banner lebaran

Ayo Inklusif! Berikan Kesempatan Bekerja Bagi Pemuda Difabel

Editor: Mahadeva WS

263
Project manajer Ayo Inklusif, Hariatni Novitasari – Foto: Agus Nurchaliq

MALANG – Masih banyak masyarakat yang  memberikan anggapan negatif kepada kaum difabel. Mereka dianggap sebagai kelompok masyarakat yang tidak dapat produktif di dunia kerja.

Anggapan tersebut membuat mereka akhirnya sulit mendapatkan kesempatan bekerja. Dilatabelakangi permasalahan tersebut, muncullah sebuah project ‘Ayo Inklusif!’ yang  dilaksanakan oleh konsorsium dari beberapa lembaga yang bertujuan memberikan kesempatan bagi kaum Difabel untuk mengakses dunia kerja.

“Project Ayo Inklusift! Ini menyasar pemuda Difabel usia 18-34 tahun yang miskin dan rentan. Karena kebanyakan persoalan yang dihadapi oleh pemuda Difabel sebenarnya lebih besar dibandingkan dengan pemuda miskin rentan tapi tidak Difabel, mulai dari akses pekerjaan maupun pendidikan,” jelas project manajer Ayo Inklusif, Hariatni Novitasari, di sela acara Local Media Orientation For Journalists di Swiss-Belinn hotel, Jumat (23/3/2018).

Fokus dari Ayo Inklusif! adalah membekali keterampilan pemuda difabel. Upaya tersebut dilakukan dengan mengikutkan mereka dalam beberapa rangkaian pelatihan mulai dari kemah pemuda, pelatihan softskill dan hardskill hingga mengikuti magang di sebuah perusahaan.

Hingga saat ini tercatat sudah ada 50 orang pemuda yang sudah berkomitmen mengikuti Project Ayo Inklusift!. “Untuk tahapan awal di Surabaya sudah kita mulai dengan kemah pemuda dengan mengundang 25 orang pemuda. Kemudian nanti 25 orang lagi pada awal bulan April akan mengikuti kemah pemuda di Malang,” tambah Hariani.

50 pemuda difabel yang menjadi peserta dipilih melalui proses recruitment dan penyaringan terhadap 200 orang pendaftar. Mereka yang terpilih adalah pemuda difabel yang berkomitmen tinggi, tidak bekerja dan tidak sedang dalam menempuh pendidikan.

“Melalui serial pelatihan ini kita mengharapkan agar pemuda Difabel bisa lebih siap, mereka punya softskill dan hardskill . sekaligus mereka juga punya kesempatan magang sehingga memiliki kesempatan untuk merasakan bagaimana caranya bekerja dengan magang,” jelasnya.

Selain itu pemuda difabel disebut Hariani, sering mengalami rasa kurang percaya diri. Dengan pelatihan yang diikuti, akan membantu untuk mengurangi persoalan tersebut.

Salah satu pemuda difabel Cucu Saidah mengatakan, selama ini banyak konsep atau model yang mendasari seseorang dianggap sebagai Difabel. Mulai dari model yang dipengaruhi oleh budaya, medis, sosial, dan hak asasi manusia.

Menurut pengguna kursi roda tersebut, cara berfikir yang dipengaruhi oleh budaya sering kali memunculkan anggapan negatif di tengah masyarakat. Difabel dianggap sebagai hasil dari perbuatan dosa orang tua. “Pemikiran semacam ini  tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi juga di berbagai negara,” ucapnya.

Selanjutnya adalah pemikiran cara  medis, model ini melihat kondisi individu difabel. Fokusnya tidak pada manusianya secara utuh tapi lebih kepada kondisi fisik. Model pemikiran tersebut muncul pada masa perang dunia, dimana orang-orang yang menjadi korban perang dan kehilangan kaki atau bagian badan lainnya dianggap tidak normal dan dianggap orang sakit yang kemudian harus disembuhkan dan dinormalkan.

Sehingga yang melatarelakangi pemikiran medis lebih kepada gangguan fungsi tubuh yang membuat seseorang tidak bisa bersosialisasi dan tidak bisa hidup secara normal. Selanjutnya adalah konsep disabilitas atau difabel, yaitu anggapan bahwa disabilitas merupakan hasil dari interaksi kondisi individu dengan lingkungannya.

Lingkungan terdiri dari banyak faktor, ada lingkungan fisik seperti sarana dan bangunan publik, perilaku dari masyarakat, kemudian ada juga sistem yang berlaku dan perudang-undangan yang ada. “Hasil interaksi itulah yang kemudian menjadikan seseorang menjadi disabilitas atau difabel,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.