banner lebaran

Batavia Fanfare Tribute to Benyamin Sueb

Editor: Mahadeva WS

245
Panitia Konser Musik Batavia Fanfare Tribute To Benyamin Sueb, usai pemaparan konsep dan tujuan konser di Perguruan Cikini, Senin (12/3/2018) - foto M.Fahrizal

JAKARTA – Pada tahun 1980-an, masyarakat Indonesia masih bisa dengan mudah mendengarkan dan menyaksikan pementasan seni music khas betawi, gambang kromong atau cerita rakyat Bang Zaid melalui radio. Demikian juga dengan masyarakat Jawa yang masih menggelar Wayang Kulit dalam setiap acara hajatan sunatan dan pernikahan.

Kini hal tersebut sudah semakin sulit dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak faktor yang menyebabkan pementasan kesenian daerah sudah semakin jarang dijumpai. Salahsatunya masuknya budaya barat yang begitu deras, proteksi pemerintah dan masyarakat terhadap seni dan budaya daerah Indonesia yang tidak terlalu besar, serta kurangnya kreatifitas para seniman dalam mengemas seni pertunjukan.

“Kondisi-kondisi tersebut, mengakibatkan generasi muda tidak lagi berminat untuk menonton apalagi mendalami seni budaya Indonesia,” Ketua Pelaksana pagelaran konser music Batavia Fanfare Tribute to Benyamin Sueb, Merwyn Nainggolan, Senin (12/3/2018).

Merwyn menambahkan, salah satu jenis kesenian rakyat yang terkikis zaman adalah musik Gambang Kromong dan Tanjidor. Kesenian khas budaya betawi tersebut di 1975-an masih sering berkumandang disetiap pelosok Jakarta. Salah satu tokoh senimanya adalah Benyamin Sueb.

“Misi diadakannya konser ini adalah dalam rangka upaya pelestarian kebudayaan Betawi, sekaligus mengenang seniman besar Betawi Benyamin Sueb. Melalui pertunjukan dan permainan music secara orchestra yang dibawakan oleh murid-murid dan alumni SMK Musik Perguruan Cikini, serta paduan suara anak-anak SD,”tambahnya.

Tujuan penyelenggaraan konser Tribute to Benyamin adalah membangkitkan kembali khazanah music betawi. Konsep pementasan dilakukan dengan garapan musik berbagai bentuk, baik kolaborasi dengan sentuhan konten musik yang kekinian maupun bentuk aslinya.

Tidak hanya itu, konser ini juga bertujuan memperkenalkan seni budaya betawi kepada kaum generasi muda, agar mereka mendapatkan wawasan sekaligus kesadaran akan pentingnya kekayaan budaya daerah sebagai salah satu kekayaan bangsa Indonesia.

“Konser akan diadakan pada bulan April tepatnya tanggal 18 di Gedung Kesenian Jakarta. Sebelum acara berlangsung akan banyak penampilan kesenian betawi hingga jajanan betawi di areal sekitar gedung,” tambahnya.

Music Direktor konser Batavia Fanfare Tribute to Benyamin Sueb Hari Poerwanto mengatakan, konser akan melibatkan sekira 200 pelajar Perguruan Cikini dari tingkat SD hingga SMA serta Alumni sekolah tersebut. Ada dua tema yang tidak dapat dipisahkan dalam konser tersebut, yaitu Batavia Fanfare dan Tribute to Benyamin Sueb.

Untuk Batavia Fanfare sendiri akan menampilkan lagu-lagu betawi seperti surilang dan jali-jali. Konsep garapan musiknya lebih kekinian dengan tidak meninggalkan pakem-pakem yang sudah ada pada lagu-lagu tersebut. Yang special tentunya lagu-lagu karya Benyamin Sueb. Penggarapannya dibagi 3 jenis yang pertama gambang kromong dengan lagu hits hujan gerimis, sang bango, dan ondel-ondel.

Konsep yang kedua adalah musik orkes yang tidak menggunakan gambang kromong. Lagu-lagunya seperti keroncong kemayoran. Kemudian konsep ketiga adalah kolaborasi kedua jenis musik tersebut (gambang kromong dan orkes) dalam satu panggung.

“Persiapan latihan untuk konser ini sejak awal tahun, dan di bulan Februari mulai inten. Anak-anak sangat menikmati dalam latihan, terlebih yang mereka bawakan merupakan lagu-lagu hits dari Benyamin S yang awalnya terasa asing bagi mereka namun setelah beberapa kali dimainkan mereka justru menyukai,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.