Bank Sampah Flores Latih Pemulung Daur Ulang Plastik

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

497

MAUMERE — Mendaur ulang sampah plastik dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi pemulung. Jika dibandingkan dengan dijual langsung yang tidak seberapa, sampah yang diolah dengan baik akan menjadi penghasilan yang lebih menjanjikan.

“Pelatihan daur ulang sampah kami lakukan agar para pemulung di sela-sela waktu luang menunggu mobil sampah datang dan membuang sampah bisa mengolah sampah plastik yang dikumpulkan menjadi barang yang bisa dijual,” tutur Wenefrida Efodia Susilowati, Rabu (7/3/2018).

Saat ditemui Cendana News, Direktur Bank Sampah Flores ini mengatakan,dalam pelatihan yang diadakan ini, sebanyak 20 orang pemulung yang saban hari bertugas di TPA Wairii diajari cara membuat piring, keranjang sampah, tas hingga bata plastik.

“Kami sedih melihat kondisi pendapatan mereka yang tidak sebanding dengan pekerjaan yang dilakoni. Mereka bergelut dengan sampah setiap hari yang membuat mereka sangat rentan terkena penyakit,” tuturnya.

daur ulang sampah
Direktur Bank Sampah Flores Wenefrida Efodia Susilowati. Foto : Ebed de Rosary

Seminggu sekali terang Susi sapaannya, para pemulung menjual besi yang dikumpulkan dan bisa mendapat uang 30 sampai 50 ribu rupiah. Sementara untuk botol dan gelas plastik dalam sebulan bisa mendapatkan penghasilan 150 sampai 200 ribu rupiah.

“Kalau hanya menjual sampah plastiknya tentu uang yang didapat juga sedikit sementara kalau sudah di daur ulang harga jual produknya lebih mahal dan para pemulung ini pun bisa mendapatkan tambahan penghasilan,” sebutnya.

Fr. Nikolaus Jata, O.Carm salah seorang relawan yang ikut mendampingi dan memberikan pelatihan mengatakan, pada dasarnya keterlibatan dari mahasiswa STFK Ledalero dalam kegiatan Bank Sampah Flores untuk menyelami seluk beluk kehidupan dari kelompok bank sampah dalam segala kegiatan dan rutinitasnya.

“Biasanya kami terlibat bersama pada setiap hari Sabtu, dan juga hari lain jika diperlukan pihak Bank Sampah Flores. Kegiatan yang sempat kami jalani bersama adalah pelatihan-pelatihan keterampilan kepada sejumlah pihak,” jelasnya.

Saat melatih para pemulung di TPA, Wairii, sambung Nikolaus, selain pembuatan produk daur ulang dari sampah plastik, juga diajarkan tentang pembuatan pupuk dari sampah organik. Para pemulung pun sebelumnya diberikan teori terkait pengetahuan tentang dampak dari sampah plastik dan kebiasaan membuang sampah sembarangan.

“Bagi saya, adanya pelatihan keterampilan itu akan membantu mengembangkan kreatifitas. Salah satu masalah utama adalah lemahnya kreatifitas. Dengan terus mengembangkan sejumlah keterampilan dan kreatifitas seperti itu, tentu akan membantu kehidupan ekonomi masyarakat kita,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...