Banjir Sebabkan 15 Hektare Padi Sawah di Lampung, Puso

226
Ilustrasi -Dok: CDN

WAYKANAN – Kepala Dinas Pertanian, Hortikultura dan Peternakan, Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung, Maulana Muhidan, mengatakan, 1.043,5 hektare padi sawah di daerahnya terendam banjir.

“Kami bersyukur walaupun sawah yang terendam banjir cukup luas tapi yang puso hanya 15 hektare, lainnya masih aman,” katanya, ketika ditemui di Waykanan, Rabu (7/3/2018).

Akhir Februari lalu, sejumlah wilayah di Kabupaten Waykanan dilanda banjir akibat meluapnya sungai-sungai setempat, sehingga merendam sejumlah sawah yang ditanami padi di sejumlah kecamatan.

Maulana menjelaskan, lahan sawah yang terendam banjir itu terdapat di tujuh kecamatan dan 28 kampung.

Berdasarkan data, lahan pertanian yang paling banyak terendam banjir berada di Kampung Rumbih, yaitu 180 ha, Karta Jaya 165 ha, Tulangbawang 107 ha, Negara Mulya 100 ha, Negara Batin 80 ha dan Kampung Way Tuba Asri 60 ha.

Selain itu, masih banyak lahan pertanian sawah yang terendam banjir di beberapa kampung lainnya dengan luasan rata-rata 15-40 ha.

Selain lahan padi, banjir juga merendam 250 ha lahan jagung, 75 ha lahan kedelai dan 58 ha lahan ubi kayu (singkong) milik masyarakat. “Ada tujuh kecamatan yang terdampak banjir yang ikut merendam lahan pertanian padi, jagung kedelai dan singkong,” katanya.

Terpisah, Bupati Waykanan, Raden Adipati Surya, mengatakan, para petani padi sudah seharusnya segera mengurus asuransi usaha tani padi untuk mengantisipasi kerugian tanamam pertanian akibat gagal panen yang disebabkan bencana alam, khususnya banjir dan angin kencang.

“Dalam situasi yang rentan terjadi cuaca ekstrem seharusnya menjadi momentum untuk mengurus asuransi tani,” kata Adipati yang ditemui di kantornya.

Bupati mengatakan, untuk mendapatkan asuransi usaha tani padi (AUTP), para petani harus memastikan terlebih dahulu tergabung dalam kelompok tani, setelah itu akan dibimbing oleh tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL).

AUTP layak diikuti oleh seluruh petani di Waykanan, selain untuk mengantisipasi kerugian akibat gagal panen, premi asuransi itu juga masih mendapatkan subsidi dari pemerintah mencapai 80 persen dari total premi yang harus dibayar.

“Jadi, murah sekali, petani cukup membayar premi Rp36 ribu untuk setiap kali musim tanam. Selanjutnya jika mengalami gagal panen mereka bisa mendapat pertanggungan mencapai Rp6 juta/ha,” katanya.

Meski saat ini masih dilakukan pendataan jumlah petani yang telah mengikuti asuransi, tapi Adipati mengakui masih banyak petani yang belum mendaftar fasilitas itu.

Meski demikian, Pemkab Waykanan berencana memberikan bantuan dalam bentuk benih padi.

Akhir Maret lalu, banjir melanda puluhan kampung di 14 kecamatan di Waykanan dan sebanyak 1.500 KK terdampak banjir akibat meluapnya Sungai Way Umpu dan Sungai Waykanan.

Wakil Bupati Waykanan Edward Antony akibat banjir tersebut kerugian diperkirakan menimbulkan kerugian mencapai Rp50 miliar, karena telah merusak bangunan rumah warga, sarana umum seperti jalan dan jembatan. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...