersama dengan dua pancaran yang lebih rendah yang dikenal sebagai “nama-Nya” atau “hijab”, serta “gerbang-Nya” atau “bab”.

Dalam sejarah, pancaran ini hadir dalam berbagai bentuk manusia, yang berupa Ali (esensi/makna), Muhammad (Nama) dan Salman Al Farisi (Gerbang). Keyakinan Alawi diringkas dalam formula: “Aku melangkah ke Gerbang-Nya; aku menunduk di depan Nama-Nya; Aku menyembah Makna-Nya.

Sebenarnya orang Alawi tidak pernah mendefinisikan dirinya sebagai kepercayaan dalam kategori apa. Hanya para pengamatlah yang berusaha mengatagorisasi mereka.

Robert F. Worth mengatakan, kaum Alawi tidak selalu menganggap diri mereka Muslim. Wartawan tersebut, yang mengutip Solayman Al Adana, seorang Alawi yang masuk Kristen pada abad ke-19 setelah melanggar sumpah untuk menjaga kerahasiaanAlawi, memaparkan, sekte Alawi mendewakan Ali, memuliakan Muhammad, Isa, Plato, Socrates, dan Aristoteles, serta menjaga jarak dari Islam dan Kristen yang mereka anggap mempraktikkan bid’ah.

Yaron Friedman, seorang pengamat hubungan antar-agama di Timur Tengah, tidak sependapat bahwa Kaum Alawi tidak memandang diri mereka sebagai Muslim bahkan mengatakan, dalam periode modern ini terlihat telah terjadi perubahan definisi ‘Alawi dan sikap mereka dalam dunia Islam.

Dalam upaya mengakhiri isolasi berlarut-larut, nama sekte tersebut diganti pada 1920-an dari Nusayriyah kepada Alawiyah’. Dengan mengambil langkah tersebut, para pemimpin sekte ini ingin mengungkapkan, hubungan mereka bukan hanya dengan Syiah, tapi juga dengan Islam pada umumnya.

Tapi perubahan sangat drastis terhadap sekte ini terjadi sejak masa 1970-an menyusul pengambilan kekuasaan oleh Hafez Al Assad di negeri itu pada 1970.

Assad, mengikuti ideologi Ba’athisme, sebuah ideologi yang sangat mengagungkan semua yang berbau ke-Arab-an dan sangat anti zionisme tersebut, memaksa dilakukan perombakan total sekte ini, terutama dalam tata cara peribadatan. Ia mendorong sejumlah ulama, baik Suni dan Syiah untuk berdakwah di kalangan Alawi di Latakia.

Peter Theo Curtis, pengamat Suriah, menyebutkan, sekte Alawi dalam proses “Sunifikasi” besar-besaran di bawah Hafez Al Assad, seorang Alawi kelahiran Latakia. Dengan demikian, lanjut Curtis, sekte Alawi ini menjadi tidak Syiah lagi tapi benar-benar Suni sekarang. Segala bentuk manisfestasi publik atau bahkan menyebut aktivitas Alawi, di bawah Assad, dilarang.

Jika dahulu awal kemerdekaan dan masa kolonial Prancis, ada organisasi keagamaan Alawi, atau pembentukan dewan keagamaan bersatu, dan pimpinan majelis tinggi Alawi, maka di masa Assad semua hilang. Masjid “gaya Suni” dibangun di setiap perkampungan Alawi, dan penganut sekte ini didorong makin banyak yang naik haji.

Di bawah Assad, menteri waqaf harus Suni. Menteri waqaf ini mengangkat dan menggaji imam masjid, dan mengawasi semua lembaga Islam dan lembaga pendidikan Islam di Suriah. Kini tidak ada lemabaga Islam dan lembaga pendidikan Islam yang tidak dipimpin oleh orang Suni. ***

T. Taufiqulhadi, Anggota Komisi III DPR-RI dan sekarang sedang menyelesaikan disertasi dengan tema “Perang Suriah” di Universitas Padjajaran.

Redaksi menerima tulisan opini dengan tema tidak mengandung SARA dan memperkukuh tegaknya kedaulatan bangsa. Kirim ke editorcendana@gmail.com

Baca Juga
Lihat juga...